Bagikan
0

Indonesia - Kebakaran lahan gambut di Indonesia menyentuh titik tertinggi. Kalimantan saja mencapai tingkat emisi karbon lebih besar daripada seluruh Uni Eropa saat puncak kebakaran September dan Oktober tahun lalu. Selain kerugian akibat emisi dan luasan lahan terbakar, penelitian tengah dilakukan pada ekonomi politik asap, serta dampak kesehatan dan kerugian ekonomi akibat kebakaran.

Kata ‘kabut asap’ sendiri menyesatkan – karena pada kenyataannya, kebakaran lahan gambut menghasilkan asap beracun, yang mengandung partikel berbahaya seperti karbon monoksida, sianida, amonia dan formaldehida, dalam konsentrasi yang jauh melebihi ambang keselamatan. Masyarakat yang dalam waktu lama terus menghirup asap beracun menghadapi ancaman serius terhadap kesehatan, keamanan pangan dan kesejahteraan.

Dalam artikel ini kita sejenak melangkah mundur dari ilmu pengetahuan tingkat tinggi untuk mengangkat realitas keseharian api dan asap. Dalam kisah foto ini, kami menjalin kata-kata dari lapangan – Kalimantan Tengah dan timur Riau – melalui foto yang diambil saat puncak krisis kebakaran lahan gambut  2015 untuk memberi gambaran realitas keseharian – mereka yang langsung mengalami krisis lingkungan.

   Akibat asap, jarak pandang atau visibility akan rendah sangat membahayakan bagi para pengemudi. Björn Vaughn/CIFOR

Klaustrofobia dalam dunia kuning

Tidak ada daya untuk melindungi mereka yang tidak punya uang untuk mengungsi. Asap di mana-mana, meresapi celah kayu dinding rumah, menembus pintu yang rusak, dan jendela yang hanya tertutupi kain batik.

Sebagian penduduk mengunci diri dalam rumah, berminggu-minggu tak pernah ada tamu, dan tidak tahu dampak terhadap kesehatan fisik dan mental. Usaha tutup, pembangunan terhenti, banyak orang menganggur. Bagi yang lain, keseharian berlanjut, menghirup asap dalam selimut kuning. Serangan asap terhadap keselamatan sehari-hari perlu perhatian serius.

Orang kaya bisa pergi. Yang lain terpaksa tinggal. Sebagian besar orang tidak punya pilihan tempat tinggal dan penghidupan. Bahkan orang kaya terpaksa menunggu bandara kembali dibuka.

   Sebagian masyarakat berlindung di dalam rumah, ada juga masyarakat yang menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa takut. Björn Vaughn / CIFOR
   Sebagian penduduk memakai masker ketika bekerja di luar rumah. Björn Vaughn/CIFOR
   Banyak rumah-rumah penduduk tidak terlindungi – seperti abu yang menempel di kaca jendela rumah Abdul. Björn Vaughn / CIFOR

Generasi mendatang

Di Tangkiling, sedikit di dalam perbatasan Taman Nasional Sebangau, Abdul ingin keluarganya direlokasi ke Rungan Sari. Sebuah rumah kosong mungkin lebih melindungi bayi yang baru lahir. Tetapi istrinya kukuh tinggal. Asap bukan masalah, katanya, mereka akan baik, asap kan sudah biasa. Asap tebal memenuhi rumah ketika Shanti, bayinya lahir.

Di wilayah terdampak, sekolah ditutup. Anak-anak tidak punya tempat bermain, kecuali di jalan penuh asap. Memaksa pikiran melayang pada dampak jangka panjang pada generasi mendatang.

   Anak-anak bermain sepeda, menghirup udara beracun. Björn Vaughn / CIFOR
   Bagai dunia penuh dengan kabut. Björn Vaughn / CIFOR

Tanpa masker

Berbulan-bulan, Emmanuela Shinta tak lelah bekerja meningkatkan kesadaran mengenai ancaman asap terhadap kesehatan, hingga ia kehabisan oksigen dan pingsan. Dalam foto, Shinta tengah memberi perawatan medis dan membagikan masker pada masyarakat desa Tumbang Nusa. Tidak mudah meyakinkan anak-anak perlunya menggunakan masker, dan mau menggunakannya. Bahkan ketika mereka menurut, efektivitas masker tetap rendah. Perhatian pada dampak kesehatan mempersatukan berbagai kelompok pemangku kepentingan.

   Emmanuela Shinta, seorang sukarelawan mendistribusikan masker kepada anak-anak. Björn Vaughn / CIFOR

Catatan lapangan

Orang yang tidak merasakan asap, sulit memahami apa yang terjadi. Dengan melihat gambar, mungkin disangka menggunakan filter fotografi berwarna. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana hidup dalam cengkeraman polusi, bernafas dalam udara beracun, dan oksigen kurang. Satu malam di hotel, saya bangun merasai racun dan berjuang mendapat oksigen. Saya sadar, tidak ada udara bersih dalam radius ratusan kilometer. Panik mendera. Dan  yang membuat saya tenang adalah dengan mendekap erat sepatu bayi anak saya di dada. Debar jantung menurun.

