Berita

Peneliti menelaah referensi dan makna ‘Pendekatan Bentang Alam”

Kita perlu melihat lebih dari sekadar nama untuk mencoba memahami berbagai pendekatan dan belajar dari keberhasilan atau kegagalan.
Bagikan
0
Pendekatan bentang alam seharusnya dirancang untuk membebaskan penghalang antara batas –batas ekologi, pertanian dan sosial dalam  kebijakan pemanfaatan lahan. Aulia Erlangga/CIFOR
Pendekatan bentang alam seharusnya dirancang untuk membebaskan penghalang antara batas –batas ekologi, pertanian dan sosial dalam kebijakan pemanfaatan lahan. Aulia Erlangga/CIFOR

Paling popular

BOGOR, Indonesia — Walaupun pola pikir pemanfaatan lahan makin penting, entah mengapa secara praktis, ternyata sulit untuk didefinisikan.

Ini saat tepat, mulai mengiring fokus yang  semakin tajam, pada saat para ilmuwan mulai mengangkat tirai “pendekatan bentang alam” menuju tata kelola lahan.

Frasa ini memiliki definisi beragam, tetapi secara luas menjelaskan cara pandang holistik terhadap rebutan pemanfaatan lahan dalam wilayah tertentu. Pendekatan bentang alam dirancang untuk membebaskan penghalang antara batas –batas ekologi, pertanian dan sosial dalam penelitian dan kebijakan pemanfaatan lahan. Istilah ini terombang-ambing dalam lingkaran pembangunan selama bertahun-tahun namun tersembunyi dari popularitas lebih luas, sebagian karena kurangnya kesepakatan universal mengenai apa makna sebenarnya — dan juga karena tumpeng tindih makna persepsi (atau melampaui) istilah lain yang ada.

Apakah ini “pendekatan ekosistem,” atau lebih dekat ke “tata kelola daerah aliran sungai terintegrasi”? Pentingkah ini?

“Menjadi penting memandang lebih dari sekadar label untuk mencoba memahami tumpang tindih antara berbagai pendekatan dan belajar dari keberhasilan dan kegagalan intervensi yang telah dilakukan,” kata James Reed, mitra peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

Pada titik ini, penelitian EcoAgriculture Partners menghimpun 78 istilah berbeda yang secara luas bisa diinterpretasikan serupa “pendekatan bentang alam.”

Menjadi penting melihat lebih dari sekadar label untuk coba memahami tumpang tindih keragaman pendekatan dan belajar dari keberhasilan serta kegagalan intervensi sebelumnya

“Baru-baru ini saya menemukan referensi ‘pendekatan nexus’ dan sadar ini jelas pendekatan bentang alam, tetapi dikemas berbeda – yang bisa menjadi masalah bagi ilmuwan ketika mencoba menyampaikan pesan koheren dan seragam kepada pembuat kebijakan dan praktisi bentang alam,” kata Reed.

Sejauh ini, dalam kajian sistematis CIFOR, 14.000 artikel literatur peer-review telah dikaji judul, abstrak dan teksnya, serta dipersempit menjadi 100 yang relevan. Kemudian dilakukan kajian terhadap literatur akademik abu-abu (dipublikasikan secara informal). James Reed masih menunggu pengajuan artikel belum terpublikasi atau non-peer-review dan dokumen proyek pendekatan bentang alam di wilayah tropis manapun sebagai upaya inklusi kajian.

Dalam upaya membangun rujukan solid kajian skala – bentang alam, peneliti dapat membatasi luasan materi yang sesuai dengan rujukan definisi medan baru ini. Walaupun mereka mengatakan lebih suka kajian sistematis, mendiskusikan rencana dengan ilmuwan dan praktisi lain di konferensi internasional dalam rangka menetapkan kriteria obyektif pemilihan materi.

Tentu saja, untuk menghindari kebingungan, mereka harus memeriksa pekerjaan rekannya demi  menjamin mereka secara konsisten menerapkan aturan serupa.

Beberapa kendala tidak bisa dihindari: karena mereka hanya punya waktu menilai materi berbahasa Inggris, James Reed dan mitranya kehilangan publikasi berbahasa Spanyol dari Amerika Latin dan berbahasa Prancis dari Afrika Barat dan Tengah, misalnya.

Ini terbukti dalam peta buatan mereka yang merujuk publikasi terfokus wilayah geografis tertentu: Titik terbanyak muncul di Afrika Timur berbahasa Inggris.

Tetapi peta juga menunjukkan bagaimana masyarakat ilmu pengetahuan telah melihat pendekatan bentang alam. “Kami menemukan hanya sekitar 30 studi kasus dalam literatur telah di peer-review, dan kami penasaran apakah literatur abu-abu akan mengungkap lebih,” kata Reed. “Materi yang telah di-peer-review lebih teoritis, dan proyek mungkin lebih terdokumentasi dalam laporan lapangan dll.”

Sebagai tambahan peta geografis, tim CIFOR akan membuat peta konseptual pendekatan bentang alam. Ini akan memasukkan basis data on-line semua materi yang telah mereka rekam dan analisis aspek yang telah dieksplorasi, serta yang mungkin tertinggal.

“Ini akan mengambil bentuk yang sama dengan analisis jejaring sosial, dengan lingkaran kecil dan besar di atas kertas: lingkaran besar, lebih akan bertumpang tindih, sementara lingkaran kecil meninggalkan celah,” tambah Reed.

Dengan sedikitnya lima tujuan kunci SDG menunjukkan tumpang tindih nyata dengan hasil yang diharapkan pendekatan bentang alam, muncul kebutuhan mensintesa bukti yang ada berbasis pendekatan bentang alam

Hasil kajian sistematis akan dipublikasikan Juni 2015 sebagai masukan debat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa Bangsa (SDGs), yang akan mengganti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dalam memandu kebijakan pembangunan tahun-tahun mendatang.

Protokol tersebut mengatur catatan proyek: “Dengan sedikitnya lima tujuan kunci SDG (mengakhiri kelaparan; mengamankan air; mendorong pertumbuhan ekonomi kuat, inklusif dan berkelanjutan; mengatasi perubahan iklim; melindung dan meningkatkan sumber daya bumi) menunjukkan tumpang tindih nyata dengan hasil yang diharapkan pendekatan bentang alam.”

Kerja ini, bagaimana pun, tidak akan berakhir di sana. Tim peneliti berencana memuat alat yang dirancang bisa diakses peneliti lain yang terlibat dalam pendekatan bentang alam—termasuk pengguna bahasa lain.

Untuk informasi lebih kajian sistematis ini, silahkan hubungi James Reed di j.reed@cgiar.org atau Terry Sunderland di t.sunderland@cgiar.org.

Penelitian CIFOR mengenai pendekatan bentang alam merupakan bagian dari Program Penelitian CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri.

(Visited 269 times, 2 visits today)
Topik :   Tujuan Pembangunan Berkelanjutan