Liputan Khusus

Petani sawit perlu dukungan finansial untuk praktik keberlanjutan

Ada satu solusi meretas teka teki tak kasat mata tentang pembiayaan bentang alam berkelanjutan terutama yang terkait dengan kelapa sawit
Bagikan
0
Petani sawit di Sintang, Kalimantan Barat.
Petani sawit di Sintang, Kalimantan Barat. Lucy McHugh/CIFOR

Paling popular

Indonesia - Artikel ini merupakan satu dari tiga artikel pertemuan The Investment Case – dalam serial Forum Bentang Alam 2016.  Simposium satu hari, 6 Juni 2016 di London dan dihadiri oleh para pakar bertujuan untuk menyelarasi penanaman modal bentang alam, membuat koneksi antara pendanaan untuk pertanian dan hutan.

Terjadi sedikit homogenitas di dunia ini.

Hal ini juga berlaku di antara para pembudidaya tanaman tunggal seperti kelapa sawit, termasuk terjadinya kerumitan akibat kompleksitas pelibatan sebagai upaya mendukung praktik-praktik berkelanjutan.

Namun ada juga berbagai peluang, terutama di Indonesia di mana kelapa sawit telah berkembang pesat, terutama akibat peran para petani kecil.

“Catatan menarik dari Indonesia yaitu tidak ada kelangkaan sumber daya yang mendukung aliran investasi kelapa sawit, dikaitkan dengan pesatnya pertumbuhan petani kecil di sektor ini,” kata Pablo Pacheco, ilmuwan utama Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

Tapi siapa yang akan membayar biaya-biaya tersebut?

“Ada banyak perdebatan saat ini tentang bagaimana pembiayaan transisi, termasuk bagaimana seharusnya peran pemain keuangan ditempatkan,” kata Pablo Pacheco.

Bagi mereka yang berada di sektor keuangan, pencarian metode terbaik untuk mendukung praktik-praktik berkelanjutan di kalangan petani, seperti yang biasanya mengolah lahan kecil berukuran kurang dari dua hektare, baru saja dimulai.

“Standar beberlanjutan telah dibuat untuk membimbing praktik produksi berkelanjutan, tetapi hal ini seringkali muncul dari perspektif para produsen skala besar,” kata Pablo Pacheco.

“Standar-standar tersebut seringkali tidak dipedulikan oleh petani kecil – dan ini tentu saja meningkatkan kesenjangan. Kita harus memastikan bahwa kegiatan menunjan gpasokan komoditas berkelanjutan tidak berkontribusi terhadap marginalisasi petani kecil.

“Standar-standar tersebut seringkali tidak dipedulikan oleh petani kecil – dan ini tentu saja meningkatkan kesenjangan. Kita harus memastikan bahwa kegiatan menunjang pasokan komoditas berkelanjutan tidak berkontribusi terhadap marginalisasi petani kecil terus menerus.”

Misalnya, petani sawit sering tidak memiliki kontrol terhadap besaran harga yang mereka terima dari hasil panen mereka, sebab umumnya tergantung pada pabrik yang dimiliki oleh perusahaan besar.

“Kontribusi paling penting yaitu dari sektor keuangan, yang akan sangat mendukung perusahaan perkebunan besar dengan investasi ekuitas dan pinjaman, adalah dengan menggunakan pengaruhnya untuk mengubah keseimbangan kekuasaan dan membiarkan perusahaan perkebunan memperlakukan petani sebagai mitra setara dengan siapa mereka bekerja sama untuk meningkatkan mata pencaharian dan praktek produksi yang lebih berkelanjutan, “kata Jan Willem van Gelder, Direktur Profundo, sebuah konsultan riset berbasis di Amsterdam dan secara khusus mendalami rantai komoditas internasional.

Sektor keuangan memegang peranan paling penting untuk mendukung para perusahaan perkebunan besar melakukan investasi ekuitas dan pinjaman, dengan cara menggunakan pengaruhnya untuk mengubah keseimbangan kekuasaan dan membiarkan perusahaan perkebunan memperlakukan petani sebagai mitra sejajar

Jan Willem van Gelder, Direktur Profundo

Peningkatan hasil perkebunan

Pada saat ini, petani memiliki sedikit akses terhadap persediaan benih berkualitas tinggi atau pupuk sehingga mengakibatkan rendahnya hasil panen. Ini berarti para petani seringkali berada dalam keadaan rentan setiap kali menunggu musim panen tiba.

