Berita

Hilangnya lahan gambut mengemisi karbon senilai 2.800 tahun dalam sekejap mata: Riset

Akibat konversi kelapa sawit, 3.300 ton karbon per hektar lahan gambut pesisir Indonesia, hingga separuhnya dilepaskan ke atmosfer selama 100 tahun ini setara dengan 2.800 tahun nilai akumulasi karbon.
Bagikan
0
Lahan gundul di sebuah perkebunan sawit di rawa gambut provinsi Aceh. Rawa gambut tropis di Indonesia menyimpan karbon dalam jumlah besar. Dita Alangkara/CIFOR
Lahan gundul di sebuah perkebunan sawit di rawa gambut provinsi Aceh. Rawa gambut tropis di Indonesia menyimpan karbon dalam jumlah besar. Dita Alangkara/CIFOR

Paling popular

Indonesia - BOGOR, Indonesia — Ilmuwan memonitor akumulasi di hutan lahan gambut Indonesia selama ribuan tahun memprediksikan bahwa jutaan ton karbon dioksida bisa dilepaskan ke atmosfer jika lahan ini terus digunduli, dikeringkan dan dibakar untuk perkebunan sawit dan pertanian.

“Rawa gambut Indonesia berevolusi selama ribuan tahun untuk menciptakan sistem penyimpanan sempurna untuk mengunci karbon dioksida berkontribusi pada perubahan iklim,” kata Sofyan Kurnianto, peneliti muda Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan penulis utama sebuah penelitian baru.

Perlu ribuan tahun untuk mendapatkan kembali karbon yang hilang akibat konversi

“Tetapi baru sekarang kita mulai memahami besarnya emisi yang dilepaskan ketika lahan gambut digunduli dan dibakar untuk pertanian atau sawit.”

Sementara para peneliti memiliki pemahaman mendalam tentang potensi penyimpanan karbon hutan lahan gambut tropis — bahwa lahan ini menyimpan lima kali lipat lebih banyak karbon daripada hutan tropis dan menyumbangkan sepertiga simpanan karbon total dunia — sedikit diketahui mengenai jumlah karbon yang disimpan dalam tanahnya dan dampaknya pada praktik penggunaan lahan tak berkelanjutan.

Lebih dari 100.000 hektar hutan lahan gambut rusak setiap tahun untuk perkebunan sawit dan pertanian. Ketika rawa gambut dikeringkan, dikonversi, dan dibakar, sejumlah besar karbon tersimpan dilepaskan ke atmosfer.

MENJELASKAN DENGAN ANGKA

Sebuah laporan 2010 menyatakan bahwa 85 persen emisi gas rumah kaca dihasilkan dari aktivitas penggunaan lahan, dengan 37 persen akibat deforestasi dan 27 persen dari kebakaran gambut.

Penelitian baru CIFOR adalah yang pertama menggunakan model gambut Holocen untuk menggabungkan data yang ada mengenai jenis vegetasi, kecepatan dekomposisi serasah dan tabel kedalaman air yang ada di area pesisir dan daratan lahan gambut Indonesia untuk mengestimasi jumlah karbon yang terakumulasi selama periode 11.000 tahun dan 5.000 tahun.

Model ini sebelumnya digunakan untuk menyusun sejumlah skenario untuk memprediksi dampak masa depan penggundulan hutan dan pembakaran lahan gambut untuk konversi sawit.

Ditemukan bahwa 3.300 ton karbon per hektar tersimpan dalam area lahan gambut pesisir Indonesia, hingga separuhnya dilepaskan ke atmosfer selama 100 tahun menyusul konversi ke perkebunan sawit — setara dengan 2.800 tahun nilai akumulasi karbon

“Apa yang mengejutkan adalah betapa lambatnya proses akumulasi karbon dan pertumbuhan tanah gambut sebenarnya, tetapi ketika kita mengganggu sistem ini melalui aktivitas manusia, karbon dioksida dilepaskan dengan sangat cepat,” kata Daniel Murdiyarso, peneliti senior CIFOR dan salah satu penulis laporan ini.

Dari data lain, dalam setahun lebih dari 2.300 hektar hutan lahan gambut pesisir alami —setara dengan 3.200 lapangan sepak bola —diperlukan untuk menyerap jumlah setara karbon yang hilang selama 100 tahun dari satu hektar hutan terkonversi.

Ilmuwan berharap mengembangkan model untuk mengestimasi emisi metan dan karbon yang hilang dalam limpasan drainase, yang bisa meningkatkan estimasi kehilangan karbon hingga 20 persen.

PERHITUNGAN KARBON UNTUK REDD+

Penelitian menyoroti perlunya upaya global mengurangi emisi akibat deforestasi dan degradasi hutan (seperti dalam inisiatif REDD+) untuk mempertimbangkan emisi karbon akibat perubahan praktik penggunaan lahan dan tantangan reforestasi dan restorasi lahan gambut tropis terdegradasi.

“Ekosistem lahan gambut tropis sangat asam dan memiliki lebih sedikit nutrisi daripada lahan gambut utara, jadi jika kesimbangan pH terganggu, sangat sulit direstorasi,” kata Kurnianto.

“Perlu ribuan tahun untuk mendapatkan kembali karbon yang hilang akibat konversi.”

Pemerintah Indonesia baru-baru ini menyetujui perjanjian untuk mengurangi polusi asap kebakaran lahan gambut. Ini terjadi setelah sejumlah kebakaran terjadi di provinsi Riau, Sumatra, mencatat rekor tertinggi pada 2013. Bagaimanapun, peraturan perundang-undangan baru perlu diperkuat jika Indonesia ingin memenuhi komitmen global mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 26 persen pada 2020.

Penelitian CIFOR sebelumnya menemukan bahwa pada 2012, kebakaran hutan di provinsi Riau melepaskan emisi karbon antara 1,5 miliar dan 2 miliar ton hanya dalam satu pekan — mencapai 10 persen emisi tahunan total Indonesia.

“Mencegah kehilangan emisi melalui preservasi lahan gambut dan praktik tata kelola lahan lebih baik jauh lebih baik daripada mengobati,” kata Sofyan.

“Harapannya penelitian ini akan berkontribusi pada berkembangnya kesadaran pemerintah dan masyarakat lokal mengenai pentingnya konservasi lahan gambut bagi sistem iklim global.”

Untuk informasi lebih mengenai penelitian ini, silahkan hubungi Daniel Murdiyarso di d.murdiyarso@cgiar.org.

(Visited 783 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi Kebakaran hutan & lahan Gambut dan Mangrove