Wawancara

Saatnya menyatukan mitigasi dan adaptasi

Wawancara mengenai penyempurnaan desain proyek perubahan iklim dengan ilmuwan Bruno Locatelli.
Bagikan
0
Anak-anak terpaksa memakai masker karena asap beracun dari kebakaran lahan gambut. Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Hal ini mengingatkan pentingnya mitigasi dan adaptasi harus lebih baik digabungkan dalam kebijakan iklim. Aulia Erlangga/CIFOR

Bacaan terkait

Kita bisa melawan perubahan iklim dengan mitigasi, atau menghadapinya dengan adaptasi. Meskipun merupakan dua sisi mata uang yang sama, sinergi dan konfliknya cenderung diremehkan.

“Akibat dari cara perundingan internasional dan kebijakan nasional memisahkan adaptasi dan mitigasi, dua kubu komunitas praktisnya muncul, dan mereka tidak bicara satu sama lain,” kata Bruno Locatelli, ilmuwan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan CIRAD, lembaga penelitian Prancis yang mengkhususkan diri dalam masalah pertanian dan pembangunan internasional.

“Pemisahan ini juga terjadi di lapangan, karena proyek perlawanan terhadap perubahan iklim cenderung menyesuaikan diri dengan persyaratan donor atau kebijakan, yang umumnya terfokus pada adaptasi atau mitigasi saja.

Kesimpulan ini diambil setelah Locatelli dan rekan-rekannya menganalisis 201 dokumen proyek di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Para peneliti terkejut ketika menemukan 42 persen dokumen proyek mitigasi menyatakan  berkontribusi pada adaptasi, sementara 30 persen dokumen proyek adaptasi menyebut berkontribusi pada mitigasi. Lebih mengejutkan lagi, mereka menemukan, sebagian besar atau seluruh proyek menyebut berpotensi berkontribusi pada tujuan lain.

Locatelli berbicara dengan Kabar Hutan mengenai perlunya mempertemukan keduanya dalam mencapai hasil lebih baik perubahan iklim.

Mengapa strategi mitigasi dan adaptasi perlu digabungkan dalam kebijakan iklim?

Dalam diskusi dan negosiasi perubahan iklim, kita cenderung mengatasi penyebab perubahan iklim (dengan mitigasi) dan konsekuensi bagi masyarakat dan ekosistem (dengan adaptasi) secara terpisah. Secara analitis, hal ini beralasan karena mitigasi dan adaptasi memiliki perbedaan kerangka waktu (jangka panjang vs jangka pendek) dan skala spasial (global vs lokal). Bagi sebagian sektor, ini juga beralasan; misalnya, energi cenderung terfokus pada mitigasi karena besaran emisinya, sementara sektor kesehatan sebagian besar terfokus pada adaptasi karena sensitivitas variasi iklim, misalnya gelombang panas.

Tetapi pada aktivitas lapangan sektor pemanfaatan lahan seperti kehutanan dan pertanian, tidak beralasan untuk memisahkan tujuan adaptasi dan mitigasi karena tata kelola pemanfaatan lahan mempengaruhi jumlah emisi maupun kerentanan ekosistem dan manusia akibat variasi iklim.

Hutan dan pohon menghasilkan beragam jasa ekosistem yang relevan dalam melawan perubahan iklim: menyimpan karbon (mitigasi) dan melindungi masyarakat lokal dari dampak iklim (adaptasi) dengan cara meregulasi air, menghindari kehilangan tanah, melindungi pesisir dari badai, dan membangun keberagaman pencaharian.

Ketika sebuah proyek mitigasi kehutanan (seperti proyek REDD+) ditujukan untuk membangun keragaman pencaharian, maka hal ini dapat menjadi langkah pertama menuju pemikiran bagaimana diversifikasi dapat menurunkan kerentanan atas variasi iklim dan meningkatkan kapasitas adaptif masyarakat.

Kita tidak bisa menyatakan akan menanam satu pohon untuk tujuan adaptasi dan satu pohon lagi untuk tujuan mitigasi. Berfokus hanya pada satu tujuan dan melupakan tujuan lain bisa berbahaya karena ada potensi timbal-balik dan efek merugikan.

Apa contoh dari timbal-balik tersebut?

Misalnya terkait reforestasi. Jika saya ingin memaksimalkan sekuestrasi karbon di wilayah yang menghadapi kelangkaan air, dan saya mengembangkan hutan tanaman industri, menanami spesies pohon cepat tumbuh yang menyerap banyak air, masalah tidak selesai. Memang, saya bisa mencapai tujuan mengatasi perubahan iklim dengan menyerap karbon dari atmosfer, tetapi saya memperburuk masalah air di masyarakat setempat. Masyarakat yang tinggal di hilir bisa mengalami kekurangan air dan jadi lebih rentan terhadap perubahan iklim.

Contoh lain terkait adaptasi pertanian. Misalnya, saya dapat mengurangi kerentanan pertanian terhadap kekeringan dengan melakukan intensifikasi energi untuk irigasi, atau memperbanyak pupuk. Kedua cara ini mempertinggi emisi gas rumah kaca. Tanaman saya jadi tidak rentan perubahan iklim, tetapi saya berkontribusi meningkatkan perubahan iklim global.

Terdengar kontradiktif bukan? Tetapi inilah yang terjadi ketika kita berpikir terlalu sempit mengenai adaptasi atau mitigasi semata.

Saat saya sakit, dokter mencoba mengobati penyebab dan konsekuensi penyakitnya sekaligus. Jika infeksi (penyebab) menimbulkan demam tinggi (konsekuensi), dan dokter memberi saya obat infeksi tetapi malah membuat demam makin tinggi, kita berada dalam situasi serupa saat inisiatif mitigasi berdampak buruk pada adaptasi.

Jika dokter memberi saya obat penurun demam, tetapi memperparah infeksi, kita berada dalam situasi serupa ketika inisiatif adaptasi menimbulkan dampak buruk pada mitigasi. Pada kedua kasus ini, analisis sempit dokter bisa membuat masalah memburuk. Inilah yang dapat terjadi ketika inisiatif perubahan iklim gagal melihat gambaran besarnya.

Jadi, perlukah seluruh proyek dan kebijakan menempatkan adaptasi dan mitigasi secara bersama?

Kita tidak perlu memaksakan integrasi adaptasi dan mitigasi dalam seluruh proyek dan kebijakan. Perencana proyek dan pembuat kebijakan pasti punya alasan tertentu. Tetapi, yang penting mereka harus sadar hal ini dimungkinkan.

Banyak potensi mengintegrasikan adaptasi dan mitigasi di sektor pertanian dan kehutanan dapat diraih tanpa memaksakan perkawinan antara adaptasi dan mitigasi dengan menyiapkan informasi, alat, dan panduan yang tepat bagi perencana proyek atau pengambil kebijakan, selain juga dengan cara memberikan insentif.

Dapatkah dana dan standar internasional membantu proyek menjalin sinergi?

Pengaturan kelembagaan sebagian besar dana iklim internasional tidak menciptakan insentif untuk proyek yang mencoba mensinergikan adaptasi dan mitigasi. Dana internasional dapat memberi lebih banyak informasi dan bantuan teknis, atau memprioritaskan proyek yang mengintegrasikan kedua tujuan, atau menilai biaya dan manfaat terkait salah satu tujuan lain. Misalnya proyek mitigasi yang menghadapi risiko iklim, kemudian memutuskan untuk mengintegrasikan adaptasi.

Ada harapan pengembangan Dana Iklim Hijau dapat diarahkan lebih mempertimbangan sinergi adaptasi dan mitigasi. Organisasi ini dapat menjamin bahwa proyek yang dilakukan menangkap peluang mendapatkan manfaat adaptasi dan mitigasi tanpa harus menambah kerumitan proses dan biaya proyek.

Dana Iklim Hijau bisa menguji pendekatan inovatif dalam mengintegrasikan adaptasi dan mitigasi, serta menstimulasi perubahan pada tingkat nasional di negara penerima dan dalam proyek berskala lokal, serta berkontribusi mengarusutamakan perubahan iklim dalam pembangunan.

Standar internasional juga dapat berperan meningkatkan integrasi adaptasi dan mitigasi. Misalnya, kami lihat dokumen proyek mitigasi yang dikembangkan dalam kerangka kerja Standar Keragaman Hayati Masyarakat Iklim seringkali memaparkan tindakan dan hasil adaptasi, mengingat standar tersebut memberi panduan adaptasi dan persyaratan adaptasi yang perlu ditangani untuk mencapai sertifikasi Tingkat Emas.

Verifikasi implementasi proyek di lapangan bisa membantu kita memahami apakah standar tersebut membuat perbedaan nyata di lapangan, atau apakah hanya sekadar janji manis menambahkan elemen adaptasi dalam dokumen proyek.

(Visited 228 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Bruno Locatelli di B.Locatelli@cgiar.org..
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Perubahan Iklim
Lebih lanjut Perubahan Iklim
Lihat semua