Analisis

LAPORAN KHUSUS COP22: Langkah Maju di Marrakesh

Ringkasan singkat tentang apa yang terjadi di perundingan iklim global COP22 Maroko.
Bagikan
0
Perundingan iklim Marrakesh penting karena 'buku aturan' untuk pelaksanaan Perjanjian Paris akan diadopsi. UN Photo
Perundingan iklim Marrakesh penting karena ‘buku aturan’ untuk pelaksanaan Perjanjian Paris akan diadopsi. UN Photo

Paling popular

Perundingan iklim di Marrakesh kini memasuki hari-hari akhir dengan sejumlah kesepakatan. Sesi ke-22 Konferensi Para Pihak (COP22) Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa Bangsa (UNFCCC) memasuki minggu kedua, dan beberapa perundingan dipecah sesuai dengan tema dan tujuan spesifiknya.

Apa saja yang telah tersaji di atas meja sepanjang pekan lalu di Maroko, bisa dinikmati di sini.

Mari kita mulai dengan menu alfabetis: Kelompok Kerja Ad Hoc Perjanjian Paris (APA) membahas masalah seperti panduan Komitmen Kontribusi Nasional (NDC), transparansi, serapan global, komunikasi adaptasi, dan kepatuhan.

Badan Penasehat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SBSTA) mendiskusikan masalah teknis terkait mekanisme pendekatan pasar dan non-pasar pada Pasal 6, serta juga pertanian. Pertemuan pertama lembaga permanen baru di bawah Perjanjian Paris – dikenal sebagai CMA – juga dibuka pekan ini.

“BUKU ATURAN” PARIS

Pembukaan CMA adalah perkembangan penting di Marrakesh, karena ini terjadi sebagai hasil dari sangat cepatnya penerapan Perjanjian Paris. Penerapan perjanjian ini bahkan memecahkan rekor. Dan di CMA ini ‘buku aturan’ implementasi Perjanjian Paris akan diadopsi.

Pada COP21 Paris, terdapat serangkaian keputusan yang diharapkan dapat difinalkan untuk diadopsi pada pertemuan pertama CMA, atau dikenal sebagai CMA1. Menyusul penerapan dini perjanjian, CMA1 kini berlangsung lebih cepat dari yang diharapkan.

Jelas sekali, peraturan-peraturan tersebut tidak lengkap dan membutuhkan beberapa tahun untuk berkembang – CMA yang akan dibuka di Marrakesh,  akan menentukan bentuk langkah maju memasuki 2017 dan 2018.

MENYUSUN PETA JALAN BARU

Perundingan-perundingan dalam APA berhasil mengembangkan serangkaian peta jalan dan program kerja, untuk provisi pemasukan laporan THE, meja bundar pakar dan lokakarya berbagai topik.

Beberapa sesi tambahan akan berlangsung di awal 2017 agar upaya teknis terus bergerak. Berbagai program kerja tersebut akan terfokus pada item agenda APA: antara lain panduan mitigasi dan NDC, penghitungan, komunikasi adaptasi, transparansi, dan kepatuhan.

Peta Jalan juga telah disepakati para Pihak. Terjadi pertukaran pandangan yang sangat kaya mengenai substansi pembentuk batang tubuh dalam proses pengembangan sebagai bahan informai perundingan selanjutnya.

Diskusi mengenai mitigasi, komponen laporan dan penghitungan NDC terkait dengan apa yang akan menjadi kontribusi sukarela dan apa yang akan menjadi kontribusi wajib. Akan disusun panduan penghitungan dan integritas lingkutan. Upaya menghindari penghitungan ganda telah ditandai di beberapa area kunci

Dapat saja terjadi perbedaan level panduan penghitungan agar terjadi fleksibilitas sesuai kapasitas negara. Tentu saja, penghitungan NCS harus membangun ruang yang relevan bagi penghitungan pemanfaatan lahan sebagai salah satu masalah utama. Perundingan para pakar akan dilakukan pada 6 Mei 2017, dan hanya diikuti para Pihak, tanpa pemantau.

Diskusi mengenai komunikasi adaptasi sebagai komponen NDC terfokus pada masalah seperti ketepatan waktu komunikasi, tujuan komunikasi, dan bagaimana komunikasi terkait dengan proses lain. Lokakarya pakar akan juga digelar pada 6 Mei setelah pertemuan paruh tahun UNFCCC berbarengan dengan babak pendaftaran topik pada 30 Maret 2017.

Mengenai topik tranparansi, sekali lagi sebuah proses akan dilakukan terkait pelaporan dokumen, laporan teknis dan lokakarya. Jelas bahwa kita membahas transparansi dalam hal ‘aksi’ dan ‘dukungan’. Dokumen laporan awal akan terfokus pada area seperti sistem baru yang dapat dibangun dari sistem yang ada saat ini, dan apa yang benar-benar lebih diperlukan dibanding yang telah ada.

Salah satu pertimbangan penting adalah masalah hutan dan pemanfaatan lahan yang terkait dengan pertimbangan peran sosial dan lingkungan dalam kerangka transparansi baru, mengingat sistem yang ada saat ini terfokus pada pengukuran, pelaporan dan verifikasi (MRV) karbon.

Topik global stocktake (GST) masih dipertentangkan, karena terdapat ketidakpastian bagaimana hasil aktual GST nantinya. Para pihak tetap khawatir hal ini akan menjadi pendekatan atas-ke-bawah yang memaksa negara meningkatkan target mereka.

