Wawancara

Nutrisi dan Bentang Alam

Bertepatan dengan perayaan Hari Pangan Dunia, ilmuwan CIFOR Amy Ickowitz berbagi pandangan mengenai pentingnya hutan untuk nutrisi.
Bagikan
0
Seorang perempuan bertani di Nusa Tenggara Timur. Kredit foto: CIFOR
Seorang perempuan bertani di Nusa Tenggara Timur. Kredit foto: CIFOR

Paling popular

Indonesia - CIFOR: Penelitian apa yang tengah Anda lakukan terkait hubungan antara nutrisi dan bentang alam?

Amy Ickowitz: Penelitian kami diawali dengan memperhatikan kaitan antara hutan dan konsumsi makanan. Kami menghubungkan sekumpulan data kesehatan demografi yang sangat besar dan informasi terkait konsumsi makanan – dengan data lebih dari 90.000 anak-anak di bawah usia lima tahun dari 21 negara Afrika termasuk juga data tutupan pohon.

Kami menemukan bahwa anak-anak yang tinggal di dalam lingkungan yang memiliki tutupan pohon lebih padat memiliki keragaman konsumsi makanan lebih tinggi. Artinya konsumsi pangan mereka lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak yang tinggal di wilayah tidak berhutan. Keragaman konsumsi telah diakui oleh para pakar nutrisi sebagai salah satu indikator penting menu makanan sehat. Kami juga menemukan bahwa anak-anak di wilayah tertutup hutan lebih banyak mengkonsumsi buah dan sayuran.

Jadi, bagi kami cukup untuk memberikan bukti pendahuluan tentang adanya hubungan antara hutan dan konsumsi makanan, meski belum jelas ada apa di balik hubungan ini – apakah ini terkait dengan praktik pertanian di dalam wilayah hutan? Apakah hal ini disebabkan penghasilan dari produk hutan yang digunakan untuk membeli makanan? Apakah hal ini terjadi karena masyarakat mengumpulkan makanan dari hutan?

Langkah kami berikutnya adalah mengupayakan dukungan dana riset dari DFID KNOWFOR. Di Afrika, kami meneliti lima negara yang memiliki perbedaan jenis hutan: Ethiopia, Uganda, Zambia, Kamerun dan Burkina Faso. Kami mengumpulkan data kuantitas pangan dan sumber pangan yang dikonsumsi oleh ibu dan anak di wilayah berhutan dan tidak berhutan, untuk membandingkan kualitas makanan mereka. Hasil riset ini masih dalam proses penelitian lebih dalam.

CIFOR: Mengapa hutan penting dalam konsumsi makanan?

Ickowitz: Hutan dapat secara langsung memberikan manfaat pada masyarakat; penduduk bisa memetik buah-buahan dari hutan, berburu hewan liar – daging merupakan salah satu kelompok makanan terpenting, namun terbatas bagi masyarakat miskin di negara berkembang. Di Burkina Faso, penduduk banyak makan dedaunan, dan daun hijau merupakan sumber mikronutrisi penting.

Perhitungkan juga tentang jasa lingkungan yang diberikan oleh hutan – pertanian dapat lebih produktif di wilayah berhutan, atau jenis pertanian yang dipraktikkan di wilayah berhutan dengan pergiliran tanaman, termasuk sistem agroforestri membantu pola konsumsi sehat lebih kondusif. Hal ini jeals karena terjadi keragaman pangan dibandingkan satu jenis budidaya tanaman pokok saja. Penduduk cenderung melakukan penggiliran tanaman dengan kacang-kacangan dan sayur seraya memelihara pohon buah di lahan tersisa. Penduduk juga mengatur jeda untuk berburu hewan kecil. Keragaman di ladang tersebut mencerminkan variasi konsumsi makanan sehari-hari.

CIFOR: Masalah apa yang dapat ditimbulkan deforestasi terhadap keamanan nutrisi?

Ickowitz: Jika kita melakukan deforestasi untuk menghasilkan lebih banyak padi dan jagung, dan kita mengorbankan pohon buah, sayuran dan perburuan, mungkin kita akan memperoleh kalori yang lebih tinggi, namun faktanya keseluruhan kualitas konsumsi makanan bisa jadi malah menurun.

Terlebih jika penghasilan dan daya beli meningkat dan daya beli makanan di pasar, orang cenderung membeli makanan kurang sehat – makanan dengan kadar gula dan lemak lebih tinggi, nasi putih versus nasi merah – dan sebagian makanan sehat yang didapat sebelumnya, mungkin tidak ada di pasar, atau mungkin terlalu mahal. Lebih mudah berburu dan memanggang hewan daripada membeli daging, khususnya di wilayah yang infrastrukturnya buruk.

Hipotesis kerja kami adalah pertanian tradisional di wilayah berhutan cenderung menciptakan pola konsumsi makanan lebih sehat dibanding pertanian komersial. Jika ini benar, kami pikir penting bagi pengambil kebijakan mempertimbangkan hal ini dalam kebijakan pemanfaatan lahan.

Amy Ickowitz, ilmuwan CIFOR

CIFOR: Kini Anda memindahkan fokus penelitian ke Indonesia. Mengapa?

Ickowitz: Indonesia tengah menjalani perubahan cepat dari pertanian tradisional menjadi perkebunan sawit dan pertanian komersial lain. Perubahan ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi, dan jelas akan memberikan pengaruh terhadap perubahan konsumsi makanan.

Hipotesis riset kami adalah pertanian tradisional di wilayah berhutan cenderung menciptakan pola konsumsi makanan lebih sehat dibanding pertanian komersial. Jika ini benar, kami pikir penting bagi pengambil kebijakan untuk mempertimbangkan hasil riset ke dalam kebijakan pemanfaatan lahan.

Jika dengan kerangka berpikir yang lain kita perlu mengorbankan hutan untuk ketahanan pangan, mungkin kita bisa saja meningkatkan keamanan pangan bagi masyarakat desa atau kota di wilayah lain dengan memberikan penduduk keleluasaan akses terhadap makanan pokok. Namun ada dampaknya bagi masyarakat lokal seperti memotong dengan paksa akses terhadap keragaman nutrisi seperti buah, sayur, daging dan ikan.

Saat ini deforestasi tengah berlangsung untuk kepentingan pertanian intensif. Kita perlu mendorong para pengambil kebijakan mendapatkan gambaran utuh tentang keterkaitan nutrisi dan hutan.

Kita perlu menyadari apa yang dikorbankan, dan menemukan kebijakan alternatif – menjamin masyarakat lokal memiliki pengganti atas akses makanan bernutrisi yang hilang. Kami tidak melarang pertanian intensif, jika hal itu memberi manfaat bagi masyarakat lokal. Tetapi perlu dipikirkan juga potensi kehilangan makanan bernutrisi yang dikorbankan masyarakat setempat dan bagaimana menggantinya. Bila tidak, bisa jadi kondisi nutrisi di Indonesia akan lebih memburuk.

(Visited 74 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Pertanian ramah hutan Bentang alam