Video T&J

Nazir Foead: ‘Kata kunci adalah bekerja sama’

Kepala Badan Restorasi Gambut berbicara tentang pentingnya melaksanakan pendekatan alam.
Bagikan
0

Bacaan terkait

Morocco - Nazir Foead adalah kepala Badan Restorasi Gambut (BRG). Badan ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada bulan Januari 2016, dengan tugas memulihkan 2 juta hektar lahan gambut dalam waktu lima tahun. Nazir berbicara di sela-sela Forum Bentang Alam Global di Marrakesh tentang perlunya menerapkan pendekatan bentang alam untuk memulihkan kerusakan lahan gambut di Indonesia.

Apa misi dari Badan Restorasi Gambut?

Setelah kebakaran besar yang terjadi di tahun 2015, kami menyadari bahwa hampir tidak mungkin untuk memadamkan kebakaran di lahan gambut. Jadi strategi terbaik adalah, tentu saja, melakukan pencegahan kebakaran di lokasi-lokasi awal terjadinya kebakaran di lahan gambut. Hal ini juga berarti, harus diakui lahan gambut kami telah mengalami degradasi atau dikeringkan. Sehingga kami perlu mengembalikan fungsi ekologis dan hidrologis gambut untuk tetap basah dan lembab, bahkan selama musim kemaru, agar tidak mudah terbakar. Ini dilakukan untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan. Dan tugas Badan Restorasi Gambut adalah memulihkan lahan gambut kering ini.

Menurut Anda, apakah tugas BRG ini cocok dengan pendekatan bentang alam?

Pertama, kami melihatnya dalam suatu skala – kami melihat apa yang kami sebut ‘hidrologi bentang alam lahan gambut’. Sehingga terlihat seperti DAS, tapi koneksi dari satu bentang alam besar ini adalah ekosistem air di lahan gambut dan lahan non-gambut di sekitarnya, bahkan tanah mineral, yang secara hidrologis dipengaruhi oleh lahan gambut. Dan hal ini adalah suatu bentang alam besar. Saya berpikir bahwa hal ini sesuai dengan inisiatif Bentang Alam Global.

Kedua, saat kami melihat bentang alam besar ini, ratusan ribu hektar, ada berbagai pemangku kepentingan dan juga pemilik tanah – hingga ke pengelola lahan – termasuk pemerintah daerah. Bahkan pemerintah pusat dibagi menjadi beberapa sektor dengan otoritas atas tanah – Kementerian Pertanian, Pekerjaan Umum atau Kementerian Dalam Negeri, serta Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kerja sama adalah kunci. Setiap mitra yang memiliki minat dan program kerja sama di tingkat bentang alam penting untuk bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut.

Nazir Foead, Ketua Badan Restorasi Gambut

Apa yang membuat Anda tertarik hadir di Forum Bentang Alam Global?

Target dua juta hektar memang ambisius. Kami memahami bahwa kata kunci bagi kami untuk keberhasilan mendatang, empat atau lima tahun dari sekarang, yaitu kerjasama. Kami membutuhkan banyak mitra untuk bekerja sama. Jadi setiap mitra yang memiliki minat atau program bekerja sama dari tingkat bentang alam, kami akan melihatnya sebagai pemangku kepentingan yang sangat penting dan mitra untuk bekerja, termasuk Forum Bentang Alam Global.

Bagaimana lembaga riset, seperti CIFOR, dapat membantu mencapai tujuan Anda?

Pertama, dalam merancang kegiatan restorasi, kita perlu ilmu pengetahuan yang sangat kuat. Termasuk pengalaman-pengalaman dan kepimpinan berbasis ilmu pengetahuan. Setelah menerapkan yang saya pikir kami perlu lakukan pemantauan secara konstan, ilmiah dilakukan, dan [bagi para ilmuwan untuk] memberikan masukan jika teknik restorasi dan teknologi perlu meningkatkan, untuk tahun berikutnya dan seterusnya. Kerjasama konstan dengan lembaga penelitian pada bagian evaluasi dan memeriksa bagaimana hal itu mempengaruhi fungsi hidrologi bentang alam, saya pikir, merupakan salah satu isu utama.

Video ini merupakan salah satu rangkaian wawancara Forum Bentang Alam Global 2016: Aksi Iklim untuk Pembangunan Berkelanjutan di Marrakesh, Maroko.

(Visited 158 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Deforestasi Kebakaran hutan & lahan Bentang alam Gambut
Lebih lanjut Deforestasi or Kebakaran hutan & lahan or Bentang alam or Gambut
Lihat semua