Hal ini juga terkait dengan Dalog Fasilitatif yang akan dilangsungkan pada 2018. Dialog ini akan menjadi semacam ujicoba bagi GST yang digelar pada 2023. Secara luas sudah diterima bahwa proses ini perlu dirancang untuk menginformasi dan menginspirasi negara-negara meningkatkan tujuan dan menyempurnakan aksi iklim mereka. Meski bagaimana hal ini dilakukan masih menjadi subyek negosiasi.

Menuju Dialog Fasilitatif 2018, negara-negara bisa mengambil manfaat dari laporan khusus mengenai IPCC yang tengah disusun terkait target suhu 1,5 derajat yang disepakati di Paris.

PASAR DAN NON-PASAR

SBSTA melakukan pendekatan yang sangat signifikan terhadap pasar dan non-pasar, serta ‘mekanisme’ baru di bawah Pasal 6 Perjanjian Paris.

Pembahasan Pasal 6 dibagi menjadi tiga arah. Pertama secara lebih luas mengenai mekanisme, kedua, bagaimana hal ini terkait pada pasar, dan ketiga bagaimana kaitan dengan pendekatan non-pasar.

‘Mekanisme’ baru ini dimaksudkan mengambil alih Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) dan apakah perlu melibatkan REDD+ yang masih memiliki ketidakpastian dalam konteks pasar atau non-pasar.

Perdebatan perdagangan karbon hutan terjadi dalam arah pasar, sementara diskusi arah non-pasar bergerak menuju arah bagaimana menjamin pendanaan bagi negara-negara yang tidak mampu atau tidak mau mengakses pasar.

Mempertimbangkan tingkat pertentangan seputar isu pasar dan kompleksitas terkait pencapaian fase pertama REDD+, banyak negara memerlukan pendanaan dari pendekatan non-pasar.

Perlu juga diingatkan bahwa pendekatan gabungan mitigasi-adaptasi REDD+ juga dipandang sebagai pendekatan non-pasar. Hal ini mungkin menjadi salah satu diskusi menarik terkait peran REDD+, khususnya melihat keputusan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) yang juga belum diputuskan untuk memasukkan karbon hutan.

Dana Iklim Hijau (GCF) juga berupaya melengkapi kerangka pembayaran berbasis hasil. Topik apa yang perlu dilakukan dengan kredit REDD+ (jika tersusun) – apakah dihentikan atau dapat diperdagangkan – dipastikan akan muncul dalam pertemuan akhir tahun ini dan awal 2017 mendatang.

Argumentasi perdagangan dan pertukaran karbon masih tetap sama. Mereka yang mendukung pasar terus berpendapat perlunya mengembangkan pendanaan dan menstimulasi sektor swasta menanamkan investasi yang mendukung hutan. Argumen perlawanan tetap berpusat pada kekhawatiran terkait hak, komodifikasi alam dan sekuestrasi non-permanen karbon hutan.

Namun, tidak ada dimensi baru dalam perbedatan di saat kita berhadapan dengan mengecilnya anggaran karbon, target 1,5 derajat dan harapan banyak negara menjaga reduksi emisi mereka sesuai dengan NDC.

Lebih spesifik mengenai REDD+, terdapat forum konsultasi yang digelar GCF dan dihadiri sangat banyak pihak, meski harus berdiri. Hal ini menarik, dengan munculnya contoh langkah maju dari hasil yang dicapai Republik Demokratik Kongo, Brasil, Insiatif Iklim Hutan Internasional Norwegia (NICFI) dan Bank Pembangunan KfW. GCF akan menggelar lokakarya dan konsultasi lebih lanjut untuk mengembangkan sistem pembayaran berbasis hasil mereka.

Bersama dengan seluruh item COP ini, hasil SBSTA akan menjadi prosedural, dengan serangkaian dokumen laporan awal dan lokakarya menuju 2017. Kaitan pada rancangan keputusan SBSTA dapat dilihat di sini (item agenda item 12). Namun, salah satu hasil yang disayangkan adalah larangan pemantau berpartisipasi dalam babak pelaporan dokumen awal.

Terdapat pula item agenda mengenai pertanian dipandang berada di bawah SBSTA. Pada item ini terus terjadi kebuntuan antara negara maju dan negara berkembang terkait pertanyaan peran pertanian dalam mitigasi, serta apa yang perlu dilakukan menyusul tuntasnya program dua tahunan.

Hasilnya adalah terus menggarap topik ini pada pertemuan SBSTA berikut, namun cukup aman menyatakan bahwa prosesnya berjalan di tempat. Lihat item agenda 7.

PERLAHAN DAN PASTI UNTUK MENANG

Secara keseluruhan, konferensi berjalan perlahan dan dibayangi oleh pemilihan presiden AS, yang menciptakan banyak ketidakpastian. Namun, sekaligus membuka peluang bagi negara lain untuk menunjukkan keberhasilan dalam bekerja dan berupaya mengimplementasikan Perjanjian Paris. Banyak negara telah mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tetap berkomitmen terhadap implementasi perjanjian tersebut.

Ketika meningkat pada sesi Tingkat Tinggi yang dihadiri para Menteri dan Pimpinan Negara, harapan yang muncul dari COP22 adalah para pemimpin dunia akan memberi isyarat tegas mengenai keberlanjutan momentum global dalam mengatasi perubahan iklim. Dan kini kita memiliki jalan maju yang jelas dengan kebutuhan semacam peta jalan dalam ‘buku aturan’ implementasi Perjanjian Paris.

(Visited 58 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Stephen Leonard di s.leonard@cgiar.org.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Deforestasi Perubahan Iklim