Bagikan
0

Indonesia - Perdebatan mengenai hilangnya hutan di Kalimantan pada umumnya terfokus pada seberapa besar kesalahan perkebunan tanaman industri dalam hal ini. Kubu konservasi menyalahkan sawit dan kertas atas kerusakan hutan hujan tropis. Sementara kubu perkebunan berkilah, perluasan tanaman dilakukan di atas lahan terdeforestasi.

Sampai saat ini, kedua belah pihak sama-sama kurang memiliki bukti pembenaran atas klaim tersebut.

“Ceritanya rumit, karena penyebab deforestasi itu banyak. Sampai saat ini kita kurang memiliki informasi yang dapat membedakan mana yang disebut perkebunan baik dan mana yang perkebunan jahat,” kata Douglas Sheil dari Norwegian University of Life Science.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di dalam Scientific Reports, Sheil dan para ilmuwan menelisik lebih dari 400 citra satelit Landsat pulau Kalimantan antara tahun 1973 hingga tahun 2015 untuk menyusuri jejak deforestasi dan degradasi hutan seiring terjadinya perluasan perkebunan. Dampak kekeringan dan kebakaran terkait El Nino juga menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan.

Menurut penelitian ini, pada tahun 1973, sebanyak 76 persen, atau 55,8 juta hektare lahan di Kalimantan adalah hutan hujan tua. Ilmuwan menyatakan bahwa 18,7 juta hektare hutan digunduli antara tahun 1973 hingga tahun 2015. Dan terjadi perluasan perkebunan hutan industri sebesar 9,1 juta hektare.

Pada tahun 2015, 50 persen pulau yang dihuni oleh Malaysia, Indonesia dan Brunei ini masih berhutan. Sebanyak 28 persen hutan hujan tua dan 12 persen tertutupi perkebunan tanaman industri.

“Kami menghitung jeda antara deforestasi dan pendirian perkebunan tanaman industri. Alasan kami, sejalan dengan generalisasi statistikal, perkebunan industri yang berkembang cepat setelah penggundulan hutan memang bertanggungjawab terhadap penggundulan. Sementara jeda lebih lama cenderung menunjukkan bahwa perkebunan itu menghindari deforestasi langsung,” kata David Gaveau, ilmuwan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional  (CIFOR), sekaligus penulis utama penelitian ini.

Membuat Perbandingan

Penelitian menemukan pola kontras antara kecepatan konversi Indonesia dan Malaysia, yaitu beda waktu antara deforestasi dan pembangunan. Di Malaysia, konversi cepat lahan menjadi perkebunan lebih besar, yaitu 57-60 persen dari keseluruhan deforestasi sejak tahun 1973. Sementara di Indonesia tercatat 15-16 persen.

   Kebakaran terjadi di lahan terdegradasi di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah Oktober 2015. Bernat Ripoll/Borneo Nature Foundation

“Dari 15-16 persen deforestasi di Kalimantan yang termasuk kategori konversi cepat, sebanyak 11-13 persennya menjadi sawit. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas perkebunan sawit dikembangkan di lahan terdegradasi, yaitu hutan terkonversi menjadi paku-pakuan, rumput dan semak akibat kekeringan dan kebakaran berulang, terutama selama tahun El Nino,” kata Gaveau saat presentasi di Pertemuan Tahunan Asosiasi Biologi dan Konservasi Tropis 2016.

Bahwa banyak perkebunan sawit di Kalimantan dibangun di atas hutan terbakar, memang menjadi pemicu perdebatan apakah sawit merupakan penyebab utama deforestasi di wilayah ini.

“Banyak orang berpendapat bahwa perkebunan seharusnya dikembangkan di atas lahan terdegradasi, dan dengan susah payah – kami temukan – bahwa di Kalimantan, inilah yang mayoritas terjadi,” kata Sheil. Di Malaysia, penelitian menyatakan bahwa perkebunan industri adalah penyebab utama hilangnya hutan karena cepatnya tingkat konversi.

   Lahan kritis dapat membentuk banyak tipe, tertutupi dengan tanaman pakis, rumput dan semak
   Lahan kritis di Tebo, Kalimantan Timur berubah bentuk menjadi tanah kupas dan tungul-tunggul pohon

Dilihat dari perspektif itu, Indonesia terlihat jauh lebih baik daripada yang banyak diasumsikan.

Tetapi, ilmuwan menemukan terjadinya perubahan pada tahun 2005.

