Bagikan
0

Indonesia - Dengan cekatan Siti Maimunah melompat keluar dari perahu kecil, melangkah di antara bibit tanaman dan memasuki tanah terbuka, memantau lahan. Saat ini, dua hektar petak lahan gambut kering dan terdegradasi belum bisa diolah, namun Siti melihat potensi lahan itu untuk energi terbarukan, restorasi lahan dan penghidupan di Kalimantan Tengah.

Selama lebih dari lima bulan terakhir, Siti, dosen kehutanan di Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, rutin berkunjung ke petak terpencil itu. Ditemani para mahasiswanya dan masyarakat desa Buntoi, ia memantau kemajuan lima jenis tanaman bioenergi yang tengah diuji di petak percobaan.

Lihat: Growing energy, restoring land

Tahun lalu, panen karet dan beras hancur akibat kebakaran lahan gambut di beberapa provinsi di Indonesia, sekaligus mengakibatkan polusi udara dan menyisakan lahan terdegradasi. Tidak mampu menanami kembali lahannya, masyarakat Buntoi berharap ada langkah baru.

Pada kunjungannya kali ini, beberapa tanaman uji tampak bertumbuh. Mahasiswa Siti, Kristianto Okoiiko, menghitung jumlah daun dan mengukur pertumbuhan batang dan cabang. Tema, pekerja dari Buntoi menyiangi rumput, dan menemukan nenas merekah di antara baris gundukan bibit tanaman.

“Petak ujicoba ini ingin menunjukkan pada masyarakat bahwa di wilayah mereka, di lahan terdegradasi, ada potensi besar menumbuhkan berbagai jenis tanaman, termasuk tanaman bioenergi,” kata Siti.

   The two-hectare bioenergy trial plot in Buntoi, Central Kalimantan Edliadi Mokhamad/CIFOR

Lebih dari sekadar monokultur

Lima spesies tanaman bioenergi diujicoba di petak ini.

Tanaman uji yang paling berhasil, menurut Siti, adalah Calophyllum inophyllum, atau lebih dikenal sebagai ‘nyamplung’. Hanya dari satu hektare panen biji nyamplung bisa menghasilkan 20 ton minyak biodiesel setahun. Pabrik pengolahan biji nyamplung menjadi minyak sudah beroperasi di pulau Jawa. Tanaman yang biasanya ditanam di tanah bergaram pinggir pantai, untuk pertama kalinya dicoba di lahan gambut. Biji nyamplung seharusnya muncul dalam 1-4 tahun ke depan.

Ujicoba ‘kemiri sunan’ (Reutealis trisperma), ‘lamtoro’ (Leucaena leacocephala) dan ‘gamal’ (Gliricidia sepium) juga berjalan lancar. Seperti nyamplung, kemiri sunan dan lamtoro dapat menghasilkan biodiesel. Gamal dapat dikonversi menjadi biomassa pelet kayu, sumber potensial bagi pembangkit listrik.

Semoga tanaman bioenergi ini dapat menjadi solusi alternatif bagi masyarakat.

 Siti Maimunah, Universitas Muhammadiyah

‘Kaliandra’ (Calliandra calothyrsus) agak mengalami kesulitan saat musim hujan rendah, meski Siti masih memiliki asa untuk tanaman ini. Tanaman cepat tumbuh ini sudah digunakan dan diekspor sebagai biomassa pelet dari Madura. Bunganya mengundang lebah madu, dan berpotensi menjadi tambahan pemasukan. Siti memindahkan sebagian tanaman dari pinggiran sungai ke lahan lebih tinggi, untuk mengatasi masalah kebanjiran.

   Forestry lecturer Siti Maimunah and her student, Kristianto Okoiiko, check the condition of the ‘kemiri sunan’, or Reutealis trisperma. Catriona Croft-Cusworth/CIFOR
   'Kaliandra', or Calliandra calothyrsus. Edliadi Mokhamad/CIFOR
   'Nyamplung', or Calophyllum inophyllum. Catriona Croft-Cusworth/CIFOR

Tanaman keenam, nenas, ditumpang sarikan di antara tanaman bioenergi, menghasilkan panen pangan bersama bahan bakar.

“Kami tidak semata memperkenalkan gagasan monokultur,” kata Siti. “Sambil menunggu tanaman kehutanan, di lahan yang sama dapat dikembangkan tanaman kebutuhan pasar. Seperti nenas.”

Dengan bertanam di lahan terdegradasi, ujicoba ini juga ingin menjawab kritik umum bahwa tanaman bioenergi menyita lahan pertanian produktif. Lebih dari itu, selain tumbuh di lahan sulit, tanaman bioenergi juga berpotensi merestorasi lahan untuk kepentingan masa depan, khususnya gamal dan kaliandra.

Menemukan titik temu antara bioenergi berkelanjutan dan restorasi lahan adalah tujuan utama penelitian yang mendorong dilakukanya  ujicoba ini.

   A pineapple ripens among the bioenergy test crops Catriona Croft-Cusworth/CIFOR

Energi bersih, penghidupan lokal

Menggunakan kano dan sedikit  perjalanan darat, kita bisa temukan desa Buntoi. Desa yang dihuni sekitar 2.500 orang tersebar di sepanjang Sungai Kahayan. Rumah berdiri di atas panggung, agar aman dari turun naik air sungai. Mencari ikan menjadi sumber utama pemasukan, walau juga bergantung pada arus sungai. Polusi dan pemancingan berlebihan menyulitkan penduduk mendapat ikan secara rutin.

Sebelum kebakaran, banyak masyarakat bergantung pada pemasukan tambahan dari padi dan karet, di lokasi petak ujicoba saat ini. Namun, perkebunan tidak lagi bisa dibangun di lahan yang sudah terbakar dan terdegradasi.

“Sulit bagi masyarakat di sini,” kata Yuliatin, penduduk Buntoi yang mengelola toko kecil di depan rumahnya. “Tanaman karet kami terbakar, menangkap ikan di sungai sudah sulit.”

Yuliatin menyambut inisiatif ujicoba tanaman bioenergi. “Yang penting masyarakat berkembang,” katanya.

Karlin K. Ganti, kepala Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) juga merespon positif ujicoba bioenergi.

“Saya kenal masyarakat desa Buntoi ini. Jika ada peluang meningkatkan prospek ekonomi, mereka akan mengambilnya,” katanya.

“Kami baru tahu soal nyamplung, kemiri sunan dan tanaman lain di petak itu. Kami benar-benar mau belajar lebih banyak,” tambahnya.

Yang penting masyarakat berkembang

Yuliatin, pemilik warung di Buntoi

Di seberang sungai desa Buntoi terdapat pembangkit listrik tenaga batu bara yang menerangi wilayah tersebut. Siti berharap, suatu hari biomassa dari gamal dan kaliandra mengganti batu bara pembangkit listrik. Sementara biofuel dari nyamplung, kemiri sunan dan lamtoro dapat dimanfaatkan masyarakat setempat untuk transportasi sungai dan memancing.

“Hidup di sini sangat bergantung pada diesel atau bensin,” kata Siti. “Semoga tanaman bioenergi dapat menjadi solusi alternatif bagi masyarakat.”

   The bioenergy crops are hoped to eventually replace coal as a source of power for Buntoi village. Catriona Croft-Cusworth/CIFOR
(Visited 64 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.