Video T&J

Untuk melindungi lahan basah, cobalah manfaatkan perangkat ilmu Anda

Masuklah ke kotak ilmu pengetahuan SWAMP. Berbagai pendekatan adaptasi dan mitigasi yang dapat dikembangkan di lahan basah tersedia.
Bagikan
0
Hutan mangrove di Bali, Indonesia. Sampai dengan 50 persen mangrove dunia telah musnah selama setengah abad lampau. Foto: Aulia Erlangga/CIFOR
Hutan mangrove di Bali, Indonesia. Sampai dengan 50 persen mangrove dunia telah musnah selama setengah abad lampau. Foto: Aulia Erlangga/CIFOR

Paling popular

Indonesia - BOGOR, Indonesia — Para pembuat kebijakan dan praktisi baru saja menemukan upaya baru untuk melindungi lahan basah tropis dari perusakan dan degradasi.

Atau tepatnya, satu kotak utuh ilmu pengetahuan.

Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) meluncurkan sebuah paket pembelajaran Program Lestari dalam Kerangka Adaptasi dan Mitigasi Lahan Basah (SWAMP), sebuah riset yang bertujuan memberikan informasi bagi para pembuat kebijakan akan peran penting lahan basah tropis sebagai bagian strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Lahan basah tropis: Mangrove dan lahan gambut dalam bahaya

  • Berita terkini, penelitian dan analisa lahan basah dan perubahan iklim, kunjungi cifor.org/wetlands

Pentingnya melestarikan lahan basah — mangrove dan lahan gambut –semakin bertambah jelas. Lahan basah menyimpan jumlah karbon yang melimpah. Lahan basah melindungi garis-garis pantai dan satwa liar. Lahan basah merupakan sumber makanan dan air untuk manusia.

Dan saat ini lahan basah menuju masa kepunahan dengan kecepatan tinggi.

Indonesia, rumah untuk sebagian besar hutan mangrove, telah kehilangan lebih dari 26 persen mangrove sejak 1980 — yang setara dengan kehilangan wilayah seluas Kota New York City setiap 18 bulan.

Sementara itu, lebih dari 100.000 hektar hutan gambut dirusak setiap tahunnya untuk perkebunan kelapa sawit dan pertanian. Sebuah studi menemukan, 3.300 ton karbon per hektar yang tersimpan di daerah-daerah gambut pantai, sampai setengahnya akan dilepaskan ke atmosfer dalam rentang 100 tahun setelah konversi menjadi perkebunan kelapa sawit — ini setara dengan akumulasi karbon selama 2.800 tahun.

Dari mana dapat memulai tugas berat untuk mengumpulkan bukti — dan mereka-reka kebijakan — untuk melindungi tempat-tempat ini?

Masuklah ke kotak ilmu pengetahuan SWAMP. Serangkaian presentasi daring (online) dapat diunduh dari internet, berisi pengetahuan tentang perubahan iklim, ekosistem lahan basah dan bagaimana berbagai pendekatan adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim dapat dikembangkan di ekosistem lahan basah. Perangkat pengetahuan ini mencakup perspektif global, nasional dan lokal serta dapat digunakan sebagai  panduan pelatihan dan pendidikan bagi akademisi, pembuat kebijakan dan praktisi. Kotak ilmu pengetahuan ini adalah yang terbaru di antara serangkaian inisiatif pembangunan kapasitas dalam SWAMP, yang telah melatih 300 orang di 25 negara di lokasi program dilaksanakan.

Kabar Hutan berkesempatan berbincang dengan Daniel Murdiyarso, kepala riset SWAMP untuk mengetahui lebih jauh tentang program dan bagaimana perangkat ilmu pengetahuan ini dapat digunakan. Transkrip wawancara yang telah disunting dapat dillihat dalam rekaman video di bawah ini.

Pertanyaan: Apakah proyek SWAMP itu?

Jawaban: SWAMP merupakan riset kolaboratif antara CIFOR, Departemen Kehutanan AS dan Oregon State University. Program ini telah dikembangkan lima atau enam tahun lalu ketika kami berusaha melakukan pendekatan dan bekerja bersama-sama dengan para pembuat kebijakan para praktisi. Kami menyadari adanya kebutuhan akan perlunya peningkatan wawasan mereka untuk memahami seluk beluk lahan basah, terkait dengan perubahan iklim.

T:  Apa sasaran yang ingin dituju oleh SWAMP?

J: Kami mencoba meningkatkan kecakapan para pembuat kebijakan, terutama dengan menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang lahan basah. Bekerja dengan komunitas ilmiah untuk mengembangkan dan membangun kapasitas mereka dalam menilai stok karbon, dampak perubahan iklim, dan juga berbagai implikasi dari naiknya permukaan air laut.

T: Mengapa lahan basah sangat penting untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim?

J: Lahan basah dikenal sebagai memiliki penyimpanan karbon sangat besar. Jadi, penting untuk menggunakan ekosistem sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Tetapi, pada waktu yang sama, lahan basah – khususnya hutan lahan basah – tengah terjadi laju deforestasi tinggi. Sehingga penyimpanan karbon di ekosistem ini dalam keadaan terancam.

T: Apakah kotak ilmu pengetahuan SWAMP itu?

J: Kotak ilmu pengetahuan SWAMP [terdiri dari] materi – materi pembelajaran yang dapat membantu para pemangku kepentingan memahami perubahan iklim, pentingnya lahan basah, dan juga penerapannya dalam pengertian pengembangan berbagai proyek di lahan-lahan basah. Kotak ilmu pengetahuan ini dapat digunakan sebagai materi mengajar, jadi siapa pun dapat melihatnya di situs kami dan mengunduhnya. Tetapi ada juga jenis-jenis materi untuk pembelajaran-sendiri, atau seseorang dapat mempelajari bagaimana cara penggunaan kotak ilmu pengetahuan tersebut dan apa yang dicakupnya dari situs web. Para pengguna utama dari kotak ilmu pengetahuan tersebut adalah mereka yang berhubungan dengan pembangunan kapasitas dan pelatihan.

T: Bagaimana para praktisi dapat mengambil manfaat dari penggunaan kotak ilmu pengetahuan ini?

J: Dalam kotak ilmu pengetahuan tersebut ada sejumlah prinsip terkait dengan pentingnya lahan basah dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Jadi, para praktisi dapat menggunakannya sebagai informasi latar belakang untuk mengembangkan berbagai proyek karbon di lahan basah.  Eksosistem lahan basah secara khusus penting untuk Indonesia, karena sebagian besar lahan basah-yaitu lahan gambut dan mangrove-terdapat di sini. Jadi, sangat strategis untuk mengembangkan dan melestarikan lahan-lahan basah kita untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Kunjungi Kotak Ilmu Pengetahuan SWAMP Toolbox di www.cifor.org/swamp-toolbox. Untuk informasi lebih lanjut mengenai SWAMP, hubungi Daniel Murdiyarso di d.murdiyarso@cgiar.org.

(Visited 204 times, 1 visits today)
Topik :   Gambut dan Mangrove