Analisis

Pendekatan Bentang Alam: Belajar dari proses evolusi Darwin

‘Pendekatan bentang alam’ mengalami proses evolusi menjadi prinsip-prinsip panduan beragam tata kelola lahan.
Bagikan
0
Pendekatan bentang alam memastikan keterpaduan pengunaan lahan untuk keberlanjutan sumber daya alam.
Pendekatan bentang alam memastikan keterpaduan pengunaan lahan untuk keberlanjutan sumber daya alam. Aulia Erlangga/CIFOR

Paling popular

Teori seleksi dan keberlangsungan alam Charles Darwin awalnya dicemooh dan ditolak, membuat Darwin sendiri menunda publikasi tulisan ilmiahnya, On the Origin of Species. Hari ini, teorinya secara umum diterima sebagai prinsip yang menjelaskan keragaman kehidupan di Bumi sebagai hasil evolusi jutaan tahun.

Menarik perbandingan sederhana, bisa dinyatakan bahwa ‘pendekatan bentang alam’ mengalami proses evolusi sendiri untuk menjadi prinsip-prinsip panduan beragam tata kelola hari ini. Bisa juga dinyatakan bahwa, seperti evolusi prosesnya masih berjalan – seraya pendekatan bentang alam menjadi inti wacana pembangunan selama beberapa tahun, dan belum dipahami seluruh potensinya di lapangan.

Dalam skema besar era evolusioner, pengembangan pendekatan bentang alam selama beberapa dekade terakhir terjadi meskipun masih seperti tetes air ke dalam lautan. Namun, perlu ditegaskan bahwa tetes air ini telah menimbulkan gelombang tsunami retorika, literatur dan pengetahuan mengenai bagaima kita dapat mendandani, memberi makanan dan membangun rumah bagi bertumbuhnya populasi manusia tanpa merusak lingkungan alam kita.

APA YANG BARU?

Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), bekerja sama dengan beberapa mitra, baru-baru ini menyelesaikan sebuah kajian literatur masif mengenai pendekatan bentang alam terintegrasi, meneliti hampir 17.000 dokumen (baca lagi: 17.000!). Menunjukkan bertumbuhnya minat dalam pendekatan bentang alam dalam literaur dan dalam forum internasional, kami ingin lebih memahami secara pasti apa yang dapat ditawarkan dalam praktiknya.

Kami ingin menentukan apakah pendekatan benar-benar dapat membuat perbedaan di dunia yang makin menipis sumber daya alamnya, atau apakah ini hanya alasan bagi donor dan masyarakat pembangunan mencari apa yang terbaik selanjutnya. Kami bertanya pada diri sendiri: “Apakah ini hanya anggur tua dalam botol baru?”

Menurut kajian ekstensif kami, pendekatan bentang alam lebih dari sekadar cara baru mengemas gagasan usang. Bukti menunjukkan bahwa pendekatan ini memiliki sejulah potensi untuk menyeimbangkan tujuan sosial dan lingkungan baik dalam lingkungan daratan maupun laut, selain juga bertindak sebagai kerangka kerja implementasi komitmen nasional menuju pencapaian global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).

Temuan utama kajian kami membantu mengurai jejaring pengetahuan yang dihasilkan upaya sebelumnya dalam merekonsiliasi tekanan konservasi dan tantangan pembangunan, khususnya di tropis. Mereka menggambarkan bahwa mengintegrasikan konservasi dan pembangunan adalah proses yang terus berevolusi. Dipersenjatai dengan pengetahuan yang dibangun dan dibagikan selama 30 tahun lebih, kita kini harus siap merektifikasi kesalahan masa lalu.

Dengan sedikit sentuhan kreatif, kami mampu mengembangkan rekomendasi kunci untuk efektivitas fasilitasi pendekatan bentang alam, yang kami sebut lima E: evaluasi kemajuan, perbaiki tata kelola yang baik, berubah dari solusi pengobatan, libatakan beragam pemangku kepentingan dan rangkul proses dinamis.

Sementara, hasil kami menunjukkan bahwa hambatan terbesar integrasi tujuan pencaharian dan lingkungan merupakan akibat kecenderungan simplifikasi berlebihan dan pemikiran linear.

Upaya sebelumnya integrasi terfokus hasil tunggal terbelenggu struktur proyek dengan kerangka kaku dan sejalan dengan periode pendanaan singkat. Sejarah lingkungan dan sosial dijejali janji hampa organisasi konservasi dan pembangunan, ketika mereka gagal memberi hasil ‘menang-menang’ pembangunan sosial yang terpisah dari degradasi lingkungan.

Apakah berupa konservasi dan proyek pembangunan terintegrasi (ICDPs), tata kelola sumber daya alam terintegrasi (INRM), tata kelola sumber daya air terintegrasi (IWRN), konservasi berbasis masyarakat, atau pembangunan desa terintegrasi, beberapa inisiatif terhindar dari kritik ketidaklayakan menangani satu atau masalah lain yang dihadapi manusia, kemiskinan, dan pemanfaatan berkelanjutan lingkungan dalam bentang alam lebih luas.

Dan di sini terletak masalah lain. Masyarakat ilmiah juga patut dipersalahkan karena kurangnya kemajuan nyata dalam implementasi pendekatan bentang alam di lapangan. Dapat dinyatakan bahwa para peneliti, termasuk kami, cenderung memperkeruh air dengan tak henti mendefinisikan, menyempurnakan dan mendandani pendekatan bentang alam pada titik membingungkan.

Hal ini tidak terbantu oleh kurangnya pelaporan terukur dalam literatur. Menjembatani celah antara ilmu pengetahuan dan praktik tetap menjadi hambatan kemajuan nyata intervensi skala bentang alam.

Kami belum bisa berharap tiba pada pendekatan yang berterima secara universal, dan menjawab banyak hal dalam mengintegrasikan konservasi dan pembangunan, pengalaman masa lalu menyatakan bahwa pelibatan para peneliti, pengambil kebijakan dan praktisi perlu didorong. Dan pengakuan global terbaru atas SDG menunjukkan, pelibatan juga relevan dan berterima.

BAGAIMANA PENDEKATAN BENTANG ALAM BISA BERBEDA?

Pendekatan bentang alam tidak secara eksplisit langsung menjanjikan hasil menang-menang. Sifat alami dari pendekatan bentang alam adalah fakta bahwa ‘pemenang’ dan ‘pecundang’ diakui, tetapi melalui kompromi dan negosiasi, prinsip mendasarnya adalah ‘untung lebih – rugi sedikit’.

Memang, pendekatan bentang alam mungkin tidak mengidentifikasi tujuan besar, karena tujuan besar selalu menjadi tujuan lebih luas pembangunan berkelanjutan. Tetapi akan ini selalu tercapai? Mungkin tidak. Oleh karena itu, nila pendekatan bentang alam adalah mengakui pentingnya kemajuan ke arah pencapain tujuan. Dalam hal terus belajar, perjalannya sendiri jadi lebih berharga daripada tujuan utamanya.

Hasil yang diharapkan akan bergantung pada karakteristik spesifik-kontekstual dari tiap bentang alam. Dalam hal ini kemajuan dan keberhasilan menjadi subyektif, dan akan dipersepsi secara berbeda oleh pemangku kepentingan berbeda.

Mencapai konsensus dia banyak bentang alam tropis akan memerlukan integrasi lebih baik beragam sektor dan terbuka, dialog transparan untuk mengidentifikasi bagaiman timbal balik dapat dikelola dan sinergi didorong.

APAKAH KITA BERADA PADA TEMPAT YANG DIINGINKAN?

Tidak juga. Meski beberapa tanda menggembirakan dan potensi nyata yang ditawarkan pendekatan bentang alam, kita harus mengidentifikasi sejumlah potensi hambatan bagi kemajuan.

Jangan diabaikan pula, ada klaim sebaliknya, yaitu kurangnya implementasi dunia nyata. Kami menduga bahwa hal ini karena kelambatan waktu – pendekatan baru perlu waktu dan kerangka kerja untuk implementasi pendekatan bentang alam masih dalam tahap pengembangan baru lahir.

Satu area yang pasti memerlukan penyempurnaan lebih lanjut adalah pemantauan dan evaluasi. Bentang alam adalah sistem besar sosio-ekologis dan menghadirkan tantangan finansial dan teknis dalam pemantuan – tantangan yang harus dihadapi oleh kungkungan kelembagaan dan intelektualitas (tantangan lain!).

Peneliti, politisi, rimbawan, ahli pertanian, sektor swasta, dan lainnya terlalu lama bergerak dalam kungkungan disiplin mereka. Intervensi skala bentang alam hanya bisa efektif melalui pendekatan lebih holistik dan terintegrasi pada tata kelola lahan.

Hal ini tidak hanya mencakup peningkatan negosiasi antar sektor tetapi juga antar luasan, baik ruang dan waktu. Meningkatkan kolaborasi akan menjadi kunci, seperti dinyatakan Charles Darwin, “dalam sejarah panjang kemanusiaan (dan kehewanan) semua yang belajar berkolaborasi akan menang”.

Kami mengakui bahwa pendekatan bentang alam tidak hanya berarti menangani tantangan sosial dan lingkungan kontemporer di tropis dan, dalam konteks tertentu, pendekatan lain akan sama-sama efektif. Namun, kami merasa bahwa evolusi pendekatan bentang alam telah mencapai titik di mana kita dapat merengkuh beragam manfaat yang bagi kita semua, sebagai masyarakat kolektif, harapkan. Jika Anda tidak percaya pada kami, tanya saja Darwin!

(Visited 188 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi James Reed di j.reed@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Bentang alam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan