Liputan Acara

Forum Bentang Alam Global 2016: Menghubungkan dana pertanian dan hutan (Bagian 2)

Para peserta Forum Bentang Alam Global tahun ini di London membahas solusi konkrit untuk meningkatkan investasi sektor swasta di bentang alam – mulai dari menghijaukan rantai pasokan sampai meningkatkan fungsi fintech dan perangkat lunak GPS.
Bagikan
0
Sektor swasta penting untuk berperan memastikan rantai pasokan bebas deforestasi.
Sektor swasta penting untuk berperan memastikan rantai pasokan bebas deforestasi. CIFOR

Paling popular

Artikel ini adalah bagian kedua dari dua seri peliputan Forum Bentang Alam Global 2016 – Kasus Investasi. Tujuan dari simposium satu hari yang dihadiri oleh pakar adalah untuk mengakselarasi pendanaan bagi bentang alam.


Selain membicarakan tentang pembiayaan iklim, salah satu topik utama yang dibahas di Forum Bentang Alam Global 2016 yaitu  memisahkan antara deforestasi dari rantai pasokan.

“Kesepakatan Paris sangat penting karena membawa maju aspirasi untuk tetap berada di bawah 2 derajat Celsius serta menempatkan hutan di dalam perjanjian,” kata Marco Albani, Direktur Forest Alliance Tropical (TFA) 2020.

“Namun Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) mungkin adalah, bahkan yang terpenting. Di antara berbagai ganjalan di dalam kebijakan iklim saat ini, tata guna lahan merupakan salah satu yang mungkin memiliki implikasi terbesar bagi semua SDGs lainnya. ”

TFA 2020 dibuat pada tahun 2012 di Rio+ 20 setelah Forum Konsumen Barang (Consumer Goods Forum – CGF) berkomitmen terhadap nol deforestasi bersih pada tahun 2020 untuk komoditi kelapa sawit, kedelai, daging sapi, dan kertas dan rantai pasokan bubur kayu. CGF bermitra dengan pemerintah Amerika Serikat membuat aliansi publik-swasta dengan misi memobilisasi semua aktor untuk berkolaborasi dalam mengurangi komoditas – yang memicu deforestasi di negara tropis.

Hari ini, kurang lebih $AS 500 miliar komoditas hutan diproduksi setiap tahun, $AS 100 miliar ditenggarai berasal dari negara-negara hutan hujan tropis, menurut Albani.

“Ada peran besar bagi sektor keuangan untuk turut berperan – terutama dalam hal berinvestasi di dalam intensifikasi produksi komoditi berkelanjutan, yang memungkinkan bagi perusahaan untuk memenuhi tingginya permintaan komoditi, namun tanpa merugikan hutan,” katanya.

“Tapi tidaklah mudah karena hal ini melibatkan bukan hanya sektor swasta. Perlu keterlibatan pemerintah di berbagai tingkat – nasional, regional dan lokal – tentang kebijakan-kebijakan alokasi lahan. Hal ini juga melibatkan bank domestik, bank-bank BUMN, dan biaya perdagangan yang dilakukan sebagian besar melalui rantai pasokan. ”

Hingga hari ini, berbagai lembaga keuangan bukanlah pemain terbesar dalam rantai pasokan. Pada umumnya lembaga keuangan daerah berperan sebagai penyedia dana bagi petani kecil.

Sektor swasta menawarkan petani kecil suatu pasar jaminan bagi produk-produk mereka, dan tidak perlu bagi mereka untuk membayar biaya-biaya pengembangan praktik-praktik pertanian.

Pablo Pacheco, Principal Scientist CIFOR

“Masalah besarnya yaitu mayoritas petani adalah mandiri, misalnya seperti petani kelapa sawit di Indonesia,” kata Pablo Pacheco, Principal Scientist dan ketua tim riset CIFOR tentang Rantai Nilai, Keuangan dan Investasi. “Para petani swadaya tersebut memiliki akses ke berbagai sumber informal keuangan, akibatnya para perusahaan memerlukan upaya lebih untuk dapat berhubungan langsung dengan mereka.”

“Sektor swasta menawarkan tersedianya pasar yang menjamin produk-produk mereka, sehingga mereka tidak perlu membayar biaya-biaya untuk meningkatkan praktik-praktik pertanian. Sebagai contoh, sektor peternakan sapi di Brasil, hanya peternakan-peternakan besar yang mempunyai cukup modal mampu mengembangan praktik pertanian mereka. Sementara petani skala menengah dan kecil tidak cukup modal untuk berinvestasi akan hal-hal seperti itu.”

Menurut Pablo Pacheco, dibutuhkan model-model bisnis baru untuk berbagi biaya, risiko dan manfaat di antara perusahaan dan petani kecil. Sebagian besar model bisnis yang ada saat ini memindahkan biaya-biaya tersebut kepada petani kecil di hulu rantai pasokan, tapi tidak termasuk manfaatnya.

Zwide Jere, Managing Director dari LSM Total Landcare di Malawi, menyuarakan sentimen yang sama dengan Pablo Pacheco. “Saat ini, ada banyak suku bunga sangat tinggi bagi petani untuk dapat mengakses modal, terutama di negara-negara berkembang seperti Malawi. Suku bunga yang berlaku sebesar 45 persen. Tentu ini menyedihkan karena petani harus menerima tarif buruk ini karena mereka sangat membutuhkan akses ke pendanaan. ”

Namun, terjadi kegembiraan dalam kemajuan penghijauan rantai pasokan.

Para petani kecil kesulitan untuk mendapatkan akses modal karena tingginya bunga, terutama di negara-negara berkembang seperti Malawi. Kisaran bunga sekitar 45 persen. Sangat menyedihkan ketika para petani harus menerimanya karena mereka sangat membutuhkan akses kepada pembiayaan.

Zwide Jere, Managing Director LSM Total Landcare, Malawi

“Ketika saya mulai bekerja di isu ini, sangat tidak mungkin untuk dapat tahun berapa jumlah deforestasi yang terjadi, terlebih untuk tahu dimana hal itu terjadi,” kata Albani. “

“Hari ini, kami memiliki informasi hampir dalam sekejap. Kami mampu melacak kembali deforestasi dan mengalokasikannya untuk rantai pasokan tertentu dengan cara yang tidak pernah bisa kita lakukan sebelumnya. ”

Membuat solusi konkrit

Tantangan utama lain yang dibicarakan di dalam Forum yaitu termasuk ketidakjelasan tenurial dan kebijakan pemerintah yang mengaturnya, lembaga-lembaga yang lemah, dan ketidakpastian manfaat dan resiko-resiko tidak terduga yang saat ini menjadi hambatan untuk berinvestasi dalam skala besar.

Menurut Peter Holmgren, Direktur Jenderal CIFOR, ada tiga bidang utama yang mendesak untuk perlu diperhatikan. Salah satunya adalah dari sisi pendanaan – perangkat-perangkat baru yang dibutuhkan untuk membantu mengurangi resiko berbagai investasi dan membawanya pada tingkatan lebih. Kedua, adanya kebutuhan akan bagaimana jasa keuangan diberlakukan di tingkat tapak melalui institusi-institusi keuangan lokal. Ketiga, adanya kebutuhan untuk pengukuran kemajuan yang lebih akurat, baik dalam hal pengembalian manfaat investasi, dan juga dari sisi pendapatan berkelanjutan.

Diskusi dalam berbagai sesi di Forum tahun ini berkisar dari mulai diversifikasi instrumen keuangan untuk mewujudkan REDD +, langkah-langkah pengurangan risiko untuk investasi sektor swasta dalam restorasi bentang alam, penilaian kerangka hukum dan kebijakan untuk investasi bentang alam di Afrika, serta bagaimana menghubungkan investor-investor penolong memulai mengunakan lahan.

Beberapa diskusi yang paling ramai terjadi perdebatan tentang munculnya inovasi sistem keuangan seperti rantai-rantai blok, mobile banking dan Internet of Things dan bagaimana teknologi seperti ini berpengaruh terhadap bentang alam.

Inovasi digital yang mampu mengaktifkan dan mengganggu layanan keuangan, disebut sebagai fintech, bersama aplikasi mobile dan perangkat lunak pemetaan GPS membantu membuka pembiayaan skala besar yang diperlukan untuk mengatasi perubahan iklim dan tantangan pembangunan global.

“Sekitar setahun yang lalu, kami tengah mencari solusi tentang penerbangan murah cara untuk menghubungkan petani kecil dengan pemodal besar,” kata Christopher Botsford, CEO dan co-founder dari ADM Capital, manajer investasi yang tengah mencari bagaimana mencapai apresiasi modal jangka panjang dengan berinvestasi di berbagai peluang di Asia, Eropa Tengah dan Eropa Timur.

Dan solusi yang ditawarkan? Perangkat lunak.

Perangkat lunak seperti GeoTraceability, baru-baru ini diakuisisi oleh PriceWaterhouse Coopers, menawarkan pelacakan khusus dan pengumpulan data teknologi seperti GPS pemetaan sumber daya alam termasuk kakao, kopi, dan mineral secara global.

Teknologi ini telah memfasilitasi pemetaan dan pengumpulan data dari lebih dari 120.000 hektar produksi di 11 negara, dengan menggunakan GPS dan GIS teknologi. Perangkat ini juga mengumpulkan data  106.000 petani kecil di negara-negara berkembang, memberikan informasi untuk membantu meningkatkan produksi, praktik pertanian, dan mendukung akses petani kecil ke rantai pasokan internasional.

Saat saya memulai bekerja di lingkungan ini, sangat tidak mungkin untuk mengetahui secara pasti berapa banyak deforestasi telah terjadi, dan dimana hal itu terjadi. Sekarang, kita mampu untuk melacak deforestasi dan menindainya secara spesifik rantai suplai dengan cara yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya.