“Salah satu masalah mendasar dalam meningkatkan basis pasokan kelapa sawit adalah investasi untuk meningkatkan hasil dengan penanaman kembali plot – plot menggunakan varietas benih yang lebih baik,” kata Sophia Gnych, ilmuwan CIFOR.

“Namun ada komplikasi yang terkait dengan hal ini. Dalam kegiatan menganti pohon-pohon tua dengan penanaman baru, diperlukan tiga sampai lima tahun untuk mendapatkan buah-buah baru. Hal ini berimbas pada pendapatan petani. Tentu ini merupakan tantangan pendanaan yang utama.”

Menurut Hans Smit, penasihat senior di organisasi pembangunan internasional SNV, amat krusial untuk mendukung petani kecil meningkatkan hasil panen melalui penanaman kembali daripada ekspansi. Artinya amat dibutuhkan akses keuangan.

Pinjaman lunak bagi petani kecil

“Tantangannya adalah untuk memungkinkan lembaga keuangan memberikan pinjaman kepada petani kecil dalam skala dan dengan suku bunga rendah,” katanya. “Untuk mencapai itu, lembaga-lembaga keuangan perlu memahami risiko dan bersedia memberikan pinjaman yang cukup besar untuk suatu tingkat kelompok.”

“Kami telah menciptakan alat perhitungan kredit yang dapat memetakan arus kas untuk rumah tangga dalam skenario penanaman kembali dan menilai kredibilitas finansial petani. Dengan alat tersebut, kita bisa langsung melihat apakah petani adalah memenuhi persyaratan dari bari, dan jika tidak mengapa. ”

Berdasarkan informasi ini mereka dapat mengolah lahan, resiko-resiko dapat lebih dipahami dan kelompok pinjaman petani bisa dikemas menjadi suatu portofolio untuk meminimalkan risiko termasuk menawarkan petani suku bunga grosir yang kompetitif, Smit menambahkan.

Dalam kasus Indonesia, perlu dipertimbangkan bagaimana kredit formal dapat bersaing dengan sumber kredit informal yang seringkali lebih banyak memberikan kelonggaran bagi petani kecil. Sehingga menjadi penting untuk membuat bagaimana kredit formal jauh lebih menarik, terutama memberikan kelonggaran dalam hal pembayaran.

Pablo Pacheco, Ilmuwan utama CIFOR

Saat ini, banyak petani mengandalkan kredit melalui perantara dan memberlakuak suku bunga tinggi, namun menawarkan persyaratan fleksibel terhadap apa yang dibutuhkan oleh para petani kecil.

“Apa yang akan menjadi penting dalam kasus Indonesia yaitu untuk mempertimbangkan bagaimana kredit formal dapat bersaing dengan sumber kredit informal yang memberikan lebih banyak fleksibilitas bagi petani kecil,” kata Pacheco. “Pertanyaannya adalah bagaimana membuat kredit formal lebih menarik bagi petani kecil, terutama karena memiliki kekakuan dalam pembayaran.”

Memadukan metode kredit informal dan formal bisa menjadi pilihan, Pacheco menambahkan.

Untuk membuat solusi tersebut – dengan hasil yang optimal bagi petani kecil dan pemodal – membutuhkan diskusi dan kolaborasi.

“Sehingga untuk menemukan model yang sukses, berbagai pemangku kepentingan perlu dilibatkan,” kata van Gelder. “Sektor keuangan, perusahaan perkebunan, para petani, serta pemerintah daerah dan nasional yang dapat memastikan bahwa sertifikat tanah yang jelas, infrastruktur dikembangkan dan risiko lainnya dapat tertutupi.”

Dalam suatu kegiatan mengarah pencapaian solusi, salah satu sesi dalam pertemuan The Investment Case di London di dalam rangkaian acara Forum Bentang Alam Global 2016 akan membahas topik ini, mendatangkan berbagai perwakilan beragam dari sektor keuangan, pembangunan, pemerintah dan sektor korporasi untuk membahas bagaimana memberikan dukungan pendanaan yang memungkinkan bagi petani untuk terlibat dalam praktik keberlanjutan.

 

(Visited 110 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Pablo Pacheco di p.pacheco@cgiar.org .
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Bentang alam Kelapa sawit