Berita

Bagi hutan, pangan dan masa depan, semuanya tentang keanekaragaman hayati

Memusatkan penggunaan lahan pada satu spesies tanaman menyebabkan banyak satwa kehilangan sumber makanan dan akan musnah. Adakah solusinya?
Bagikan
0
Habitat yang bernilai konservasi tinggi penting bagi keberlangsungan harimau Sumatra, yang jumlahnya  kurang 500 ekor di alam liar. Kredit foto wikicommons
Habitat yang bernilai konservasi tinggi penting bagi keberlangsungan harimau Sumatra, yang jumlahnya kurang 500 ekor di alam liar. Kredit foto wikicommons

Paling popular

Indonesia - Hutan di Riau kaya dengan bunyi-bunyian ketika Andjar Rafiastanto pertama kali datang ke provinsi Sumatra Tengah itu di tahun 1998. Seruan siamang berbulu hitam menggema di pepohonan, bersama dengan celotehan burung enggang, kuau merak Sumatra dan lusinan spesies burung lainnya.

Tetapi pembukaan perkebunan kelapa sawit yang tersebar luas telah memicu perubahan dramatis selama 17 tahun silam.

“Sekarang sangat berbeda. Mungkin Anda dapat mendengar kicauan beberapa jenis burung. Masih ada beberapa pulau berhutan di antara perkebunan yang dapat mendukung siamang, tetapi seruan mereka sangat jauh,” ujar Rafiastanto, ManajerZoological Society of London (ZSL) program Indonesia, di Bogor.

“Siamang adalah satwa omnivora dan memakan beragam jenis buah, daun, kulit kayu dan makanan lain yang hanya dijumpai dalam hutan, dan hal yang sama juga berlaku bagi banyak satwa lainnya.” Bila Anda memusatkan penggunaan lahan pada satu spesies tanaman, baik itu kelapa sawit maupun karet, banyak satwa kehilangan sumber makanan mereka dan akan musnah secara lokal,” ujar Rafiastanto.

Bila Anda memusatkan penggunaan lahan pada satu spesies tanaman, baik itu kelapa sawit maupun karet, banyak satwa kehilangan sumber makanan mereka dan akan musnah secara lokal

Sementara Indonesia merupakan rumah bagi kira-kira 515 spesies mamalia — lebih banyak dari negara mana pun — Indonesia juga rumah bagi 184 spesies mamalia yang terancam musnah di dunia, termasuk orang utan dan gajah Sumatra, harimau dan badak.

Banyak dari ancaman ini disebabkan akibat laju pembukaan hutan yang sangat cepat dan konversi hutan.

Tren ini tidak unik untuk Indonesia. Sebagai akibat pertanian, penebangan kayu atau pembangunan, hilangnya hutan tanpa dapat dicegah mengarah pada musnahnya keanekaragaman hayati sebagaimana kisah-kisah serupa yang telah terjadi di seluruh hutan ekuatorial di dunia – rumah dari 80% keanekaragaman hayati terestrial.

MENYELAMATKAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN BERAGAM SASARAN LAIN

Mengingat hal ini dan tren serupa, pada tahun 2002 Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) menetapkan sebuah target global untuk mencapai “pengurangan signifikan dari laju musnahnya keanekaragaman hayati pada saat ini” pada 2010 — suatu ikrar yang digabungkan dalam Sasaran Pembangunan Milenium (MDG). Tetapi karena deforestasi berlanjut selama tahun 2000-an target ini tidak tercapai. Majelis Umum PBB kemudian mencanangkan 2011 – 2020 sebagai “Dekade Keanekaragaman Hayati”, dan pemerintah-pemerintah menyepakati Target Aichi.

Keanekaragaman hayati juga ditampilkan dalam draf PBB tentang Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDG), yang akan dituntaskan oleh para pemimpin dunia di New York pada bulan September.

Dalam rumusan draf mereka saat ini, ke 17 SDG mengatasi berbagai penyebab sebagai tambahan dari menghentikan keanekaragaman hayati, termasuk memperbaiki ketahanan pangan, gizi dan kesehatan, dan menyediakan peluang ekonomi dan akses ke energi untuk semua, sementara memerangi perubahan iklim dan mengelola hutan secara berkelanjutan.

Tetapi menyeimbangkan berbagai kepentingan yang sering kali bertentangan ini tidak akan mudah.

“Kepentingan keberlanjutan dan pembangunan tidak selalu merupakan hal yang sama. Misalnya, penyebab terbesar dari musnahnya keanekaragaman hayati adalah pertanian,” ujar Terry Sunderland, Ilmuwan Kepala di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

“Ini merupakan persoalan mendasar: pertama, mempertemukan berbagai pihak agar dapat berbicara satu dengan yang lain, mengingat sifat sektoral dari berbagai agenda tersebut, dan kedua, setelah Anda siap berbicara, mengakui apa yang mungkin menjadi imbal-balik dan menegosiasikannya.”

“Pendekatan sektoral tersebut, yaitu ‘kami adalah konservasionis, dan kami tidak bekerja dengan orang lain mana pun’, tidak selalu mengakibatkan hasil lingkungan yang baik,” ujar Sunderland.

