Karangan Khas

Pilihan Redaksi: Artikel Terbaik 2016

Temukan 5 Artikel Terpilih Kabar Hutan di tahun 2016.
Bagikan
0
Daftar artikel terbaik di tahun 2016. Aris Sanjaya/CIFOR

Paling popular

Indonesia - Pada tahun 2016, penelitian CIFOR menunjukkan bagaimana menempatkan bentang alam dan hutan di kedepan dapat mempromosikan tindakan terpadu dengan hasil yang lebih baik untuk kesejahteraan manusia, ekuitas dan lingkungan.

Di bawah ini adalah daftar artikel terbaik di tahun 2016 mengenai penelitian CIFOR berdasarkan konten terpopuler di Kabar Hutan.

Pertanian perladangan berpindah menciptakan ekosistem alami.

Menurut studi terbaru, bila dilakukan secara benar metode perladangan berpindah ini sesungguhnya menciptakan ekosistem alami dengan keanekaragaman hayati tinggi, kaya dengan cadangan karbon dan resiko erosi tanah yang rendah.

Menurut studi terbaru, bila dilakukan secara benar metode perladangan berpindah ini sesungguhnya menciptakan ekosistem alami dengan keanekaragaman hayati tinggi, kaya dengan cadangan karbon dan resiko erosi tanah yang rendah.

Menjelang UU 23/2014. Apakah efektif menahan laju kerusakan hutan?

Menjelang pelaksanaan UU nomor 23 tahun 2014 tentang alih kewenangan pengelolaan kehutanan dari pemerintah kabupaten ke pemerintah provinsi, kebingungan atas siapa bertanggung jawab terhadap apa di lapangan masih menimbulkan keresahan di daerah.

Ahmad Maryudi, ketua departemen manajemen hutan, fakultas kehutanan universitas Gadjah Mada menerangkan pendapatnya tentang pentingnya untuk tidak menyamaratakan kondisi dan situasi di tiap-tiap daerah. Termasuk opini tentang hal-hal apa saja yang perlu menjadi pertimbangan  dalam pelaksanaan pengelolaan hutan setelah UU 23/2014 ditetapkan.

Benarkah hutan tanaman industri membantu konservasi hutan?

Titik awalnya terdengar cukup masuk akal: dengan menanam pepohonan yang semakin banyak untuk dikelola secara intensif guna mencapai produktivitas lebih tinggi, kita dapat memproduksi cukup kayu untuk mengamankan hutan alam yang masih tersisa. Dengan perkataan lain, dengan mengganti kayu yang berasal dari hutan dengan kayu yang diproduksi dari perkebunan.

Untuk menguji teori ini lebih jauh, kami meninjau bukti dalam suatu  studi yang dipublikasikan baru-baru ini.

Menjawab tantangan REDD+ di Indonesia

Setelah REDD+ disepakati pada Konferensi Iklim Paris, Indonesia melangkah cepat inisiatif ini diterapkan sepenuhnya di lapangan.

Daniel Murdiyarso, ilmuwan utama Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), menyatakan bahwa tantangan masa depan REDD+ adalah seputar tenurial, berupa tenurial lahan, tenurial pohon dan tenurial karbon yang perlu diatasi. “Jika seseorang mengelola lahan, menanam pohon dan memelihara lahan gambut yang bukan miliknya tetapi memberi jasa lingkungan, bagaimana kita dapat mengakui peran dan memberikan penghargaan (atas tindakan) tersebut. Belum ada mekanisme dan terjadi kebingungan di tingkat nasional,” kata Murdiyarso.

Perubahan iklim mempengaruhi fungsi mangrove menahan laju kenaikan permukaan laut

Meski mangrove mempunyai kemampuan bertahan terhadap kenaikan permukaan laut tingkat sedang, namun hasil studi terbaru, diprediksikan hingga akhir abad ini, kelangsungan ekosistem mangrove terancam oleh laju kenaikan permukaan laut.

“Dengan adanya kenaikan permukaan laut tinggi, besar kemungkinan mangrove tepian hanya dapat mengikuti laju derap kenaikan air laut sampai tahun 2055, dan mangrove cekungan di tahun 2070”, ujar Sigit Deni Sasmito.

(Visited 128 times, 1 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Bentang alam Gambut dan Mangrove
Lebih lanjut Bentang alam or Gambut dan Mangrove
Lihat semua