“Sejak tahun 2005, Kalimantan mengalami ledakan pembangunan perkebunan. Lebih dari separuh perkebunan yang ada saat ini berdiri mulai di tahun tersebut, dan ada peningkatan tajam konversi cepat hutan menjadi perkebunan. Kalimantan menjadi kontributor utama konversi cepat hutan berdasarkan area. Meskipun penanaman dilakukan di lahan terdegradasi, deforestasi tetap sangat tinggi di Indonesia dan Malaysia. Tanda-tanda perlambatan belum terlihat,” kata Gaveau.

“Masih diperlukan banyak upaya untuk melindungi hutan Kalimantan,” tambahnya.

Topik Hangat

Fokus terhadap kompleksitas proses deforestasi menjadi penting, khususnya di tengah meningkatnya seruan boikot produk sawit.

“Ekspansi sawit meningkat sepanjang waktu, dan berkembang dalam konteks lokal yang berbeda. Dengan demikian, ekspansi ini terjadi pada beragam jenis pemanfaatan lahan, mulai dari hutan, sistem agroforestri dan lahan terdegradasi. Penelitian ini menegaskan bahwa beragam dinamika pemanfaatan lahan terkait dengan ekspansi sawit,” kata Pablo Pacheco, ilmuwan utama CIFOR dan penulis pendamping dalam riset ini.

Sudah tidak mungkin lagi melakukan generalisasi terhadap lintasan perkembangan sawit dan dugaan dampaknya.

“Sawit tidak selalu menjadi hal buruk,” kata Sheil. “Sawit memberi pemasukkan berarti bagi masyarakat dan sangat efisien dari segi hasil untuk lahan yang terbatas. Saya khawatir kita menstigmatisasi seluruh tanaman – padahal bukan tanamannya yang menjadi masalah, tetapi di mana kita menanamnya.”

Pendamping penulis penelitian yang lain, Erik Meijaard dari Borneo Futures Project menyatakan, fakta hasil penelitian ini diperlukan dalam debat terkait industri ekstraktif.

“Debat sawit sangat terpolarisasi antara kubu pecinta dan pembenci dengan bumbu dendam. Masih banyak yang belum bisa dikuantifikasi terkait pengembangan dan hubungan sebab-akibat sawit,” katanya.

   Pekerja perkebunan kelapa sawit bersantai di perumahan yang difasilitasi oleh perkebunan di Jambi. James Maiden / CIFOR

Penelitian ini menyoroti peran utama  berulangnya kebakaran hutan dan lahan dalam deforestasi di Kalimantan. Dan sebuah pertanyaan penting yang muncul, adakah bukti regenerasi hutan alam skala besar di lahan tersebut.

Padahal regenerasi lahan terdegradasi adalah aspek penting lain dalam dinamika pemanfaatan lahan terkait dengan sawit.

“Sejauh ini, sedikit penelitian yang ada menunjukkan lemahnya regenerasi lahan terdegradasi. Mungkin lebih baik merancang lahan terdegradasi untuk kebutuhan pertanian, karena lahan terdegradasi menimbulkan masalah kesehatan dari asap beracun yang dilepaskan saat terbakar,” kata Gaveau.

Sejalan dengan pembentukan Badan Restorasi Gambut oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2016, upaya mengatasi pengeringan lahan dan kebakaran, serta gerakan menemukan perusahaan yang bertanggungjawab atas kebakaran di lahan perkebunan mereka tengah dilakukan.

Jalan Tengah

Peta kronologis Kalimantan yang diteliti tersedia secara daring. Masyarakat dapat mencari tahu dan menelaah kehilangan dan konversi hutan menjadi perkebunan. Bagi Sheil, transparansi penelitian mereka, termasuk dengan adanya peta adalah kunci kemajuan dalam masalah ini.

“Banyak titik terang dalam sistem terbuka, sistem daring yang mampu menunjukkan konsesi dan sejarah pemanfaatan lahan,” katanya. “Kejutan besarnya adalah kami menemukan banyaknya penanaman pada lahan terdeforestasi. Jadi kita perlu memberi penghargaan untuk ini tanpa kehilangan pandangan berapa banyak hutan telah hilang.”

“Analisis lebih jauh diperlukan untuk melihat ke luar perkebunan sawit. Menangkap dinamika ekspansi sawit di lahan petani kecil, dan bagaimana aktor lain, termasuk investor lokal, membentuk dinamika pemanfaatan lahan terkait dengan ekspansi sawit”.

Meijaard menambahkan, “Data kami jelas menunjukkan bahwa sawit dan perkebunan industri memainkan peran besar dalam deforestasi, tetapi ini bukan seluruh cerita. Kita perlu menemukan jalan tengah untuk melangkah maju.”

   Matahari terbenam di atas Danau Sentarum di Kalimantan Barat. David Gaveau / CIFOR
(Visited 505 times, 3 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Deforestasi Kebakaran hutan & lahan Kelapa sawit