Liputan Acara

Memutar arah deforestasi, merestorasi bentang alam

Apa arti restorasi bagi pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat dan aksi iklim di Asia-Pasifik
Bagikan
0
Restorasi yang dilakukan dengan baik akan meningkatkan keragaman hayati, keamanan pangan dan akses pasar bagi produk hutan, serta meningkatkan penghasilan masyarakat lokal.
Restorasi yang dilakukan dengan baik akan meningkatkan keragaman hayati, keamanan pangan dan akses pasar bagi produk hutan, serta meningkatkan penghasilan masyarakat lokal. Tuti Herawati/CIFOR

Paling popular

Asia Pacific - Bulan April lalu para pemimpin Asia Pasifik berkumpul di Brunei Darussalam mendiskusikan upaya-upaya memperlambat, menghentikan dan memutar arah deforestasi di Asia Pasifik. Tapi tahukah Anda apa artinya ‘memutar arah’ deforestasi? Bagaimana hal ini dapat dilakukan tanpa menganggu pertumbuhan ekonomi dan penghidupan di wilayah ini?

Pada diskusi Pertemuan Puncak Hutan Hujan Asia Pasifik 2016, para pakar pemerintahan, peneliti dan pembangunan membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam sesi  ‘Merestorasi hutan hujan kita’. Panelis pada sesi ini menyatakan bahwa memutar arah deforestasi tidak lantas berarti melakukan reforestasi total, melainkan melakukan integrasi pendekatan antara tujuan restorasi hutan dengan berbagai tujuan lain dalam bentang alam hutan, seperti penghidupan, pertumbuhan ekonomi serta mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Li Jia, perwakilan dan moderator sesi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) memaparkan hal ini dengan menggunakan istilah dari organisasinya yang disebut sebagai ‘restorasi bentang alam hutan’ (FLR).

Memasukkan pendekatan bentang alam ke dalam restorasi, FLR mengintegrasikan tujuan reforestasi dengan pemanfaatan lahan lain, termasuk pertanian dan agroforestri untuk mendukung pembangunan ekonomi.

Chetan Kumar, salah satu anggota panel IUCN, memberikan penjelasan lebih jauh:

“Penting diakui bahwa restorasi bentang alam (hutan) adalah memulihkan fungsi ekologis sejalan dengan meningkatkan kesejahteraan manusia. Jadi kita tidak hanya berbicara mengenai manfaat karbon atau adaptasi, tetapi keseluruhan rentang manfaat,” katanya.

Komitmen Global, Tekanan Lokal 

Dalam situasi kepadatan penduduk dan pertumbuhan pesat di wilayah Asia Pasifik, hutan berada di bawah tekanan untuk memenuhi kebutuhan lokal, berkontribusi terhadap ekonomi nasional dan tujuan global.

“Banyak negara berkembang di Asia Pasifik berupaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi rakyatnya. Meski pada saat yang sama seringkali diterjemahkan sebagai penyebab deforestasi hutan dan tekanan terhadap hutan di lapangan,” kata Jia.

Di Asia Pasifik, luasan hutan rusak dengan kecepatan1,35 juta hektare setahun. Kebakaran, pembersihan lahan untuk tanaman komersial, dan penebangan tak berkelanjutan menyebabkan deforestasi dan degradasi hutan dalam skala masif.

Penyelesaian global dan regional berupaya membalikkan tren ini. Inisiatif REDD+ menjanjikan imbalan bagi restorasi hutan. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan menyerukan restorasi dalam mencapai “dunia tanpa degradasi lahan”. Perjanian Paris menekankan perlunya meningkatkan peran hutan sebagai serapan karbon. Sementara Tantangan Bonn, sebuah inisiatif terbesar dunia untuk kegiatan restorasi, menyerukan komitmen global untuk merestorasi 150 juta hektare hutan pada tahun 2020 dan 350 juta hektare pada tahun 2030.

Perlu waktu untuk menanam dan bertumbuh kembali

Noralinda Ibrahim, Pemerintah Brunei Darussalam

Negara-negara Asia Pasifik merespon secara positif berbagai inisiatif tersebut, dan memacu upaya mandiri, termasuk dari pemerintah, lembaga regional, sektor swasta dan masyarakat sipil. Target Tutupan Hutan APEC 2020, misalnya, menargetkan restorasi 20 juta hektare hutan di wilayah tersebut pada 2020 – sekitar 77 persen diestimasikan sudah tercapai.

Tetapi di luar upaya mencapai komitmen regional dan internasional, upaya restorasi perlu memberi manfaat bagi keseluruhan bentang alam hutan, termasuk masyarakat yang penghidupannya bergantung pada hutan.

Pemerintah Brunei Darussalam, tuan rumah Pertemuan Puncak, Tengah mengembangkan ekoturisme sebagai salah satu manfaat tambahan dari restorasi bentang alam hutan. Negara Brunei telah berkomitmen melindungi 22 juta hektar hutan di Jantung Borneo, bersama Indonesia dan Malaysia, serta berjanji membatasi pertanian hanya satu persen dari keseluruhan wilayahnya.

“Perlu waktu menanam dan menumbuhkan kembali,” kata panelis Noralinda Ibrahim, Pelaksana Wakil Direktur Departemen Kehutanan Brunei. “Tetapi kami berhasil merestorasi beberapa area semirip mungkin kondisi alaminya.”

Panelis John Herbohn, Profesor Kehutanan Tropis dari Universitas Sunshine Coast Australia, berbagi kisah sukses restorasi bentang alam hutan berbasis masyarakat di Filipina.

Setelah empat kali dalam 20 tahun upaya restorasi, penggunaan pendekatan bentang alam di Provinsi Biliran Filipina membawa hasil, kata Herbohn. Hasilnya mampu meningkatkan keragaman hayati, keamanan pangan dan akses pasar bagi produk hutan, serta meningkatkan penghasilan masyarakat lokal.

Salah satu kunci suksesnya adalah menyeimbangkan upaya restorasi dengan kebutuhan setempat untuk agroforestri dan pertanian dalam keragaman bentang alam hutan.

“Ada perbedaan pengalaman antara pemerintah dan masyarakat,” katanya. “Bagi masyarakat keberagaman bentang alam adalah yang terbaik.”

Daya Tahan Hutan Hujan 

Ferry Slik, Asisten Profesor Universitas Brunei Darussalam, mengingatkan panel bahwa keberagaman bentang alam hutan tidak hanya baik bagi manusia, tetapi juga bagi keragaman hayati.

“Makin beragam, makin baik peluangnya bertahan,” katanya.

Dari perspektif ahli biologi, Silk menyatakan bahwa tidak ada masalah dengan pembangunan lahan, sepanjang jejaring fragmen hutan alam dapat dipertahankan – dan hal ini memerlukan perencanaan yang hati-hati.

Bahkan dalam kejadian ketika perencanaan hati-hati tidak diterapkan, harapan keberhasilan restorasi masih dapat ditemukan dalam daya tahan spesies, katanya. Menunjuk contoh kebakaran hutan di Borneo, Ia menyatakan bahwa banyak spesies asli masih dapat ditemukan di sana.

“Hutan dapat menyembuhkan diri,” katanya. “Bahkan setelah kebakaran, hutan masih dapat pulih.”

(Visited 87 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Deforestasi Bentang alam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan