Berita

Karbon atau keragaman hayati – Anda tidak bisa mendapat yang terbaik dari keduanya

Melindungi stok karbon sekaligus menjaga keanekaragaman hayati sulit dilakukan. Adakah jalan “membunuh dua burung dengan satu batu”?
Bagikan
0
Peneliti mengkaji distribusi keragaman hayati di Indonesia – mamalia, burung, reptil, dan amfibi, serta 8 keluarga tanaman – menggunakan tiga parameter kekayaan keragaman hayati. Foto: wikicommons
Peneliti mengkaji distribusi keragaman hayati di Indonesia – mamalia, burung, reptil, dan amfibi, serta 8 keluarga tanaman – menggunakan tiga parameter kekayaan keragaman hayati. Foto: wikicommons

Paling popular

Indonesia - Saat mencoba melindungi stok karbon dan keanekaragaman hayati, ungkapan “membunuh dua burung dengan satu batu” sulit untuk disesuaikan.

Dan memang, nampaknya batu REDD+ tidak mengenai target ganda simpanan karbon dan perlindungan alam, demikian menurut hasil riset terbaru di Indonesia.

Penelitian baru ini memperlihatkan sulitnya menemukan proyek konservasi yang efisien dalam memerangi perubahan iklim melalui penyimpanan karbon serta secara maksimal melindungi (ancaman) terhadap tanaman dan binatang.

“Ketika Anda lihat dalam bentang alam ada dua puncak jasa lingkungan, wilayah prioritas utama jarang tumpang tindih,” kata ekonom Sven Wunder, dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan salah seorang penulis penelitian di lokasi proyek karbon, keragaman hayati, ancaman deforestasi dan REDD+ di Indonesia.

Proyek tersebut merupakan bagian upaya global mengurangi emisi gas rumah kaca akibat deforestasi wilayah tropis.

REDD+ bisa menarik lebih banyak investasi jika upaya mengunci karbon dalam hutan tropis dalam skema tersebut juga memberikan “manfaat tambahan”, termasuk manfaat konservasi keragaman hayati, demikian menurut penelitian.

TEMPAT IDEAL?

Peneliti mengkaji distribusi keragaman hayati di Indonesia (mamalia, burung, reptil, dan amfibi, serta 8 keluarga tanaman menggunakan tiga parameter kekayaan (kekayaan spesies total, terancam dan terbatas).

Sekilas, Indonesia bisa menjadi tempat ideal mencapai kedua tujuan: negara hutan tropis ketiga terbesar dunia, dengan kekayaan keragaman hayati, stok karbon hutan besar, dan aktifnya organisasi masyarakat yang ingin menjalankan proyek REDD+.

Kepala peneliti Josil Murray – kandidat Doktor Universitas Bangor yang disupervisi oleh Sven Wunder – bekerja dengan rekannya menyusun basis data proyek REDD+ aktif di Indonesia.

“Kami memetakan lokasi proyek dan mengekplorasi tumpang susun spasial antara stok karbon, keragaman hayati, dan proyeksi ancaman deforestasi,” kata Murray.

Dengan data itu, peneliti menganalisa dengan skala lebih halus hingga gambar lebih bernuansa muncul.

Temuan kami menunjukkan, tidak bisa menunjuk proyek REDD+ di sebuah wilayah yang baik untuk semua spesies. Itu tidak mungkin diterapkan oleh para konservasionis

“Upaya lebih awal mengukur tumpang tindih – atau ‘kongruens’ – antara wilayah kaya-karbon dan kaya keragaman hayati terjadi di resolusi lebih rendah yang menutupi banyak pola halus yang kami lihat,” kata Murray.

“Tetapi memperbesar peta dalam negara jadi sangat menarik, terutama di Indonesia: relasinya sangat beragam ketika kita lihat di beragam pulau, misalnya.”

Keragaman hayati sendiri sulit dipastikan, dan pengukurannya memicu debat tim peneliti.

Sven Wunder, ekonom kelompok tersebut, menyarankan indeks yang bisa mengagregasi keragaman dimensi kekayaan spesies, tetapi pakar keragaman hayati tidak sepakat.

“Temuan kami menunjukkan bahwa kami tidak bisa menunjuk proyek REDD+ di sebuah wilayah yang baik bagi semua spesies,” kata Josil Murray. “Ini jadi tidak mungkin diterapkan para konservasionis, karena keragaman tindakan keragaman hayati tidak bertumpuk.”

TIMBAL BALIK REDD+

Peta yang dipublikasikan para ilmuwan tersebut menunjukkan hanya sedikit wilayah tinggi densitas karbon dan tingkat keragaman hayati.

Beberapa titik menarik muncul di sepanjang pesisir Kalimantan dan Sumatera – tetapi selau akan ada timbal balik, kata Murray.

“Spesies nyaris punah seperti harimau dan badak ada di hutan dataran rendah, sangat terancam, tetapi rendah simpanan karbon.”

“Analisis kami menunjukkan bahwa rawa gambut cenderung tinggi densitas karbon dan kekayaan vertebrata, tetapi diketahui miskin kekayaan spesies tanaman,” kata Murray.

Ketika lokasi proyek REDD+ di Indonesia diteliti, peneliti menemukan bahwa hal tersebut bertumpang susun dengan wilayah kaya keragaman hayati dibanding wilayah tinggi densitas karbon.

“Karena banyak proyek REDD+ awal dikelola organisasi konservasi, mereka mungkin lebih banyak berlokasi di wilayah kaya keragaman hayati dibanding wilayah kaya karbon,” kata Sven Wunder.

Tetapi Murray menyatakan bahwa itu adalah proyek percontohan, dan ia berharap intervensi lebih luas menargetkan lebih banyak potensi simpanan karbon di masa datang.

Dan itu bisa menggeser manfaat REDD+ dari keragaman hayati.

KHAWATIR KOBOI KARBON

“Jika saya seorang koboi karbon, dengan garis dasar karbon tunggal, Saya hanya akan plih wilayah tinggi karbon yang terancam. Kemudian saya akan melindungi habitat juga, tetapi mungkin bukan yang paling signifikan secara nasional atau internasional,” kata Wunder.

Ilmuwan menawarkan satu jalan mengatasi dilema ini: fokuskan proyek REDD+ pada hutan yang berisiko tertinggi digunduli, dibanding hutan yang memiliki karbon atau keragaman hayati tertinggi.

“Tingkat ancaman dapat membantu mengaitkan kedua faktor dalam ujicoba tumpang susun,” kata Wunder. “Pada akhirnya, kepadatan hutan primer Indonesia pada puncak 10.000 kaki tidak akan  mengalami deforestasi dalam waktu dekat.”

Jika saya koboi karbon, dengan garis batas tunggal,  saya hanya akan pilih wilayah dengan karbon tinggi yang terancam. Saya juga akan melindungi habitat, tetapi mungkin bukan yang signifikan secara nasional atau internasional

Sementara peneliti mengakui bahwa investasi REDD+ di wilayah terlindung menjadi kontroversial dalam menggunakan sumber daya REDD+, mereka mengindikasikan bahwa banyak wilayah terlindung “berada di bawah ancaman… dan penegakkan hukum lemah”.

Jika pendanaan REDD+ dapat digunakan meningkatkan efektivitas wilayah terlindung, “manfaat bagi keragaman hayati jadi besar” kata penelitian tersebut.

Josil Murray juga menyeru perhatian praktisi REDD+ mengenai pentingnya menetapkan lokasi proyek mereka di tempat hutan paling berisiko, terlepas kongruensi antara karbon dan keragaman hayati.

“Hutan paling terancam di Indonesia berada di wilayah dataran rendah, yang juga tempat hidup spesies paling terancam. Lahan gambut juga wilayah penting untuk fokus proyek REDD+karena menjadi ekosistem sangat terancam risiko ekspansi sawit,” katanya.

Fokus pada rawa gambut juga akan memberi manfaat bagi masyarakat lokal, kata Murray, karena mereka akan kehilangan sumber ikan dan perlindungan menghadapi banjir ketika hutan basah tersebut hilang.

Untuk informasi lebih mengenai karya CIFOR dalam karbon dan deforestasi, silahkan hubungi Sven Wunder – s.wunder@cgiar.org.

Untuk informasi lebih mengenai substansi penelitian ini, silahkan hubungi Josil Murray – fayphil7@gmail.com.

Penelitian CIFOR mengenai REDD+ dan Indonesia didukung oleh Program Penelitian CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri.

(Visited 235 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi Gambut dan Mangrove