Liputan Khusus

Konferensi Bentang Alam Tropis: Mendorong arus dana dolar ke bisnis hijau

Dana tersedia banyak. Benarkah masalahnya ada di pemahaman bahwa iklim bukanlah risiko, bahwa keberlanjutan bukanlah risiko?
Bagikan
0
Investasi dalam pembangunan berkelanjutan tidak dapat ditunda, simak konferensi Bentang Alam Tropis. Foto dari shutterstock.com
Investasi dalam pembangunan berkelanjutan tidak dapat ditunda, simak konferensi Bentang Alam Tropis. Foto dari shutterstock.com

Paling popular

Indonesia - JAKARTA, Indonesia— Sebuah model bisnis hijau berkelanjutan dengan tingkat keuntungan jangka panjang : bagaimana menggabungkan dua masalah ini merupakan subjek dari diskusi berskala luas pada hari kedua di Tropical Landscapes Summit 2015.

Hasil dari konferensi adalah digaungkannya komitmen terhadap berbagai pendekatan berkelanjutan yang harus melibatkan investasi sektor swasta. Sebagaimana yang disampaikan oleh Mark Burrows, Managing Director & Vice Chairman dari korporasi finansial, Credit Suisse , “Dananya tersedia banyak; masalahnya ada di pemahaman bahwa iklim bukanlah risiko, bahwa keberlanjutan bukanlah risiko – ini adalah.”

Terlepas dari keyakinan Burrows, investasi dalam berbagai bisnis hijau – baik pertanian, teknologi, atau pariwisata – memang sering kali dipandang dengan keraguan dan kekhawatiran mengenai risiko dan laba.

Felipe Calderon, Ketua Global Commission of the Economy and the Climate (Komisi Ekonomi dan Iklim Global), dan Mantan Presiden Meksiko mengatakan bahwa ia memiliki sedikit kesabaran untuk sudut pandang ini.

“Kita harus menghentikan perdebatan yang membutakan ini yang telah kita alami selama 20 tahun terakhir,” katanya kepada peserta konferensi di Jakarta.

Sebagai Sekretaris Energi Meksiko tahun 2003 dan 2004, ia mengatakan bahwa energi terbarukan terlalu mahal, meskipun ia tahu bahwa “model energi sedang mencapai batasnya”.

Felipe Calderon adalah pengusul utama model ekonomi rendah karbon berdasarkan bahan bakar terbarukan dan investasi swasta dalam angin, sinar matahari dan energi bersih lainnya. Ia percaya bahwa pemerintahan harus menciptakan insentif untuk sektor swasta untuk mendorong transisi ke ekonomi rendah karbon sehingga menjadi sama efektif biayanya – atau bahkan lebih efektif biaya – dari energi fosil.

Hal ini merupakan situasi sulit untuk dipertimbangkan bagi Indonesia yang tengah menghadapi “dilema pembelanjaan jangka pendek versus jangka panjang,” menurut Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan.

Meskipun dia setuju dengan pandangan Felipe Calderon dan mengatakan bahwa Indonesia “ingin mengundang lebih banyak investasi dalam ekonomi hijau,” ia mengatakan juga bahwa Indonesia menghadapi banyak tantangan  pertumbuhan, pembangunan dan juga reformasi kebijakan. Ia menyebutkan pasokan air sebagai bidang yang menyambut investasi hijau, kecuali pada tingkat peraturan pemerintah daerah yang akan menghalangi investor mana pun untuk mendapat keuntungan.

Kurangnya penegakan hukum merupakan ancaman nyata bagi Indonesia. Resep untuk pengelolaan sumber daya yang baik adalah transparansi. Suatu pemerintah dapat memberikan pertanggungjawaban dan menjadikannya absah bagi publik.

Reformasi harus juga mencakup transparansi, karena pertanggungjawaban penting bagi para pihak yang berkomitmen pada investasi jangka panjang, ujar Kuntoro Mangkusubroto dari Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB di Jakarta. Ia memberikan contoh Taman Nasional Leuser, yang, menurutnya, telah “dirusak 20% karena pertambangan ilegal, pembalakan liar, kelapa sawit, dan masalah-masalah lain” tanpa ada yang bertanggung jawab atau diadili.

“Kurangnya penegakan hukum merupakan ancaman nyata bagi Indonesia,” ujarnya. “Resep untuk pengelolaan sumber daya yang baik adalah transparansi. Suatu pemerintah dapat memberikan pertanggungjawaban dan menjadikannya absah bagi publik. Insentif harus disediakan.”

Kuntoro mengatakan bersama dengan pertanggungjawaban ini, mereformasi “pola pikir” birokrasi merupakan hal penting ketika membicarakan kewirausahaan hijau.

Mencari jalan bagaimana sektor publik dapat mendukung perusahaan swasta merupakan bagian dari proses itu, menurut Peter Holmgren, Direktur Jenderal dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

“Kita harus memahami bagaimana menjemput risiko dan juga mendukung orang kecil,” ujarnya. “Tersedia peluang besar sebagai imbalan dalam investasi layanan publik.”

Melibatkan penduduk asli dan juga petani kecil dan usaha menengah merupakan hal penting dalam reformasi mana pun, semua anggota panel menyepakati.

“Ada pemain besar, tetapi juga ada pemain menengah dan kecil,” ujar Shinta Kamdani, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) dan PresidenDewan Bisnis Pembangunan Berkelanjutan Indonesia mengacu secara spesifik pada kelapa sawit. “Kita harus merangkul mereka semua, dan pemain lainnya dalam permainan ini.”

Ketika perusahaan-perusahaan besar tahun lalu membuat ikrar tentang kelapa sawit berkelanjutan, sekitar 40 persen produsen kelapa sawit adalah petani kecil. Peter Holmgren mengatakan bahwa para petani kecil tersebut merugi bila berbicara tentang modal dan investasi dalam keberlanjutan untuk jangka panjang.

Ada pemain besar, tetapi ada juga pemain menengah dan kecil. Kita harus merangkul mereka semua, dan pemain lainnya dalam permainan ini.

“Kita harus memastikan bahwa infrastrukturnya tersedia, dan bahwa transaksi keuangannya tidak rumit dan biayanya terlalu tinggi,” ujarnya pada hadirin konferensi. “Kita harus berpikir besar untuk dapat menolong yang kecil.”

Ketika Rachel Kyte, Wakil Presiden dan Utusan Khusus untuk Perubahan Iklim di Bank Dunia, naik ke podium, ia menampilkan gerakan dramatis dalam meringkaskan pidatonya.

“Saya setuju dengan semua yang telah disampaikan,” ia menyatakan. “Tidak ada waktu lagi selain sekarang. Bila kita tidak memecahkan persoalan investasi tahun ini, kita tidak akan memiliki kesempatan lain untuk tahun-tahun yang akan datang. Saatnya adalah tahun ini, saatnya harus sekarang.””

(Visited 118 times, 1 visits today)