Berita

Perubahan iklim mempengaruhi fungsi mangrove menahan laju kenaikan permukaan laut

Sebuah riset terbaru memperkuat fungsi perlindungan mangrove untuk menahan kenaikan permukaan laut.
Bagikan
0
Peneliti CIFOR dan  mitra dari Departemen Kelautan dan Perikanan menginstal alat sedimentasi dan karbon pengukuran karbon di berbagai situs di sepanjang garis pantai  cagar alam Pulau Dua, Banten.
Peneliti CIFOR dan mitra dari Departemen Kelautan dan Perikanan menginstal alat sedimentasi dan karbon pengukuran karbon di berbagai situs di sepanjang garis pantai cagar alam Pulau Dua, Banten. Aulia Erlangga/CIFOR

Paling popular

Meski mangrove mempunyai kemampuan bertahan terhadap kenaikan permukaan laut tingkat sedang, namun hasil studi terbaru, diprediksikan hingga akhir abad ini, kelangsungan ekosistem mangrove terancam oleh laju kenaikan permukaan laut.

“Hal ini menjadi peringatan bahwa sumber daya mangrove, yang nyata berfungsi melindungi manusia akan dampak perubahan iklim, ternyata juga rentan terhadap perubahan iklim,” ujar Sigit Sasmito, penulis utama dan seorang peneliti di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

Mangrove memiliki sistem ketahanan alami menghadapi fluktuasi pasang surut permukaan air laut, disebut oleh para ilmuwan sebagai ‘perubahan ketinggian permukaan’. Para ilmuwan juga telah mengukur proses ini di sejumlah lokasi di seluruh dunia.

Sayangnya tinjauan literatur yang ada, pada umumnya masih belum diketahui bagaimana mangrove akan bertahan terhadap kenaikan permukaan laut yang diinduksi oleh iklim.

MEMBANDINGKAN KERENTANAN

“Kami memasukkan dua jenis mangrove yang berbeda dalam studi ini: mangrove tepian (fringe mangroves) dan mangrove cekungan (basin mangrove),” ujar Sasmito.

Berbagai tindakan adaptasi tidak selalu sangat menarik, tetapi dalam kasus ini kami dapat merujuk mangrove dan mengatakan perlindungan mangrove sebagai 'adaptasi berbasis mitigasi'

Daniel Murdiyarso

“Kami tertarik mengenai jenis mana yang lebih rentan, atau apakah memang terjadi perbedaan.”

Karena berbagai ketidakpastian pada peningkatan permukaan laut yang terproyeksi pada sisa dari abad ini, Sasmito dan rekan peneliti menggunakan skenario kenaikan permukaan laut rendah dan tinggi dari laporan terbaru (AR5) dari Panel Internasional tentang Perubahan Iklim (IPCC).

Skenario rendah mewakili kenaikan permukaan laut dari 28 cm sampai 61 cm pada tahun 2100, sementara skenario tinggi mewakili kenaikan 53-98 cm.

“Dengan adanya kenaikan permukaan laut tinggi, besar kemungkinan mangrove tepian hanya dapat mengikuti laju derap kenaikan air laut sampai tahun 2055, dan mangrove cekungan di tahun 2070”, ujar Sasmito.

“Jadi kami menemukan bahwa mangrove tepian lebih rentan terhadap kenaikan permukaan laut dibandingkan mangrove cekungan.”

Tetapi tidak semua hasilnya mengerikan.  Sigit Sasmito menyarankan perlunya alasan untuk tetap berhati-hati dalam optimisme.

Studi ini juga menemukan bahwa di bawah tingkat kenaikan permukaan laut rendah, kedua jenis mangrove ini ternyata dapat bertahan sedikitnya sampai akhir dari jendela proyeksi pada tahun 2100.

“Temuan ini setidaknya memberikan semangat,” ujar Sasmito.

SUDAH BERADA DI BAWAH TEKANAN

Kerusakan mangrove semakin meningkat secara global: lebih dari separuh area mangrove dunia telah musnah dalam tiga dekade menuju 2007, menurut FAO.

Riset CIFOR sebelumnya juga mencatat bahwa area mangrove Indonesia yang signifikan bagi perlindungan global ditebangi pada kecepatan yang mencengangkan, yaitu 50.000 hektar per tahun terjadi antara tahun 1985 sampai tahun 2000.

Jadi, faktor lain dalam menilai bagaimana mangrove dapat bertahan terhadap kenaikan permukaan laut ialah memahami status kesehatan mangrove.

Hal ini merupakan kontribusi utama lain dari studi Sasmito.

“Dengan mengamati cara mangrove menghadapi berbagai perbedaan tekanan, kami juga belajar tentang jenis-jenis pengelolaan apa yang paling kondusif untuk membantu mangrove bertahan terhadap kenaikan permukaan laut,” ujar Daniel Mudiarso, peneliti utama CIFOR dan penulis pendamping studi.

“Masalahnya bukan hanya bagaimana mangrove bertahan terhadap kenaikan permukaan laut, tetapi juga cara bagaimana melakukan berbagai intervensi untuk membantunya bertahan terhadap hal tersebut.”

Sebagian dari mangrove di studi ini berada dalam kondisi asli (alami), sementara sebagian lainnya dalam proses pemulihan dari berbagai tekanan seperti pembangunan urban dan dampak-dampak badai, dan sebagian lagi sedang direhabilitasi secara aktif.

Tetapi Murdiyarso menekankan, berbagai kondisi yang mendukung kemampuan mangrove untuk bertahan terhadap kenaikan permukaan laut – dan kondisi yang merusak kemampuan tersebut – haruslah dipahami secara spesifik berdasarkan lokasinya.

Hal ini akan memerlukan riset yang lebih terlokalisasi, khususnya di area-area yang terabaikan secara tradisional, seperti di Asia Tenggara, Afrika, Timur Tengah dan Amerika Selatan.

“Studi kami menggambarkan latar belakang di mana dapat dilakukan riset yang lebih spesifik berdasarkan lokasi.”

‘ADAPTASI BERBASIS MITIGASI’

Buktinya semakin bertambah bagi kepentingan mangrove berbagai rupa, termasuk namun tidak terbatas pada kapasitas penyimpanan karbon mangrove, yang 3-5 kali lebih besar dari hutan tropis di daerah yang sama.

Volume karbon yang tersimpan dalam mangrove teramat sangat besar di Indonesia, sehingga menjadikan mangrove sebagai harapan terbaik bagi kontribusi Indonesia dalam memperlambat perubahan iklim.

Menurut Daniel Murdiyarso, sudah saatnya untuk menghubungkan dua lingkup yang merupakan pembagian umum dari kebijakan perubahan iklim: yaitu, adaptasi dan mitigasi.

“Tidak ada gunanya untuk mencoba melaksanakan adaptasi secara terpisah dari mitigasi. Kita harus menggabungkan keduanya,” ujar Murdiyarso.

Berbagai tindakan adaptasi tidak selalu sangat menarik, tetapi dalam kasus ini kami dapat menunjuk pada mangrove itu dan berkata bahwa melindunginya merupakan ‘adaptasi berbasis mitigasi’.

“Hal tersebut berkontribusi pada pengurangan masalah yang melingkupi – perubahan iklim – pada waktu bersamaan dengan membantu untuk menangani sebagian dari dampak yang kita ketahui akan tiba pada saatnya,” ujarnya.

“Di COP21 Paris, sejumlah skema mitigasi, seperti INDC, NAMA, REDD+ dan Joint Mitigation Adaptation (JMA) dirumuskan sebagai bagian dari Kesepakatan bersama,” ujar Murdiyarso. “Berbagai mekanisme ini secara potensial dapat mencakup tampungan kaya karbon seperti ekosistem mangrove,” ia menjelaskan lebih lanjut.

(Visited 324 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Sigit Sasmito di s.sasmito@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Gambut dan Mangrove