Musim asap: Rutinitas baru?

Bagi sebagian masyarakat, asap adalah rutinitas baru; semata tambahan musim dalam setahun. Ini merupakan bentuk kepasrahan yang membingungkan. Kita terkejut melihat orang-orang berkeliaran di luar seperti hari-hari biasa, duduk meriung di atas kursi plastik, minum anggur beras lokal, dan mengundang Anda bergabung menikmati segelas teh.

Bagi yang lain, situasi ini tetap tidak mudah diterima. Para pengunjuk rasa turun ke jalan dan melontarkan pesan lewat media sosial, menyeru hak atas udara bersih dan langit cerah. “Gerakan Langit Biru” menyeruak di Pekanbaru, ibukota Riau. Sementara di Kalimantan Tengah, protes menuntut perhatian pemerintah pusat dengan kata-kata “Kalimantan Tengah juga Indonesia”

   Para remaja bersantai di luar rumah tanpa takut akan bahaya kabut asap. Björn Vaughn / CIFOR

Banyak pemain

Penelitian menunjukkan bahwa proses konversi lahan gambut  melibatkan beragam kelompok aktor. Mulai dari kebutuhan global terhadap komoditas seperti sawit, hingga aksi tingkat lokal pembakar, aparat penegak hukum, investor hingga petani besar dan kecil, penyebab kebakaran banyak dan bervariasi. Penyederhanaan berlebihan atas masalah tanpa melibatkan beragam kelompok malah akan menurunkan pentingnya menyusun solusi efektif.

   Petani kecil membutuhkan dukungan untuk berlatih memadamkan api di lahan pembukaan gambut bebas kebakaran. Björn Vaughn / CIFOR
   Banyak aktor-aktor yang berkepentingan di dalam konversi lahan gambut. Björn Vaughn / CIFOR
   Kernel-kernel kelapa sawit. Björn Vaughn / CIFOR

Titik masuk perubahan

Penelitian CIFOR menunjukkan bahwa banyak solusi telah diusulkan dan diupayakan, beragam aktor memiliki preferensi masing-masing. Penegakkan hukum diperlukan untuk pemain besar. Sementara petani memerlukan dukungan menemukan alternatif pembakaran sebagai cara membersihkan lahan gambut.

Namun, tetap ada satu area di mana seluruh pemangku kepentingan dapat menemukan kesamaan pijakan: kekhawatiran bersama pada dampak kesehatan masyarakat akibat asap. Dampak kesehatan yang cenderung parah ini, kurang dihitung. Pemerintah mengeluarkan jumlah korban tewas akibat asap beracun tahun lalu sebanyak 19 orang. Sementara para peneliti memperkirakan bahwa asap beracun memicu lebih dari 100.000 kematian dini di wilayah tersebut, termasuk sekitar 90.000 di Indonesia.

Dapatkah kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat menjadi landasan bagi gerakan perubahan?

   Slamet menebar jala menangkap ikan, perusahaan kontruksi tempat ia bekerja tutup akibat kabut asap. Björn Vaughn / CIFOR

Satu tahun berlalu

Setahun setelah kebakaran, tindakan ke arah perubahan dilakukan. Moratorium baru konversi lahan gambut menjadi sawit dibicarakan, Badan Restorasi Gambut (BRG) ditetapkan pada akhir tahun dengan tugas menggenangi kembali dan merestorasi dua juta hektare lahan gambut terdegradasi pada 2020. Berbagai inisiatif dipimpin pemerintah provinsi, masyarakat donor dan sektor swasta dalam menurunkan risiko kebakaran dan mendorong pencegahan kebakaran. Kampanye oleh kelompok advokasi digelar dan dijalankan, dan organisasi mandiri organik mitigasi kebakaran sudah ada di tingkat lokal.

Pembicaraan publik mengenai perlindungan hutan juga mendapatkan momentum. Sebuah pameran foto bertajuk ‘Saya Hutan’ (menampilkan kontribusi dari pemotret sesuai tema) tengah berlangsung di Rungan Sari, wilayah hutan di luar Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah. Bagi sebagian pengunjung, pameran ini mengingatkan kita apa yang masih terisa dan perlu dijaga. Bagi sebagian lain, khususnya anak muda kota, ini menjadi pengenalan dasar kehidupan hutan, mengingat banyak yang tidak sadar apa yang tengah dipertaruhkan.

Dengan meningkatnya penekanan pada kolaborasi dan bergerak melampaui saling tuding, aksi seperti ini dapat berkontribusi untuk perubahan bermakna dan menjamin masa depan bebas-api untuk semua.

   Pelajar mengunjungi pameran foto ‘ Akulah Hutan’ di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Björn Vaughn / CIFOR
   Permainan kata-kata dapat membantu menghubungkan kebutuhan komunikasi bagi para aktor konservasi hutan dan konversi lahan di pameran foto ‘Akulah Hutan’. Björn Vaughn / CIFOR
(Visited 42 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Rachel Carmenta di r.carmenta@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Deforestasi Kebakaran hutan & lahan Gambut dan Mangrove