Liputan Khusus

Citra satelit penting, tapi perlu kejelian untuk menerjemahkannya

Pemantauan data memberi jendela untuk melihat kondisi ekosistem. Tapi kondisi ini hanya berlaku ketika data reliabel dan maknanya jelas.
Bagikan
0
Kita berada pada era ekspansi pembukaan jalur-jalur baru jalan terbanyak di abad ini. Bill Laurence. Photo NASA
Kita berada pada era ekspansi pembukaan jalur-jalur baru jalan terbanyak di abad ini. Bill Laurence. Photo NASA

Paling popular

Fungsi data satelit dan ragam data lainnya untuk memantau kesehatan hutan dan bentang alam semakin canggih. Namun bila informasi hasil analisa citra tidak ditransmisikan kepada pengambil keputusan, maka kumpulan informasi tersebut menjadi tidak efektif. Demikian menurut para pakar di bidang ilmu pengetahuan dan kebijakan.

“Kami mencoba mempelajari masalah ini,” kata Christopher Martius, Ilmuwan Utama perubahan iklim di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) pada sebuah panel ilmuwan dan pengambil kebijakan di Forum Bentang Alam Global 2015 di Paris, 6 Desember lalu.

Hal ini merupakan pertanyaan penting bagi dunia komunikasi dan ilmu pengetahuan. “Bagaimana meningkatkan transparansi dan reliabilitas data?”

Selain akibat adanya kesenjangan ilmu pengetahuan—kebijakan, menurut para pengambil keputusan, mereka memerlukan panduan untuk memahami pesan tersembunyi dalam data-data.

“Pengambil kebijakan … perlu diberikan pengetahuan bagaimana memanfaatkan model citra dan sejauh mana kita dapat mengandalkan model tersebut,” kata Nur Masripatin, Direktur Jenderal Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia.

MELIHAT KE JALAN

Bill Laurance, Direktur Pusat Ilmu Pengetahuan Lingkungan Tropis dan Keberlanjutan Universitas James Cook Australia, memberi contoh studi kasus pembangunan jalan dan infrastruktur. Keputusan dengan latar belakang kecukupan informasi dan informasi kemanfaatan akan memberikan dasar pemahaman lebih baik akan dampak langsung dari rencana pembangunan, kata Laurance.

“Kita benar-benar memerlukan data baik tentang kondisi jalan,” katanya. “Akan sangat fundamental di dalam setiap hal yang coba kita lakukan. Dan dengan menggunakan model dampak jalan, kita dapat memahami dampak dari setiap jalan yang akan dibangun.”

Infrastuktur jalan sebagai penghubung transportasi petani ke pasar sangat penting bagi keberhasilan ekonomi sebuah negara. Sisi buruknya, pembukaan jalan akan membuka area baru perburuan, deforestasi, dan ekstraksi sumber alam yang dapat merusak lingkungan.

Kita sangat perlu perencanaan lebih strategis dan proaktif ke mana seharusnya jalan mengarah.

Bill Laurance

Dan tren ini meningkat.

Laurance menunjuk pada “tsunami ekspansi jalan dan infrastruktur yang terjadi di banyak tempat, beresiko terhadap kerusakan alam.”

“Kita hidup di era ekspansi jalan – dan  dari semua jenis infrastruktur – paling dramatis dalam sejarah manusia, tambahnya. “Diproyeksikan di paruh abad ini, kita akan menyaksikan sekitar 25 juta kilometer pembukaan jalan baru” – cukup untuk berkeliling bumi sebanyak 625 kali.

Jika tidak dipertimbangkan secara benar, dampaknya dapat sangat merusak, imbuhnya.

“Dalam situasi genting seperti saat ini, kita benar-benar memerlukan perencanaan strategis dan proaktif ke mana pembangunan jalan seharusnya diarahkan, mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak,” kata Laurance.

“Karena jika tidak, dapat menyebabkan kita ada di dalam masalah.”

Laurance dan rekan-rekannya telah meneliti topik ini secara ekstensif. Mereka mempublikasikan laporannya dalam jurnal Current Biology. Mengeksaminasi 33 “koridor pembangunan” yang direncanakan atau telah dilaksanakan di Afrika. Biasanya, koridor tersebut dibangun di seputar sarana transportasi – jalan atau rel – yang dirancang untuk memberikan stimulan ekonomi dengan menghubungkan pasar dan investasi pembuka lapangan kerja dalam sektor seperti pertambangan.

Masalahnya adalah, pembangunan ini tidak selalu berimbang: memaksimalkan manfaat ekonomi dan meminimalkan dampak pada bentang alam.

Enam dari 33 yang ada merupakan “gagasan sangat buruk,” kata Laurance, seringkali karena mereka mendorong serbuan populasi ke sebuah lahan tanpa memberi cukup manfaat pertanian, selain berpotensi merusak bentang alam yang bernilai. Sebagian besar lainnya menciptakan kompromi yang tidak seimbang antara manfaat bagi manusia dan kerusakan lingkungan, hingga diperlukan kajian lebih mendalam, kata Laurance.

DUNIA LUAS, DATA BESAR

Satu cara untuk meningkatkan reliabilitas data adalah dengan teknologi. Bianca Hoersch, Manajer Misi Sentinel-2 Badan Luar Angkasa Eropa (ESA), menjelaskan bahwa satelit Sentinel-2 akan memberi ilmuwan “data tak terduga.”

Pada akhir tahun ini, ESA berencana memiliki dua satelit di orbit, kata Hoersch. Dengan resolusi hingga 10 meter, elemen bentang alam seperti pohon dan rumah akan jelas terbedakan.

“Kita juga bisa membedakan setiap jalanan,” katanya.

Walaupun beberapa satelit di luar angkasa memberi resolusi lebih baik, satelit Sentinel-2 tidak terandingi dalam luas liputan bentang alam, yang katanya, “meliput hampir 300 kilometer petak” ketika melintas bumi.

Bahkan, satelit ini akan menyediakan data baru di area yang sama di ekuator setiap lima hari.

Hal paling menarik, data tersebut akan “bebas dan terbuka bagi semua orang”.

“Hanya diperlukan hard disk besar,” tambah Hoersch, “karena datanya sangat besar.”

MELIHAT DENGAN LEBIH JELAS

Para panelis sepakat, transparansi dalam menyajikan informasi ini kepada para pengambil kebijakan menjadi penting.

“Dalam masyarakat demokratis, transparansi sangat mendasar agar masyarakat sipil menekan pemerintah menjalankan tugasnya,” kata Gilberto Camara, Peneliti Senior  Direktorat Observasi Bumi Lembaga Penelitian Luar Angkasa Brasil.

Pengambil kebijakan perlu lebih memahami cara terbaik memanfaatkan dan mengandalkan model hasil analisa citra

Nur Masripatin

Untuk menjamin adanya kemauan poitik menghadapi masalah seperti ini, keterpercayaan, reliabilitas dan transparansi data menjadi penting dalam membangun solusi nyata terhadap masalah seperti perubahan iklim, kemiskinan dan degradasi hutan.

David Cooper, Wakil Sekretaris Eksekutif Konvensi Keragaman Hayati, melengkapi urgensi diskusi dengan menyatakan bahwa ilmuwan perlu bertanya pada diri sendiri “bagaimana menyempurnakan apa yang dilakukan, mengurangi ketidak pastian, (dan) meningkatkan kepercayaan para pengambil kebijakan dan investor untuk menyadari peran hutan dalam mitigasi iklim, adaptasi iklim, dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan lebih luas.”

(Visited 246 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Deforestasi