Analisis

Tiga area yang harus difokuskan agar REDD berjalan

REDD+ akan terus mendapat tempat dalam strategi berbasis hutan dalam kerangka perubahan iklim. Namun untuk mencapai hasilnya diperlukan perubahan serius.
Bagikan
0
Transportasi log di Jambi. REDD+ sukses sebagai ide, namun hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
Transportasi log di Jambi. REDD+ sukses sebagai ide, namun hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Jenny Farmer/CIFOR

Paling popular

Mungkin isu REDD+ terlihat tidak penting dalam agenda resmi negosiasi iklim di Paris beberapa waktu lalu, namun berbagai pengalaman dan visi telah dibagi dalam acara pendamping maupun diskusi lainnya, nampaknya isu REDD+ akan terus berlanjut mendapat tempat di dalam strategi melawan perubahan iklim.

Sebagai contoh, ikrar REDD+ terbaru dari grup GNU (aliansi Jerman, Norwegia dan Inggris) sebesar 5 miliar dolar Amerika dalam jangka waktu 2015-2020 menunjukkan langkah penting sisi pendanaan internasional. Termasuk ikrar 39 negara memasukkan REDD+ ke dalam Target Kontribusi Nasional (INDC atau Intended Nationally Determined Contributions) ke dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim.

Kondisi REDD+ tidak berbeda halnya dengan Deklarasi New York tentang Hutan: suatu inventarisasi yang menunjukkan kemajuan lambat, sisi baiknya: Hal ini adalah suatu sukses besar untuk sebuah ide dan flagship negosiasi iklim internasional, namun implementasinya lebih lambat dan hasil yang tercatat lebih sedikit daripada yang diharapkan. Oleh karenanya, bagaimana seharusnya REDD+ dapat masuk ke dalam strategi pembangunan nasional dan iklim masih menjadi tantangan utama.

Dalam riuhnya perayaan penyambutan Kesepakatan Paris, kami menggarisbawahi tiga area agar REDD+ bisa melangkah maju agar dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan awal: mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi.

Pertama, negara-negara REDD+ harus mengambil peran dan memiliki rasa kuat untuk melaksanakan REDD+ sekaligus menggabungkan INDCs di dalamnya berikut target emisi domestik negara masing-masing.

Kedua, mengupayakan kerja sama – melalui rantai suplai hijau – sehingga mengambil peran, diawasi karena adanya tekanan konsumen dan pengawas lingkungan dibarengi dengan reformasi kebijakan domestik.

Pelaku dengan pengaruh besar dilibatkan sungguh-sungguh di dalam perdebatan terkait peran hutan dan siklus karbon global.

Arild Angelsen dan Louis Verchot

Ketiga, pendanaan internasional harus mendorong negara-negara lain untuk berkomitmen lebih kuat, mendukung pembangunan kapasitas, dan memberikan insentif untuk konservasi hutan lewat mekanisme berbasis hasil.

KEBIJAKAN DAN KOMITMEN NASIONAL

Untuk mencapai substansi pengurangan emisi, konservasi hutan harus dipertimbangkan untuk ditingkatkan sebagai kontribusi negara-negara dalam REDD+ demi upaya global menahan perubahan iklim, seperti halnya diintegrasikan di dalam strategi hijau nasional/rendah emisi/rendah karbon/pembangunan berkelanjutan. Sebuah analisis proses kebijakan dalam negara-negara pelaksana REDD+ menyatakan bahwa “mencapai pengurangan emisi lewat REDD+ membutuhkan empat kondisi awal untuk mengatasi  masalah ekonomi-politik: (i) otonomi negara yang relatif dari kepentingan utama yang memicu deforestasi dan degradasi hutan, (ii) kepemilikan nasional bagi proses kebijakan REDD+, (iii) progres kebijakan REDD+ yang inklusif, dan (iv) keberadaan koalisi yang dibutuhkan untuk perubahan transformasional.” Sehingga ketika proses REDD+ dijalankan oleh pelaku internasional, kendala-kendala ini tidak akan menjadi perbedaan di lapangan.

