Wawancara

Rekomendasi bacaan dari para ilmuwan di awal tahun

Rujukan bacaan menarik berbasis ilmu pengetahuan sebagai referensi di awal tahun.
Bagikan
0
Meluangkan waktu membaca buku di masa liburan. Flickr/Ka Ter Ha

Paling popular

Tahun baru sudah tiba, inilah saatnya menikmati artikel, buku dan film yang dapat menjadi pengetahuan di awal tahun. Kami meminta rekomendasi para ilmuwan CIFOR mengenai rujukan buku-buku menarik sebagai wacana pengetahuan.

Robert Nasi, Wakil Direktur Jendral, Bidang Penelitian

Setelah COP22, Robert Nasi mendalami Perjanjian Paris dan batas 1,5-derajat. Ia menyarankan sederet artikel yang menyoroti topik ini dari perspektif berbeda.

Dalam Nature, artikel Proposal iklim Perjanjian Paris perlu dorongan agar pemanasan global tetap di bawah 2°C menyajikan analisis menarik mengenai Komitmen Kontribusi Nasional (INDC), sekaligus menunjukkan nilai dan tantangan di era baru kebijakan iklim saat ini.

Karakteristik ilmu pengetahuan dan kebijakan target suhu Perjanjian Paris dalam Nature Climate Change menyajikan topik yang sama dengan sudut pandang berbeda, dan menawarkan sebuah agenda untuk ilmu pengetahuan pasca-Paris.

Dalam Current BiologyWarisan lingkungan deforestasi tropis modern memunculkan perspektif ‘tersembunyi’ atau terabaikannya jeda waktu yang mungkin sudah mengacaukan berbagai upaya untuk tetap berada di bawah 2 derajat. Artikel ini menyatakan konservasi saja tidak cukup.

Bimbika Sijapati Basnett, Ilmuwan, Koordinator Jender

Bimbika Basnett merekomendasikan sejumlah karya klasik jender dan kehutanan – seluruh teks penting dalam bidang ini dan merupakan bacaan mendasar bagi siapa pun yang tertarik dengan interaksi dan persimpangan antara jender, kehutanan dan lingkungan.

Karya Bina Agarwal mengenai jender dan tata kelola hijau (yang diawali dari makalahnya pada 2001) ini, menjadi bacaan wajib bagi setiap orang yang ingin mengerti mengapa ketidaksetaraan jender penting bagi hutan dan lingkunga. Agarwal, ekonomis feminis terkemuka meneliti beberapa kelompok pengelola hutan desa di Nepal dan Gujarat yang seringkali disanjung karena berhasil mempersatukan masyarakat dalam mengelola sumber daya dengan sedikit sekali intervensi dari pemerintah atau kekuatan pasar. Agarwal menemukan bahwa perempuan tidak hadir atau sangat terbatas perannya dalam kelompok-kelompok ini, bahkan dalam kasus perempuan lebih bergantung pada hutan dibanding lelaki. Agarwal menunjukkan bagaimana peningkatan partisipasi perempuan dapat memberi hasil positif bagi perempuan maupun hutan, ketika peran penentuan aturan mengenai siapa, kapan dan untuk tujuan apa dalam hal akses hutan lebih dimiliki oleh perempuan.

Namun, Agarwal menyatakan bahwa hanya menambahkan perempuan saja tidak cukup. Perlu ‘massa kritis’ perempuan dalam lembaga pengambilan keputusan dan ketika keputusan penting mengenai hutan dibuat.

Mitos Ibu Bumi dan Fabel Ekofeminis: Kebangkitan dan Kejatuhan Upaya Strategis karya Melissa Leach dalam Development and Change

Makalah ini menyajikan kajian sangat menarik dan kritis mengenai integrasi jender dalam kebijakan lingkungan dan pembangunan, serta intervensi selama beberapa tahun. Artikel ini menuliskan bahwa jender, atau ‘isu perempuan’, pertama kali dibawa dalam agenda lingkungan oleh dua kelompok: ekofeminis yang menyatakan bahwa secara inheren perempuan dekat dengan alam dan memiliki pengetahuan mendalam tentang hutan karena faktor biologis, dan dari sisi Perempuan, Lingkungan dan Pembangunan (WED), yang juga memiliki pandangan serupa bahwa perempuan lebih dekat dengan alam dibanding lelaki. Banyak ilmuwan dan praktisi feminis mengkritisi WED dan ekofeminis dalam beberapa hal, misalnya mengasumsikan bahwa perempuan dan lelaki tidak berubah, dan karena terfokus hanya pada perempuan, tidak pada lelaki.

