Berita

Dapatkah COP21 mengembalikan roh REDD+?

Kesepakatan REDD+ di COP21 Paris menjadi amat krusial. Selain menepis keraguan selama delapan tahun, masa depan skema saatnya ditetapkan.
Bagikan
0
COP21 Paris menjadi tonggak penting apakah kesepakatan REDD+ terwujud setelah delapan tahun berjalan tanpa kepastian. Google Images.
COP21 Paris menjadi tonggak penting apakah kesepakatan REDD+ terwujud setelah delapan tahun berjalan tanpa kepastian. Google Images.

Paling popular

Visi asli Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi hutan (REDD+) bisa dikatakan ambisius tapi sederhana: menciptakan suplai dan kebutuhan kredit karbon hutan pada skala yang signifikan.

Dan kini, hampir satu dekade setelah para pemerintahan nasional secara resmi mengakui janji REDD+, bagaimana konsep ini bisa berjalan?

“Jelas ada kerapuhan dalam pelaksanaan REDD+ sampai sekarang,” kata William Sunderlin, peneliti utama Pusat Penelitian Kehutanan Internasional  (CIFOR) dan penulis utama penelitian baru yang mensurvey kondisi subnasional inisiatif REDD+ secara global.

Dalam penelitian ini, William Sunderlin dan para mitra peneliti menganalisa 23 inisiatif subnasional REDD+, atau proyek dan program di enam negara. Gabungan, lokasi-lokasi tersebut mencakup sekitar separuh area global inisiatif REDD+, dan mereka, kata Sunderlin, adalah “seperti persentuhan antara karet ban mobil dengan jalan, dan ketika bukti-bukti konsep terjadi”.

Hasilnya tidak seluruhnya menggembirakan.

“Beberapa hal berjalan agak tidak merata,” kata Sunderlin. “Dari 23 inisiatif, hanya empat yang mencapai pada titik penjualan karbon kredit hutan, enam terhenti atau menunda operasi, dan tiga lainnya melabel ulang diri jauh dari REDD+.

“Penelitian kami memunculkan banyak keraguan apakah REDD+ dapat berlanjut seperti visi aslinya tanpa kesepakatan internasional dari Paris.”

Akhir November ini, para juru runding akan berkumpul di Paris mengikuti Konferensi Para Pihak (COP) Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim. Walaupun ini acara berlangsung setiap tahun, tidak semua COP kesepakatan terjadi.

Seperti COP15 di Kopenhagen tahun 2009 gagal menelurkan ikatan kesepakatan internasional mitigasi iklim, dan membuat upaya terkoordinasi reduksi emisi – seperti dalam konsep REDD+ — hilang ditelan angin.

Hasilnya, banyak kemajuan REDD+ tercapai di tingkat subnasional. Lusinan inisiatif berjalan dengan dana modal awal, dan banyak yang berevolusi menjadi pendekatan yurisdiksional lebih luas ke pembangunan rendah emisi.

Penelitian kami memunculkan keraguan apakah REDD+ dapat berlanjut seperti visi aslinya bila tanpa kesepakatan internasional perubahan iklim Paris. William Sunderlin

Tetapi landasan utama visi REDD+ yaitu adanya aliran finansial skala besar yang sejauh ini gagal muncul. Ketidakhadirannya benar-benar dirasakan oleh para proponen REDD+ dalam survey penelitian William Sunderlin, yang melihat “kelangsungan ekonomis” sebagai satu dari dua tantangan paling signifikan.

Banyak hal lainnya, termasuk dari Governors’ Climate and Forests Task Force (yang fokusnya pada yurisdiksi REDD+), sepakat bahwa aliran finansial sangat penting.

Dan COP21 adalah waktu tepat untuk memainkan peranan yang lebih luas.

“Apa yang dinantikan oleh para pendukung inisiatif REDD+ adalah dana yang cukup, stabil, dan bertahan lama untuk insentif pada masyarakat di tingkat lokal yang memenuhi janji mereka melindungi hutan,” kata Sunderlin.

“Cara terbaik untuk menstimulasi dana tersebut yaitu perlunya pesan global bahwa, secara kolektif, negara-negara di seluruh dunia makin serius menangani mitigasi perubahan iklim.”

Pernyataan tersebut bisa menstimulasi kebijakan dan tindakan di tingkat nasional yang diperlukan untuk melengkapi inisiatif REDD+ subnasional, katanya.

“Ini juga bisa menjadi stimulus menciptakan pendanaan, tidak hanya melalui pasar kredit karbon tetapi juga melalui berbagai bentuk pendanaan nasional – dan bahkan subnasional.”

Pesan dukungan kuat dari Paris, bisa melontarkan REDD+ ke orbit lebih tinggi dari visi aslinya, ditambah aliran finansial skala besar yang menstimulasi dan mendukung konservasi hutan dunia.

BANYAK SUNGAI MENUJU SEBERANG

Bahkan dengan kesepakatan dari Paris, halangan pasti masih ada.

Misalnya tenurial, tantangan utama lain yang diidentifikasi oleh proponen dalam penelitian Sunderlin.

“Satu hal penting dalam laporan adalah tenurial dan kontrol lahan hutan serta sumber daya,” kata Sunderlin. “Ini induk tantangan yang oleh para proponen hadapi saat mencoba membangun REDD+ di lapangan.”

Cara terbaik untuk menstimulasi dana yaitu menciptakan pesan global bahwa negara-negara makin serius dalam mitigasi perubahan iklim. William Sunderlin

Mengatasi masalah tenurial dan kelangsungan ekonomis jelas penting bagi inisiatif REDD+. Kedua hal ini juga saling terkait.

“Tenurial dan pendanaan REDD+ adalah dua sisi mata uang,” kata Sunderlin. “Kekuatan yang berpihak pada konversi hutan di banyak tempat masih dominan, hanya dapat berlanjut jika aturan tenurial ada di pihak mereka.”

Kesepakatan internasional dapat membantu mengatasi keraguan pemerintah terhadap REDD+, kata Sunderlin, dengan menciptakan insentif untuk alokasi keamanan tenurial pada kelompok yang mendukung keberadaan tegakan hutan.

RISIKO KEGAGALAN

Namun perlu juga mempertanyakan apa konsekuensi jika COP21 gagal menghasilkan kesepakatan internasional kuat untuk menghadapi perubahan iklim?

“Kegagalan mencapai kesepakatan di Paris tahun ini tidak lantas berarti kematian mitigasi perubahan iklim berbasis hutan,” kata Sunderlin.

Faktanya, seperti dicatatkannya, banyak keberhasilan dan upaya baru menurunkan deforestasi dalam dekade terakhir datang dari luar REDD+. Upaya ini termasuk penegakkan hukum lebih tegas di hutan Brasil, yang menghasilkan penurunan dramatis tingkat deforestasi negara ini dari 2004 hingga 2012.

Tetapi kegagalan COP dapat membahayakan visi asli REDD+ sebagai kontributor skala-besar mitigasi berbasis hutan.

“Melalui penelitian ini, kami mendeteksi beberapa tanda disintegrasi REDD+ di lapangan,” kata Sunderlin.

“Semua aksi kreatif di lapangan agar REDD+ berjalan dalam ketiadaan kesepakatan internasionl mulai menunjukkan batasnya. Kini, diperlukan dukungan komplementer melalui diplomasi internasional.

“Akan sangat disesalkan jika penurunan berlanjut akibat kegagalan pemerintah di seluruh dunia mencapai kesepakatan.

 

(Visited 189 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi William Sunderlin di w.sunderlin@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.