Analisis

‘Praktik, praktik dan praktik – meski tidak harus selalu berurutan’

Pada Pekan Air Dunia 2016, para tokoh mengemukakan pertanyaan penting: ‘bagaimana dengan aksi?’
Bagikan
0
Peran ketersediaan air dapat ditempatkan sebagai pendorong pencapaian sebanyak mungkin tujuan-tujuan SDG
Peran ketersediaan air dapat ditempatkan sebagai pendorong pencapaian sebanyak mungkin tujuan-tujuan SDG Moses Ceaser/CIFOR

Paling popular

“Praktik, praktik, praktik  – meski tidak harus berurutan.”

Demikian respon dari Angel Gurria, Sekretaris-Jenderal OECD, pada Pekan Air Dunia ketika ditanya apa tiga prioritas strategi yang harus menjadi fokus sektor air tahun ini.

Stockholm – yang dikenal sebagai ‘kota air’ – menjadi tuan rumah pertemuan tahunan ke-26 yang bertema ‘Air untuk Pertumbuhan Berkelanjutan’. Fokus pada upacara pembukaan, lebih pada merayakan adopsi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-enam, mengenai air dan sanitasi dan bagaimana hal ini dapat dicapai.  Lebih jauh, kemudian dibahas bagaimana air dapat ditempatkan sebagai pendorong pencapaian sebanyak mungkin tujuan-tujuan SDG.

Ditekankan juga, setelah tahun 2015 menjadi tahun produktif dalam hal mengidentifikasi target dan menyusun mandat, tahun 2016 harus menjadi tahun komitmen-komitmen tersebut ditransformasikan menjadi aksi. Pada akhirnya, hal-hal itu menjadi kesepakatan universal yang kemajuannya hanya bisa dilakukan dengan mengembangkan solusi holistik yang mengintegrasikan berbagai tujuan dari beragam sektor.

Dari diskusi awal, terdapat dua hal penting yang perlu dicatat. Pertama, tampak nyata kesejajaran antara tujuan sektor air dan sektor kehutanan (serta mungkin pula pada sektor pertanian, energi, industri, perikanan dll. ). Apakah sektor kehutanan juga menyambut inklusi target 15.2? Ya. Adakah komitmen terhadap upaya implementasi? Ya. Apakah muncul persepsi bahwa mewujudkan komitmen kehutanan menjadi dasar bagi pencapaian tujuan SDG yang lain? Ya. Apakah solusi holistik tengah dicari? Ya. Memang, jelas sekali jika istilah ‘air’ diganti ‘hutan’, acara ini bisa menjadi ‘Pekan Kehutanan Dunia’.

Bagaimanapun, hal ini mendorong menguatnya dukungan bagi integrasi sebagai katalis kemajuan potensial. Catatan kedua adalah penyebab kekhawatiran: meski air sudah dipahami sebagai fokus utama, dan sudah posisinya sangat jelas, kurang diperhatikannya sektor lain (kehutanan, pertanian, swasta dan lain-lain) jelas mengemuka. Hal ini memunculkan pertanyaan: bagaimana mencapai integrasi apabila orang dibujuk untuk sesuatu yang telah dilakukannya?

Tantangan dan solusi

Seiring berjalannya pertemuan, kongruensi antara antara air dan hutan bergerak lebih dari tujuan bersama dengan memasukkan tantangan dan solusi. Berbagai tantangan di sektor air akan sejalan dengan yang terjadi di sektor kehutanan: kurangnya kemauan politik, ketidakselarasan tujuan politik dengan kapasitas teknis, keraguan bagaimana mencapai kesetaraan jender, kurangnya pelibatan sektor swasta, lemahnya kemasan bisnis untuk investasi di sektor ini, perlunya kerangka pemantauan yang terpercaya, tidak jelasnya strategi insentif pada komitmen lebih dari sekadar siklus proyek, dll.

Hal menarik, dan sekaligus mengkhawatirkan, adalah bahwa solusi yang ditawarkan juga seragam: komitmen lebih kuat dari seluruh pemangku kepentingan pemerintah dan non-pemerintah dalam mencapai SDG, kebutuhan tata kelola untuk mengkoordinasikan kebijakan dalam mencapai target lintas tujuan (dengan air sebagai dasar pencapaian seluruh tujuan), pengembangan sistem pemantauan yang dapat memberi evaluasi kemajuan reguler, meningkatnya tata kelola sumber daya alam, lebih kuatnya persyaratan keberlanjutan dan akuntabilitas dari sektor komersial, penyempurnaan dialog dengan sektor swasta, dan, tentu saja, pendekatan multi-sektor lebih terintegrasi.

Kekurangan yang mengemuka dari banyak diskusi, adalah jawaban untuk pertanyaan sulit, bagaimana solusi luas dan umum ini bisa dilakukan dalam praktik. Bahkan bisa dikatakan bahwa apa yang ditampilkan di sini, semata rekomendasi, dan bukan solusi sama sekali.

Bagaimanapun, dalam kondisi seperti ini tetap ada peluang. Mungkin bukan benar-benar “solusi” yang tengah kita cari. Apalagi ambisi mencapai SDG, tantangan kemiskinan global, kelaparan, keamanan air, dan konservasi keragaman hayati tampaknya tidak akan bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Dalam kondisi ini, daripada mencari solusi, kita seharusnya berupaya berkonsentrasi dalam mengintegrasikan upaya memperbaiki tata kelola masalah-masalah tersebut.

Perlu dicatat bahwa SDG telah memberi kerangka kerja yang berguna bagi aksi, dan sekumpulan tujuan yang terdefinisi jelas, memberikan gambaran apa yang perlu dilakukan pada skala global. Dan, meski sifat alami sektoral tiap tujuan dapat meningkatkan kecenderungan solusi sektoral, seruan pendekatan holistik makin kencang.

Pada tingkat sub-nasional (di mana upaya implementasi direalisasikan), upaya yang dilakukan juga masih dalam tahap pengembangan. Meski menghadapi tantangan implementasi sendiri-sendiri, pendekatan bentang alam terintegrasi sebagai kerangka konseptual menawarkan titik awal potensial. Dengan fokus pada dialog multi-pemangku kepentingan dan tata kelola adaptif, pendekatan bentang alam mengupayakan integrasi kebijakan dan praktik, dan lebih menyeimbangkan tujuan menstimulasi bentang alam lebih berkelanjutan.

Dengan digelarnya Forum Bentang Alam Global, November mendatang, kita akan memiliki sebuah forum untuk mendorong berbagai sektor terlibat lebih dari sekadar lingkup terbatas mereka, dan akan menarik melihat apakah kemajuan dapat dicapai melalui integrasi, implementasi, dan lebih penting lagi, masalah ‘bagaimana’.

(Visited 66 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Tujuan Pembangunan Berkelanjutan