Pihak lain berpendapat bahwa kebijakan dan intervensi berdasar informasi dari WED/ekofeminis dapat membahayakan perempuan dengan sekadar memasukkan perempuan tanpa menangani masalah mendasar ketidaksetaraan jender, malah akan meningkatkan jumlah perempuan bekerja tanpa dibayar dan memperkuat stereotip jender, selain hal-hal lain. Leach menemukan bahwa secara perlahan kebijakan dan interfensi menjauhi WED dan ‘fabel’ ekofeminis, serta lebih berdasar pada pendekatan hak dan kesadaran politik sebagai momentumnya. Namun, ia mengkhawatirkan bahwa ‘sang bayi dikeluarkan dari bak mandi’ ketika isu jender dikesampingkan. Kebijakan dan intervensi tetap saja tidak sadar jender.

Survei Dunia mengenai peran perempuan dalam pembangunan 2014: Kesetaraan jender dan pembangunan berkelanjutan  oleh Perempuan PBB

Laporan Perempuan PBB ini dipublikasikan sebelum finalisasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), meski kemudian salah satu tujuan didedikasikan pada kesetaraan jender, dan lebih dari apa yang ada dalam Tujuan Pembangunan Milenium. Banyak alasan mengapa laporan ini penting, termasuk topik bahwa kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan merupakan tujuan pembangunan tersendiri yang penting dan bukan hanya karena mereka sangat menentukan pencapaian tujuan lain. Laporan menuliskan bahwa kerja perempuan perlu menjadi bagian dari upaya pengumpulan data dan menawarkan banyak pelajaran untuk proyek penelitian ikrar nol deforestasi/komitmen korporasi serta REDD+.

Feminis dalam Hutan: Pengetahuan Situasional dan Metode Campuran dalam Manajemen Sumber Daya Alam oleh  Andrea Nightingale dalam ACME: E-Jurnal Internasional Geografi Kritis 

Makalah ini terbangun atau terangkai dari kontribusi signifikan ilmuwan dan peneliti feminis terhadap metode dan pengumpulan data ilmu sosial. Nightingale menunjukkan bahwa tidak ada kebenaran objektif bisa didapat melalui pendekatan sepanjang jarak tangan antara peneliti dan objek penelitian. ‘Data’ dihasilkan dari latar belakang, komitmen dan asumsi sosial dan politik peneliti itu sendiri, serta sifat interaksi dengan objek penelitian, apa yang ingin diungkapkan oleh subjek penelitian dan realitas sosio-politis. Ia menyimpulkan agar menghindari mengutamakan satu metodologi tertentu. Dan, menjadi penting untuk menggunakan berbagai metode dalam mengungkap suara yang beragam, plural dan berbeda dari lapangan.

Romain Pirard, Ilmuwan Senior 

Rekomendasi Romain Pirard kembali ke masa silam untuk melihat akar sikap konservasionis dan perhatian lingkungan dalam karya seni. Seluruh pilihannya berasal dari akhir era 1950-an, periode kebangkitan kesadaran terhadap masalah alam liar dan lingkungan di kalangan seniman, sebelum kemudian merasuki masyarakat luas.

Sebuah buku yang cukup mencerahkan, The Roots of Heaven karya Romain Gary dipublikasikan pada 1956. Secara brilian, karya fiksi ini mengungkap kerusakan akibat perburuan gajah di Afrika dan perjuangan seorang idealis yang menghadapi kekuatan lokal dan kolonial dalam misinya. Menghasilkan satu karya novel fiksi pertama mengenai isu ini, Gary merupakan seorang pionir, dan kemudian dikokohkan dalam karya-karya lainnya. Ia menerima penghargaan sastra paling prestisius di Prancis, Prix Concourt.

Untuk pecinta film, The Roots of Heaven diadaptasi dengan nama yang sama untuk layar oleh John Huston pada tahun 1958, dengan Errol Flynn dalam peran utama.

Film Wind Across the Everglades oleh Nicholas Ray dirilis pada tahun yang sama. Ini bercerita meneguhkan dari permainan sipir pertempuran pemburu membanggakan di Florida dan memberikan perspektif yang menarik dan melengkapi perburuan gajah dalam konteks yang sama sekali berbeda (tetapi hanya sebagai sulit).

(Visited 70 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Deforestasi Bentang alam Jender
Lebih lanjut Deforestasi or Bentang alam or Jender
Lihat semua