Pemerintah nasional selayaknya memegang kemudi pencapaian pengurangan emisi hutan. Pemerintah memiliki kemampuan utama untuk mencapai sasaran, dan – beberapa orang berpendapat – sekaligus tanggung jawab utama. Pemerintah dapat mengimplementasikan cakupan kebijakan spesifik yang telah terbukti efektif dalam membatasi deforestasi. Emisi yang disubsidi bukan sekedar masalah untuk emisi bahan bakar fosil. Laporan terkini oleh Overseas Development Institute (ODI) menunjukkan efek pervasif dalam subsidi komoditas utama, semisal daging dan kedelai di Brasil, serta minyak sawit dan kayu di Indonesia. Subsidi yang jika keduanya digabungkan berkisar 40 miliar USD per tahun ini, dan penulis mengungkapkan, “Subsidi ini sepertinya berdampak lebih penting terhadap investasi swasta dalam aktivitas yang memicu deforestasi, dibanding pendanaan REDD+ saat ini.” Mengurangi subsidi ini, atau menyesuaikannya dengan kepatuhan praktik nol deforestasi, menunjukkan perubahan menang-menang untuk konservasi dan pembangunan, meski beberapa kelompok akan tetap ketinggalan dari reformasi semacam ini.

Menciptakan dan mengeksploitasi situasi menang-menang penting bagi REDD+ agar dapat membuat perubahan dalam pembuatan kebijakan nasional. REDD+ harus dibuat kompatibel dengan strategi nasional untuk pembangunan berkelanjutan, termasuk ketahanan pangan dan pengurangan kemiskinan. Kesempatan menang-menang ini dapat diciptakan bersama korporasi, konsumen dan penyandang dana.

KORPORASI DAN KONSUMEN

Sejalan dengan proses UNFCCC, beberapa inisiatif global dan nasional telah melibatkan sektor swasta sebagai mitra penting dalam REDD+. Contoh nasional yang paling kentara adalah Moratorium Kedelai di Brasil, yang diadopsi tahun 2006. Moratorium ini membuat para pedagang setuju untuk tidak menjual kedelai yang diproduksi oleh petani yang telah membabat hutan Amazon. Secara internasional, inisiatif ‘nol deforestasi’ telah berhasil lewat beberapa perusahaan global yang melakukan upaya signifikan untuk menghijaukan rantai suplai mereka. Studi terhadap para eksekutif bisnis juga mengkonfirmasi bahwa reputasi perusahaan, perhatian media dan tekanan konsumen adalah alasan utama untuk mempertimbangkan penanganan isu iklim. Keamanan pasokan (dalam wilayah dimana produksi tidak berkelanjutan) sepertinya menjadi lebih penting selayaknya kompetisi lahan dan peningkatan iklim ekstrim yang semakin kerap dan merusak.

Dalam Deklarasi Hutan New York 2014, peran serta dari sektor swasta, masyarakat sipil, dan pemerintah berkomitmen mengerjakan bagian mereka untuk mengurangi separuh laju deforestasi saat itu hingga 2020 dan menghentikan deforestasi pada tahun 2030. Mereka juga setuju untuk memastikan bahwa produksi empat komoditas utama (minyak sawit, kedelai, kertas, dan daging) tidak akan menambah deforestasi. Sebuah kombinasi dari perhatian yang lebih terhadap harga dan risiko yang dimasukkan dalam lanjutan perubahan iklim, tekanan konsumen dan permintaan untuk produk hijau, serta ‘pelabelan dan cemooh’ dari LSM dan pengawas lain dapat memperkuat tren ini lebih lanjut. Mengingat negosiasi iklim internasional yang menunjukkan ketidakcukupan untuk menghasilkan jalan pintas yang dibutuhkan bagi jalur dua derajat, pelaku dari sektor swasta dapat  menentukan  standar dan peraturan baru dalam tata kelola lingkungan (internasional). Reformasi rantai suplai harus didukung oleh legislasi domestik dan kebijakan yang suportif untuk membuatnya berfungsi lebih baik dan menjaga perusahaan tetap akuntabel sembari tetap mendorong munculnya pemimpin.

KESEPAKATAN DAN PENDANAAN INTERNASIONAL

Peran yang awalnya diharapkan dari REDD+, atau mungkin intisari REDD+, adalah transfer masif dari sumber daya untuk memberi insentif bagi konservasi hutan di negara-negara berkembang. Skenario ini terlihat belum jelas, pada dasarnya karena satu-satunya kesempatan yang realistis untuk menyediakan pendanaan yang memadai dalam pasar karbon global lewat kredit REDD+ sebagai sebuah kesempatan penyeimbang/offsetting, dan pembentukan sebuah pasar membutuhkan pembatasan nasional terkait emisi. Dalam ketiadaan hal itu, bagaimana sebuah kesepakatan internasional meningkatkan implementasi REDD+?

REDD+ telah memindahkan isu transparansi, akuntabilitas, tenurial dan hak lahan, serta masyarakat adat ke dalam agenda politik domestik.

Arild Angelsen dan Louis Verchot

Satu-satunya permainan di kota (=Paris) adalah INDCs: negara-negara membuat ikrar ringan lewat pengumpulan INDC mereka. Dalam skenario terbaiknya, peninjauan proses baik ke dalam dan – lebih penting ke luar – kerangka kerja UNFCCC dapat membantu menyandingkan kontribusi nasional bagi pencapaian target 2°C, meningkatkan transparansi dan membangun kepercayaan. Tertahan dan mundurnya kehilangan karbon di hutan dan tanah dapat menjadi kontribusi utama dari banyak negara berkembang untuk INDC mereka. Dengan kata lain, ketimbang REDD+ terlihat sendirian sebagai sebuah kendaraan untuk menghasilkan pendanaan internasional, sebagiannya dapat diklaim sebagai kontribusi nasional terhadap upaya global menahan perubahan iklim, terutama bagi negara-negara berpenghasilan menengah.

Kaitannya dengan pendanaan internasional, Dana Iklim Hijau dan kesepakatan bilateral dan multilateral lain (semisal ikrar GNU) dapat menyediakan pendanaan untuk pembangunan kapasitas, investasi di muka, pendanaan murah dan pembayaran langsung untuk hasil (semisal untuk pengurangan emisi). Pendanaan internasional untuk REDD+ (dan perubahan iklim secara umum) harus memungkinkan untuk fokus pada negara-negara miskin, ketimbang negara-negara berpenghasilan menengah seperti Brasil yang telah memiliki sumber daya yang memadai untuk menutup biaya domestik bagi konservasi hutan.

PEMERIKSAAN REALITAS

REDD+ kerap dimunculkan sebagai sebuah cerita sukses iklim, sebagian karena idenya terlihat sederhana dan menarik, sebagian lagi karena proses inklusivitasnya tidak umum (lebarnya keragaman pengamat CSO dan IP aktif), sebagian karena bergeraknya pendanaan dan aktivitas yang dihasilkan, dan sebagian karena UNFCCC bertujuan untuk sekali pencapaian dalam sebuah kesepakatan yang imbang meskipun tantangan-tantangan tekniknya besar. Pelaku-pelaku berpengaruh – dari Presiden dan menteri keuangan di negara-negara REDD+ hingga kalangan eksekutif ternama di perusahaan internasional – dilibatkan dengan sungguh-sungguh dalam debat tentang peran hutan terkait siklus karbon global. REDD+ telah memindahkan isu tentang transparansi, akuntabilitas, tenurial dan hak lahan, serta masyarakat adat ke dalam agenda politik domestik. Perubahan yang dramatis dalam naratif global dan momentum politis yang dihasilkan adalah alasan bagi kehati-hatian optimisme.

REDD+ kerap dimunculkan sebagai sebuah cerita sukses iklim, sebagian karena idenya terlihat sederhana dan menarik.

Arild Angelsen dan Louis Verchot

Tetapi ketelitian memeriksa realitas juga dibutuhkan. Hasil yang dibayangkan terkait pengurangan emisi menyatakan – dengan dan besarnya – belum terlihat. Brasil adalah cerita sukses, meski sedikit kesuksesannya dapat dihubungkan dengan REDD+. Untuk negara-negara lain, ada cerita-cerita sukses tentang kemajuan awal terkait pengurangan dan deforestasi (dan ternyata lebih sulit untuk mengukur keduanya, degradasi hutan). Koalisi berdasar bisnis baik yang baru maupun lama telah menahan kemajuan, menyarankan jika REDD+ diimplementasikan, akan membuat perbedaan yang sesungguhnya.

Analisa ini berdasarkan sebagian dari isi bab “REDD+: What should come next?” tulisan Arild Angelsen dalam buku Towards a Workable and Effective Climate Regime (Menuju sebuah Rezim Iklim yang Berjalan dan Efektif).

(Visited 148 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Louis Verchot di l.verchot@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.