Analisis

Benarkah hutan tanaman industri membantu konservasi hutan?

Manfaat hutan tanaman industri mungkin lebih banyak, lebih dari sekedar meningkatkan jumlah produksi
Bagikan
0
5611789667_81bb5e7b2a
Teak plantations, like this one in Jepara, Central Java, are among the most positively received types of tree plantations in Indonesia. Photo: Murdani Usman

Paling popular

Perkebunan monokultur berskala besar banyak menerima kritikan karena sejumlah alasan: perampasan lahan, perusakan hutan, layanan lingkungan yang buruk, ketidakadilan pembagian manfaat, dan masih banyak lagi.

Sehingga kedengarannya mungkin tidak sesuai harapan, dan bahkan provokatif, untuk menyarankan hutan tanaman industri kayu sebagai salah satu solusi untuk mendorong konservasi hutan. Akan tetapi hal ini membentuk dasar dari suatu teori yang berasal dari awal abad  kedua puluh, yang menjadi rujukan artikel ini sebagai teori ‘manfaat konservasi (dari) perkebunan’. Teori tersebut menyebutkan bahwa menghasilkan nilai dari produksi kayu sebenarnya merupakan cara efektif untuk melindungi suatu jalur hutan tertentu.

Untuk mengkaji teori ini, mari kita kembali ke asalnya. Titik awalnya terdengar cukup masuk akal: dengan menanam pepohonan yang semakin banyak untuk dikelola secara intensif guna mencapai produktivitas lebih tinggi, kita dapat memproduksi cukup kayu untuk mengamankan hutan alam yang masih tersisa. Dengan perkataan lain, dengan mengganti kayu yang berasal dari hutan dengan kayu yang diproduksi dari perkebunan.

Untuk menguji teori ini lebih jauh, kami meninjau bukti dalam suatu  studi yang dipublikasikan baru-baru ini.

Pengamatan pertama adalah bahwa meskipun tidak banyak penelitian yang telah diselesaikan – atau setidaknya dipublikasikan — namun terdapat informasi yang melimpah. Hal ini terutama disebabkan penelitian tersebut didasarkan pada keragaman metode yang sangat tinggi. Masing-masing metode ini memungkinkan para ilmuwan untuk melihat pada berbagai sudut berbeda dari pertanyaan tersebut, yang tampaknya sama rumitnya seperti keadaannya yang seakan jelas.

Metode ini mencakup statistik deskriptif murni yang mengilustrasikan berbagai kecenderungan jangka panjang. Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa produksi kayu dari hutan alam sebenarnya memuncak pada 1989 dan perkebunan-perkebunan mengisi kekosongannya.

Metode penelitian lainnya menggunakan pemodelan teoretis, yang menyoroti risiko dari efek pengalihan. Sebagai contoh, memantapkan suatu perkebunan kayu di satu area dapat mengalihkan pertanian ke area berhutan lainnya, yang tidak mudah untuk dilacak, tetapi pasti menentukan dampak akhir dari perkebunan.

Ada cara lain lagi untuk mendekati masalah tersebut ialah dengan menggunakan model-model ekonometrik. Model-model ini mengarah pada berbagai skenario lain yang mungkin. Sebagai contoh, pengelolaan yang efisien dan produktif dari perkebunan yang berekspansi mungkin dapat mengakibatkan pemasokan berlebihan dan peningkatan permintaan kayu, ketika para konsumen bereaksi terhadap harga pasar yang lebih rendah. Bahayanya di sini ialah terciptanya permintaan baru untuk kayu. Bagaimana pun, mengapa orang tidak ingin mengganti kursi-kursi plastiknya dengan kursi kayu yang indah bila harga kayu dianggap lebih terjangkau?

LEBIH BANYAK KAYU, LEBIH BANYAK POHON

Jadi apa yang dapat kita pelajari dari keberagaman pendekatan dan penelitian ini, selain dari teori indah dan bukti yang bersifat lelucon?

Meskipun buktinya tidak sepenuhnya jelas, ada sedikit konvergensi dalam temuan-temuannya. Yang terpenting, tampaknya asumsinya bertahan sampai suatu titik, bagaimana pun buruknya kedengarannya oleh mereka yang menentang perluasan perkebunan kayu karena dugaan (dan terkadang terbukti benar) adanya berbagai kelemahan.

Teori 'manfaat konservasi perkebunan' tidak seluruhnya menjanjikan. Namun dapat disimpulkan dari penelitian bahwa peningkatan pasokan perkebunan kayu cenderung untuk mengurangi tekanan pada hutan alam

Romain Pirard

Hal ini bukan berarti bahwa teori ‘manfaat konservasi perkebunan kayu’ sepenuhnya menjanjikan, tetapi secara keseluruhan dapat disimpulkan dari penelitian bahwa peningkatan pasokan hutan tanaman industri cenderung untuk mengurangi tekanan pada hutan alam.

Kami harus menekankan pada butir terakhir ini dan memperjelas lebih lanjut: lebih banyak perkebunan mungkin benar-benar mengurangi kekuatan tekanan terhadap hutan alam dengan pembagian beban produksi, tetapi hanya berlaku untuk ekstraksi kayu saja.

Apakah artinya hal ini? Artinya bahwa berkurangnya produksi kayu dari hutan alam, dengan demikian degradasi juga berkurang, juga berarti berkurangnya nilai (baik yang diakui dan dipasarkan) untuk hutan tegakan.

Ini merupakan aspek penting untuk disoroti. Bila hutan alam tidak digunakan untuk ekstraksi kayu – yang dapat dilakukan dengan cara-cara berkelanjutan seperti menggunakan teknik-teknik pembalakan berdampak rendah — hutan tersebut mungkin sebenarnya lebih rentan untuk ditebang habis.

Menghasilkan nilai dari produksi kayu mungkin benar menjadi cara yang paling efektif untuk melindungi satu jalur hutan. Sebagai kontrasnya, menggunakan hutan hanya untuk layanan lingkungan saja mungkin tidak cukup untuk melindunginya terhadap berbagai penggunaan lahan lainnya, khususnya pertanian. Jadi kiatnya di sini ialah tidak menghilangkan satu masalah untuk kemudian menciptakan masalah lain yang lebih besar.

FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN

Hal ini menyarankan bahwa sejumlah parameter harus dipertimbangkan dengan cermat sebelum merancang program untuk mengembangkan perkebunan yang juga akan mendorong konservasi. Jelas bahwa perkebunan tidak boleh dibuka di lahan yang telah berhutan (bahkan mungkin bila perkebunan tersebut dapat jauh lebih produktif per hektar, dari hanya sejumlah kecil m3 sampai dengan 20-40 m3/ha), atau di area di mana pemulihan (restorasi) dapat diprioritaskan.

Selanjutnya, ekstraksi kayu di ekosistem hutan alam tidak dapat diabaikan berdasarkan prinsip. Hutan bukan saja menyediakan produk-produk kayu berkualitas tinggi yang mungkin tidak dapat dihasilkan oleh perkebunan kayu (yang memerlukan rotasi super lama yang berlangsung lusinan tahun, atau bahkan berabad-abad), tetapi hal tersebut dapat dilakukan dengan cara yang cukup berkelanjutan (namun keunggulan kualitas untuk teknik berkelanjutan semacam itu mungkin tidak cukup tinggi untuk mendorong adopsi berskala besar).

Meskipun menyediakan nilai untuk hutan melalui produksi kayu berkelanjutan akan mendorong para pembuat kebijakan untuk melestarikannya dalam menghadapi tekanan yang meningkat dari pertanian, berbagai alasan ekonomi saja tidaklah cukup. Penegakan hukum merupakan kondisi lain yang diperlukan untuk mewujudkan ‘manfaat konservasi perkebunan kayu’ tanpa memerhatikan jumlah pasokan kayu yang diproduksi dari perkebunan, hutan alam sayangnya akan selalu menggoda untuk diakses untuk produksi dengan catatan bahwa stoknya siap untuk digunakan.

Sejujurnya, dengan begitu banyak kebijakan dan kondisi yang harus dipenuhi agar ‘manfaat konservasi dari perkebunan kayu’ dapat terwujud, orang mungkin bertanya-tanya, apakah hal ini lebih bersifat teoretis dan bukannya operasional.

Dan fakta bahwa hutan tanaman industri tampaknya mengambil alih, sebagaimana dinyatakan dengan sangat jelas oleh angka-angka yang menunjukkan substitusi produksi dari hutan terhadap perkebunan, dapat menyamarkan suatu kebenaran yang buruk : transisi ini mungkin sebenarnya konsekuensi dari potensi produksi yang menurun dari hutan alam.

Bersabarlah, karena ini lebih dari sekadar nuansa halus. Bila hutan tanaman industri hanya menanggapi kebutuhan dengan menurunnya potensi kayu dari hutan alam, dan mengisi kekosongan antara pasokan dan permintaan, maka hutan  tanaman industri tidak boleh dibebani dengan tanggung jawab konservasi yang dihasilkan oleh pergeseran tersebut.

Hal ini berarti karena dengan demikian manfaat dari ekspansi hutan tanaman industri mungkin hanya diperuntukkan bagi konsumen yang menikmati volume kayu yang tersedia di pasaran, dan bukan demi melestarikan hutan tropis.

Namun meskipun teori ‘manfaat konservasi perkebunan kayu’ penuh dengan kelemahan, dan berdasarkan bukti yang telah dipublikasikan, orang tidak dapat menyangkal bahwa ada sedikit kebenaran di dalamnya. Hal ini menjadi pendorong untuk melanjutkan perancangan program-program perkebunan yang memberikan banyak perhatian terhadap mitigasi dari dampak-dampak negatif, dan juga berinvestasi dalam program-program setara untuk mengelola atau melindungi hutan alam yang masih tersisa secara berkelanjutan.

Bagaimanapun, ekspansi hutan tanaman industri mampu membuktikan sebagai kondisi yang diperlukan (meskipun tidak cukup bila diterapkan secara tersendiri) untuk mendorong konservasi dan bertahannya hutan-hutan alam.

(Visited 774 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Bentang alam