Pendekatan sektoral,  yaitu ‘kami adalah konservasionis, dan kami tidak bekerja sama dengan orang lain, tidak selalu mengakibatkan hasil lingkungan yang baik

“Cara bahwa kita telah mulai berpikir mengenai hal-hal ini lebih cenderung dari sudut pandang model bentang alam terpadu, jadi Anda saling bersaing dalam tata guna lahan dan menegosiasikan dan merencanakannya sesuai kebutuhan.”

BERKACA PADA BENTANG ALAM

Model bentang alam terpadu pada dasarnya adalah mengabungkan berbagai penggunaan lahan yang berbeda menjadi satu proses pengelolaan tunggal. Bekerja dengan banyak lembaga dan pemerintah, Sunderland telah berkontribusi pada perumusan sepuluh prinsip yang telah membantu mendefinisikan “pendekatan bentang alam”.

Tema-tema utama mencakup keterlibatan pemangku kepentingan yang lebih besar, kepercayaan dan transparansi yang lebih baik di antara para pemangku kepentingan, keterlibatan sektor swasta yang lebih besar, dan pengakuan nilai ekonomi dari “layanan ekosistem” yang menjadi andalan baik oleh populasi lokal maupun global.

Untuk ZSL, pendekatan bentang alam telah menghasilkan suatu tingkatan keberhasilan dalam mengamankan koridor satwa liar di dalam dan di sekitar Cagar Alam Satwa Liar Dangku,  Sumatra Selatan, lapor Rafiastanto.

Dangku merupakan mosaik yang terdiri atas kelapa sawit, kehutanan dan ekstraksi minyak dan gas bumi, diselingi dengan daerah pemukiman. Tetapi di sepanjang bentang alam ini, cuplikan-cuplikan habitat bernilai konservasi tinggi penting untuk bertahannya harimau Sumatra, yang jumlahnya telah merosot sampai kurang dari 500 di alam liar.

Untuk memerangi pembabatan liar dan pemukiman, ZSL telah mendirikan patroli untuk melacak pergerakan harimau dan menghalangi pelanggaran batas oleh manusia di lahan yang dilindungi. Koridor di antara kawasan berhutan menyediakan keterhubungan penting antara kawasan-kawasan yang dilindungi, yang memungkinkan harimau untuk bergerak melintasi bentang alam dan mengurangi konflik manusia-harimau.

“Kami menggunakan suaka satwa liar Dangku sebagai jangkar tetapi harimau tidak mengenali batas-batas dan mereka bergerak tanpa melihat bahwa tempat itu taman nasional atau kawasan perkebunan. Dan dengan demikian kami harus terlibat dengan aktor-aktor setempat yang berbeda-baik itu pemukim lokal atau produsen kelapa sawit-yang mungkin akan berjumpa dengan harimau-harimau itu,” ujar Rafiastanto.

KEANEKARAGAMAN HAYATI UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Meskipun menyelamatkan harimau dan spesies kharismatik lainya cenderung mendapat paling banyak perhatian populer ketika berhubungan dengan konservasi keanekaragaman hayati, kepentingan keanekararaman hayati masih lebih besar lagi — yaitu kontribusi keanekaragaman hayati bagi kesejahteraan manusia dan planet bumi secara menyeluruh.

Banyak contoh muncul di bidang ketahanan pangan, gizi dan kesehatan saja: Sumber daya liar mendukung industri farmasi bernilai multimiliaran dolar, bahan makanan hutan menyediakan pola makan beragam dan bergizi untuk ratusan juta orang di seluruh dunia, dan keanekaragaman hayati melindungi terhadap hama dan penyakit.

Keanekaragaman hayati juga menopang sebagian besar pertanian modern.

“Penelitian telah menemukan bahwa perkebunan berjalan lebih baik ketika berada bersebelahan dengan hutan dan dapat memperoleh manfaat dari layanan ekosistem yang disediakan hutan tersebut, seperti layanan daerah aliran sungai, kesuburan tanah, penyerbukan, penyebaran benih, dan peredaran nutrisi. Penelitian telah menemukan dalam beberapa kasus pengurangan hasil panen dapat terjadi bila Anda bergerak semakin jauh dari hutan alam,” ujar Sunderland.

Meskipun ada keterkaitan yang jelas ini, draf SDG menempatkan keanekaragaman hayati-dan hutan-dalam sasaran “lingkungan hidup” (No. 15), dengan mengakhiri kelaparan dan meningkatkan kesehatan dicakup pada sasaran 2 dan 3, secara berurutan. Para pendukung pendekatan bentang alam menginginkan penekanan lebih besar pada saling-kebergantungan antara kedua kepentingan tersebut.

“Mungkin sudah implisit bagi kesemua 17 SDG bahwa sasaran-sasaran tersebut semua saling terkait, tetapi hal tersebut dapat menjadi lebih eksplisit,” ujar Sunderland.

“Kita tidak dapat hanya berbicara tentang pertanian, atau hanya kehutanan, atau kesehatan secara terpisah. Sifat dari bagaimana hal-hal tersebut terhubung dan saling mendapat umpan balik perlu untuk dipahami.”

Untuk informasi lebih lanjut mengenai karya CIFOR  tentang keanekaragaman hayati, bentang alam dan ketahanan pangan, silakan menghubungi Terry Sunderland di t.sunderland@cgiar.org.

(Visited 199 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi Bentang alam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan