Berita

Pertanian perladangan berpindah menciptakan ekosistem alami

Jika dikelola dengan baik, metode peladangan berpindah dapat menyediakan jasa ekosistem penting serta melindungi keanekaragaman hayati.
Bagikan
0
Pembersihan ladang di Danau Sentarum, Kalimantan Barat. Saat ini akibat tekanan sosial ekonomi terjadi perubahan pola penggunaan lahan tradisional.
Pembersihan ladang di Danau Sentarum, Kalimantan Barat. Saat ini akibat tekanan sosial ekonomi terjadi perubahan pola penggunaan lahan tradisional. Tim Cronin/CIFOR

Paling popular

Stigma negatif pertanian tebang bakar berkontribusi kehancuran hutan dan pelepasan gas rumah kaca sudah lama melekat dalam metode tradisional ini.

Menurut studi terbaru, bila dilakukan secara benar metode perladangan berpindah ini sesungguhnya menciptakan ekosistem alami dengan keanekaragaman hayati tinggi, kaya dengan cadangan karbon dan resiko erosi tanah yang rendah.

Bagaimana praktiknya?  Untuk membuktikannya memang diperlukan pengujian di beberapa lahan yang berbeda dalam wilayah yang cukup luas. Sehingga dimungkinkan terjadinya suatu siklus, mulai dari tanaman pangan, menjadi hutan muda, hingga menjadi hutan sekunder. Tentu saja ini memerlukan waktu yang cukup lama.

Dalam riset terbaru ini para peneliti berhasil membandingkan tingkat keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem di hutan tradisional dengan sistem perladangan berpindah di wilayah utara Kalimantan, termasuk pengunaan lahan lain seperti hutan alam dan perkebunan monokultur. Riset ini dilakukan di wilayah utara Kalimantan.

TRANSISI KEHUTANAN

Dataran rendah hutan tropis Kalimantan merupakan lokasi kaya dengan keanekaragaman hayati dan kaya kayu serta cadangan karbon. Sayangnya kondisi ini dalam taraf mengkhawatirkan akibat adanya perkebunan kelapa sawit dan karet yang menyebabkan erosi tanah, punahnya spesies unik termasuk menjadi sumber pelepasan gas rumah kaca.

Belum banyak diketahui tentang pengaruh lingkungan terhadap pembukaan lahan dengan sistim tradisional perladangan berpindah.

“Kami menemukan bahwa semua jenis penggunaan lahan yang terkait hutan memakai sistem perladangan berpindah mengungguli perkebunan monokultur kelapa sawit dan karet,” kata Yves Laumonier, salah satu penulis dan ilmuwan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

“Keragaman jenis-jenis pohon lebih besar, erosi tanah rendah dan cadangan karbon di atas permukaan tanah perladangan berpindah dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan perkebunan,” tambahnya.

Para ilmuwan melakukan riset di lokasi dekat desa Keluin, Batang Lupar, di wilayah utara Kalimantan Barat, suatu bentang alam pertanian yang terbentuk oleh pertanian ladang berpindah, penyadapan karet dan penebangan kayu. Yves Laumonier beserta tim peneliti melakukan identifikasi sebuah mosaik yang terdiri dari tujuh tipe penggunaan lahan berbeda, termasuk hutan alam, hutan tebangan, lading tanaman, beberapa tingkatan hutan sekunder yang tengah tumbuh dan perkebunan karet.

Sistim ini bukan hanya menghasilkan keragaman produk dari berbagai jenis penggunaan lahan, sistim ini saling melengkapi dalam kerangka jasa ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Tidak hanya melakukan hal-jenis penggunaan lahan yang berbeda menyediakan beragam produk, mereka saling melengkapi satu sama lain dalam hal layanan ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Yves Laumonier

Tidak mengejutkan saat para ilmuwan menemukan bahwa hutan-hutan alami sebagai tempat dengan keanekaragaman tinggi dengan spesies-spesies pohon yang unik, mempunyai tingkat erosi tanah terrendah dan mampu menyimpan karbon lebih banyak dibandingkan jenis-jenis penggunaan tanah lainnya.

Hutan bekas tebangan, tempat tumbuhnya tanaman tua bercampur dengan spesies pohon sekunder seringkali bercampur di lahan yang sama, juga memiliki keragaman spesies pohon-pohon yang tinggi. Sayangnya cadangan karbon di atas permukaan tanah kecil, dan jalanan logging yang tersisa turut berkontribusi terhadap erosi tanah.

Secara kontras, hutan sekunder tua dan perkebunan karet mempunyai cadangan karbon dan mempunyai kontrol erosi yang lebih baik dibandingkan lahan bekas tebangan, namun jenis pohon sedikit.

Melihat gambaran besarnya, para ilmuwan menunjukkan keseimbangan dapat terjadi secara tiba-tiba dalam tingkatan bentang alam.

Sementara para penulis membuat kasus untuk melindungi hutan melalui mekanisme pendanaan seperti Pengurangan Emisi melalui Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+), mereka juga menunjukkan nilai-nilai yang melekat di dalam suatu mosaik bentang alam.

“Tidak hanya berlaku pada jenis-jenis penggunaan lahan berbeda yang menyediakan keragaman produk,” kata Yves, “sistim ini saling melengkapi satu sama lain dalam kerangka jasa ekosistem dan keanekaragaman hayati.”

“Dengan cara ini, berbagai ragam kegiatan manusia termasuk pertanian, penebangan kayu dan penyadapan karet – dan yang terpenting, meninggalkan plot-plot pembersihan lahan kembali menjadi hutan – memastikan keberlangsungan tersedianya berbagai layanan,” ujarnya.

Keragaman jenis penggunaan lahan juga menciptakan suatu jaringan pengaman – saat terjadi penurunan karet turun, fluktuasi tiba-tiba harga kelapa sawit dan kayu, yang menyediakan ketahanan di ekonomi-ekonomi lokal.

PERGANTIAN GENERASI

Yves Laumonier dan rekan-rekan penulis juga menemukan masa pemulihan tanah dan tumbuhan memerlukan waktu lama di wilayah studi dilakukan dibandingkan di wilayah lain-lain dimana riset serupa dilaksanakan – hal ini menunjukkan sinyal potensi degradasi.

“Kami memperhatikan terjadinya sejumlah besar lahan kritis di sekitar desa,” kata Yves Laumonier. “Tingginya jumlah penduduk bukan menjadi sebab di sini, jadi pasti ada alasan lain plot-plot lahan yang ditinggalkan tidak bergenerasi, suatu hal normal terjadi dalam praktik perladangan berpindah.”

Ternyata masalah usia adalah alasan utamanya.

Para pemuda yang bermigrasi keluar desa untuk mencari pekerjaan di Malaysia, meninggalkan orang tua, bibi dan paman termasuk mengabaikan pertanian. Akibat ketidakmampuan untuk berjalan jauh, untuk menghapus plot tradisional yang berlokasi jauh dari desa, generasi tua penduduk desa memilih berkebun di lokasi dekat dengan desa.

Kami tidak menentang kelapa sawit. Kami hanya ingin menunjukkan di mana seharusnya menanam kelapa sawit dan dimana yang benar-benar tidak bisa ditanami.

Yves Laumonier

Sehingga untuk sepenuhnya memahami peran sistem perladangan di wilayah tersebut, menurut catatan para penulis, memerlukan riset lebih lanjut guna memahami faktor-faktor sosial budaya dan ekonomi yang mendorong percepatan siklus rotasi, seperti contohnya usia populasi.

Pada saat yang sama, Laumonier mengatakan ada tekanan kuat dari pemerintah daerah dan perusahaan besar untuk membuka lebih banyak lahan untuk perkebunan, khususnya kelapa sawit.

“Kami tidak menentang kelapa sawit,” katanya. “Kami hanya ingin menunjukkan di mana bisa menanam kelapa sawit dan mana yang benar-benar tidak bisa ditanami.”

Penilaian terbesarnya adalah mengukur ongkos degradasi lingkungan.

“Katakanlah jika Anda mengkonversi semua hutan ini untuk kelapa sawit maka Anda mendapatkan begitu banyak juta dolar. Tapi disisi lain, hal ini akan berimbas pada masyarakat dalam hal kualitas air, “katanya. “Jadi itu cukup penting bagi kita untuk memberikan angka-angka yang membantu memperjelas ekonomi lingkungan terhadap produksi pertanian.”

Penulis berharap penelitian ini akan membantu meningkatkan kesadaran di kalangan pengambil keputusan dan para perencana lahan bahwa hutan-hutan tebangan lebih berguna untuk dialihgunakan menjadi lahan lain-lain, dan seharusnya dapat dikelola lestari sebagai bagian dari sistem tradisional perladangan berpindah.

(Visited 1,206 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Pertanian ramah hutan