Marco Albani, Direktur Tropical Forest Alliances

Teknologi ini juga membantu meringankan risiko bagi para investor yang khawatir untuk berinvestasi dengan petani kecil, dan mendorong meningkatkan komitmen mereka.

“Hal ini merupakan pertanyaan untuk menemukan suatu format di mana para investor dapat melihat bahwa mereka akan mendapatkan uang mereka kembali,” kata Botsford. “Paket perangkat lunak ini memungkinkan kita untuk mencegah pemalsuan sertifikat tanah dan pada bidang-bidang tanah, Anda dapat memantau apa yang tengah terjadi. Hal ini meningkatkan transparansi.

“Kami kemudian dapat menarik pencabutan kembali (off-takers) untuk memberikan kami kontrak-kontrak terdahulu dan seperti itulah bagaimana kami dapat mengkonversi dari menghubungkan berbagai petani kecil mandiri ke dalam format yang dapat diterima oleh bank berbasis grosir. Inilah tujuan kami.”

Sebelum proses ini, sangat rumit dan menakutkan menjalankan tugas menggabungkan jutaan petani kecil yang berbeda-beda. “Di Indonesia, ada empat juta petani yang terlibat dalam perkebunan kelapa sawit,” kata Botsford. “Banyak dari mereka yang tidak memiliki sertifikat tanah. Dua pertiga dari mereka terjerat dengan hutang. Jadi dengan kondisi seperti itu, bukan tidak mendatangkan profit sebagai sebuah sektor. ”

Namun teknologi keuangan telah mengubah semua itu dengan membuat investasi ini lebih berskala.

“Untuk pertama kalinya, Anda dapat membantu jutaan petani kecil sekaligus. Sebelum perangkat lunak ini ditemukan, Anda tidak bisa melakukan itu. Apa yang telah dilakukan, adalah membuat para petani kecil ini memenuhi syarat untuk mendapatkan dana termasuk membawa mereka ke dunia modern, jadi ini sangat menarik. ”

Untuk pertama kalinya, Anda dapat membantu jutaan petani kecil sekaligus. Sebelum perangkat lunak ini diciptakan, Anda tidak bisa melakukannya. Apa yang telah dilakukan, adalah membuat para petani ini laik mendapatkan pendanaan

Christopher Botsford, CEO dan co-founder ADM Capital

Arah Pembicaraan

Selain memberikan stimulan diskusi, tujuan utama Forum bagi para peserta adalah keluar dengan rencana-rencana solusi yang laik untuk menghubungkan modal bagi petani kecil.

Untuk pertama kalinya, program Dragon Den diadakan untuk memungkinkan para pembawa presentasi mencari peluang konkrit investasi bagi suatu panel investor, ahli-ahli keuangan dan praktisi penggunaan lahan. Semua peluang-peluang ini memperkenalkan proyek-proyek nyata pada stadium yang lebih tinggi.

Tiga peluang termasuk: The Land Degradation Neutrality Fund, yang diciptakan oleh Mirova dan Mekanisme global UNCCD untuk mendukung rehabilitasi besar-besaran lahan terdegradasi bagi pemanfaatan berkelanjutan dengan pembiayaan sektor swasta jangka panjang; Sustainable Ocean Fund oleh Althelia Ekosfer, kemitraan publik-swasta baru yang didedikasikan bagi investasi berdampak pada proyek-proyek kelautan dan pesisir, dan Sustainable Cocoa – inisiasi di Republik Dominika oleh NatureBank, yang bertujuan untuk mencapai kakao keberlanjutan dengan mendukung masyarakat yang bergantung pada kakao sebagai mata pencaharian mereka.

Dana-dana ini menunjukkan volume proyek-proyek yang sudah berdiri saat ini yang haus akan investasi sektor swasta.

Dalam sambutannya di penutupan Forum, Burrows membandingkan bunga pemasangan sektor swasta dalam investasi bentang alam berkelanjutan untuk menciptakan gelombang mencapai puncak melalui jangka waktu panjang. Sampai saat ini, gelombang tersebut masih dalam formasi.

“Tahun lalu, ketika saya berbicara di edisi peluncuran acara ini, saya mengatakan bahwa gelombang hendak istirahat. Jadi, saya pikir hal ini terpecahkan di Paris selama COP. Harapan saya adalah bahwa ketika kita bertemu lagi di sini tahun depan, kita akan melihat perubahan besar dalam hal sikap dari lembaga pembiayaan global untuk pembiayaan pembangunan berkelanjutan.”

Paola Agostini, Kepala Global Resilient Landscape Bank Dunia, telah menyaksikan suatu perubahan. “Forum ini tidak mungkin ada sepuluh tahun yang lalu. Ketika saya masih di Liberia bekerja pada sektor hutan, kami coba lakukan kemitraan – dahulu ada sektor publik dan LSM, namun sektor swasta umumnya tidak ada. Hal itu tidak lagi terjadi. “

(Visited 112 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Leona Liu di L.Liu@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Deforestasi Tenurial Bentang alam Kelapa sawit Tujuan Pembangunan Berkelanjutan