Wawancara

Peta Lahan Basah Dunia

Peneliti senior CIFOR, Prof Daniel Murdiyarso menjelaskan mengapa peta lahan basah penting bagi aksi perubahan iklim
Bagikan
0
Peta global Interaktif global lahan basah memberi informasi lahan basah, histosol dan stok karbon di seluruh dunia.
Peta global Interaktif global lahan basah memberi informasi lahan basah, histosol dan stok karbon di seluruh dunia. CIFOR/SWAMP

Paling popular

Lahan basah adalah ekosistem penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, karena lahan basah dapat menyimpan sejumlah besar karbon, dan memberi jasa lingkungan esensial. Mengetahui di mana karbon disimpan membantu mengidentifikasi area mana untuk dikonservasi dan diperbaiki agar karbon tersimpan secara maksimal di dalam tanah, dibanding harus lepas ke atmosfer.

Tetapi masih belum cukup diketahui letak lokasi, atau berapa luas tutupan area lahan basah, khususnya di wilayah tropis.

Dalam menjembatani kekurangan ini, sebuah peta daring interaktif diluncurkan bulan lalu. Peluncuran peta ini sekaligus undangan bagi para peneliti dan pakar dalam membantu mengembangkan peta lahan basah dunia ini.

Peta Lahan Basah Dunia memetakkan sebaran lahan basah, histosol – atau lahan bergambut – dan stok karbonnya di seluruh dunia. Para pengunjung dapat secara bebas mengakses data melalui peta daring atau mengunduhnya. Sementara pengguna terdaftar dapat memverifikasi dan menambahkan data.

Inisiatif baru ini muncul dari Program Adaptasi dan Mitigasi Lahan Basah Berkelanjutan (SWAMP), sebuah kerja kolaboratif Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan Departemen Kehutanan Amerika Serikat. Peta ini diluncurkan bersamaan dengan Kongres Gambut Internasional ke-15 di Kuching, Malaysia, bulan lalu. Diskusi lebih lanjut  mengenai topik ini akan dilakukan pada Kelompok Kerja Ilmu Karbon di Manado, Indonesia, pekan ini.

To view the full map, click here

Ilmuwan Utama CIFOR, sekaligus Investigator Utama proyek penelitian SWAMP, Daniel Murdiyarso, menjelaskan:

Apa yang dimaksud Peta Lahan Basah Dunia?

Peta Lahan Basah Dunia adalah peta interaktif berbasis situs-web yang menunjukkan sebaran lahan basah, histosol dan stok karbon global. Peta ini berbasis citra satelit Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer, atau MODIS. Peta ini mencakup wilayah tropis dan subtropis, dari 30 derajat Utara dan 70 derajat Selatan.

Data bulanan diambil dari kumpulan data global WorldClim, dan data evapotranspirasi diambil dari rujukan bulanan yang diadopsi FAO dari Unit Penelitian Iklim Universitas East Anglia. Data topografik diambil dari Shuttle Radar Topography Mission Digital Elevation Model yang diolah CIAT, Pusat Penelitian Pertanian Tropis.

Menggunakan data-data ini, kami memberi pengguna semacam ‘potret’ dalam periode tertentu.

Apa yang dimaksud ‘lahan basah’, ‘histosol’ dan ‘stok karbon’?

‘Lahan Basah’ dalam konteks ini merujuk pada area permukaan tanah basah pada periode waktu tertentu. Tingkat kebasahan terentang dari terendam permanen dalam badan air, hingga area yang secara periodik kering dan basah kembali.

Negara yang memiliki wilayah lahan basah luas kini berupaya menetapkan lokasinya dan bagaimana melaporkannya.

Daniel Murdiyarso, Peneliti Utama SWAMP

‘Histosol’ adalah tanah bergambut yang cenderung terbentuk dalam lahan basah. Menurut definisinya, lahan ini memiliki ketebalan lebih dari 40 sentimeter dan mengandung 20-30% berat materi organik. Materi organik, seperti sisa-sisa tanaman dan hewan, terdekomposisi secara perlahan dalam air. Jadi histosol penuh dengan materi organik dan merupakan reservoar karbon yang penting.

‘Stok karbon’ merujuk pada jumlah karbon tersimpan dalam beragam kompartemen ekosistem, termasuk biomassa di atas dan di bawah permukaan, dalam reruntuhan kayu dan serasah, serta di kedalaman tertentu tanah. Stok karbon diukur dengan satuan ton per hektare.

Mengapa hal-hal itu perlu dipetakan?

Dengan memetakan lahan basah dan histosol, yang merupakan sistem kaya-karbon, kita dapat lebih baik melakukan estimasi stok karbon secara spasial. Ini membantu membuat kuantifikasi spasial, lebih dari tabel atau bentuk lain. Sehingga setiap orang dapat melihat secara langsung area yang menjadi fokusnya.

Misalnya, jika negara tertentu ingin mencari lebih detail di mana lokasi lahan basah, data ini dapat ditemukan dengan melihat peta. IPCC [Intergovernmental Panel on Climate Change] baru-baru ini mempublikasikan panduan inventarisasi gas rumah kaca di lahan basah, dan negara-negara yang memiliki lahan basah luas, kini berupaya menetapkan lokasi dan bagaimana melaporkannya.

Apa hubungannya dengan perubahan iklim?

Mengetahui stok karbon secara spasial memungkinkan kita mengidentifikasi wilayah potensial mitigasi perubahan iklim dengan menjaga kolam kaya-karbon yang ada serta meningkatkan sekuestrasi dan simpanan karbon. Peta ini juga berguna sebagai alat melokalisir dan menentukan prioritas aktivitas restorasi, seperti pembasahan dan penanaman kembali, sebagai bagian tindakan adaptasi perubahan iklim.

Siapa yang akan menjadi pengguna utama peta ini?

Saya tidak tahu bisa berharap apa dari para penggunanya; mereka mungkin datang dari beragam latar pemikiran. Mereka mungkin bukan ahli tanah, atau bahkan yang tertarik soal perubahan iklim. Tetapi jika pengguna adalah ahli dalam bidangnya, jelas mereka dapat berkontribusi. Selain dari hidrologis, ahli tanah dan perubahan iklim, kita dapat melihat beragam pengguna seperti dari pengembang lahan, pengembang infrastruktur, konservasionis dan insinyur.

Pengguna dapat mendaftar melalui akun Google. Semua informasi personal diperlakukan rahasia, dan tidak akan digunakan untuk tujuan di luar proyek Peta Lahan Basah Dunia.

Bagaimana peta ini akan meningkatkan penelitian lebih jauh di area ini?

Data yang digunakan untuk membuat peta dapat diunduh secara bebas oleh seluruh pengguna. Data ini berbentuk GeoTIFF dan dapat diolah dengan program sistem informasi geografis seperti ArcGIS.

Dengan memanfaatkan peta ini, penelitian lebih jauh dapat dilakukan untuk lebih memahami siklus karbon dan faktor yang mempengaruhi prosesnya. Dengan kemudahan membandingkan berbagai lokasi dalam peta juga akan membantu mentransfer pendekatan dari inisiatif restorasi lahan gambut yang berhasil ke bagian lain dunia.

(Visited 149 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Daniel Murdiyarso di d.murdiyarso@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Deforestasi Sertifikasi Kayu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan