Bagikan
0

Deforestasi adalah salah satu hal paling mengkhawatirkan terkait pemanfaatan lahan dan kehutanan. Sumber daya politik dan keuangan dikerahkan untuk mengurangi kehilangan hutan, sekaligus membangun keseimbangan beragam manfaat bentang alam hutan. Namun, di balik besarnya sorotan pada deforestasi, menjadi agak mengejutkan ketika ternyata kita sulit menjawab pertanyaan sederhana: Berapa juta hektare yang terdeforestasi setiap tahun?

Kemarin, (30/03) saya diundang The Guardian untuk berdiskusi dalam panel ahli bertema Hutan menyedot  gas rumah kaca, bagaimana kita menjaganya? Tujuan tertulis acara ini adalah “mendiskusikan sumber daya yang diperlukan untuk memerangi deforestasi”. Saya pikir ini bagus, berdialog dan berkontribusi memanfaatkan teknologi komunikasi modern, daripada harus bepergian  untuk acara konferensi. Jadi saya menerimanya dengan gembira.

The Guardian menuliskan, latar belakang diskusi panel ini, adalah bahwa “Setiap tahun, 18 juta hektare hutan tropis – seluas Inggris dan Wales – ditebang”. Meski kata “ditebang” merupakan ungkapan ambigu, teks berikutnya menjelaskan bahwa yang didiskusikan adalah deforestasi.

“Ini angka yang menarik,” pikir saya. “Mari kita lihat sumbernya apa.”

Pernyataan itu tertanya ditautkan pada artikel Guardian lain, ditulis John Vidal Januari 2017. “Kita merusak hutan hujan dengan cepat, mereka bisa hilang dalam 100 tahun,” tulis judulnya memperingatkan. Judul yang sangat bisa diperdebatkan, namun tujuan saya adalah menemukan hitungannya. Dan inilah dia: “Setiap tahun sekitar 18 juta hektare hutan – seukuran Inggris dan Wales – tumbang.

Menariknya, tulisan ini merujuk pada seluruh jenis hutan, bukan hanya hutan tropis yang melatarbelakangi acara hari ini. Ini penting,  dan akan kita lihat dalam paparan berikut. Perlu dicatat pula, penggunaan kata “tumbang”, yang sekali lagi, ambigu dalam kaitannya dengan deforestasi. Kata deforestasi dituliskan sebelas kali dalam teks, jadi tidak diragukan lagi bahwa ini lah fokusnya

Artikel Vidal sendiri merujuk pada rilis dari Institut Sumber Daya Dunia (World Resources Institute/WRI), September 2015, terkait laporan statistik tahunan Pemantau Hutan Global (Global Forest Watch/GFW). Rilis ini menyatakan: “Dunia kehilangan lebih dari 18 juta hektare (45 juta akre) tutupan hutan pada 2014, dua kali luas Portugal, menurut data dari Universitas Maryland (UMD) dan Google yang dirilis Global Forest Watch. Data menunjukkan bahwa hutan tropis paling bermasalah, hilang 9,9 juta hektare (24.5 juta akre) tutupan hutan pada 2014 – lebih dari separuh angka total dunia.”

Jadi “hutan” dalam artikel John Vidal aslinya adalah “tutupan hutan” dalam kajian yang ia rujuk. Laporan GFW, menggunakan data UMD, memang adalah laporan hilangnya tutupan pohon. Para ilmuwan sendiri sudah sangat mengetahui, terdapat diskrepansi antara data tutupan pohon yang diambil menggunakan dengan data wilayah hutan yang ditentukan melalui pengukuran pemanfaatan lahan atau tutupan lahan – yang dipaparkan dengan baik oleh WRI di sini. Data kehilangan tutupan pohon GFW tidak seharusnya digunakan menggambarkan deforestasi.

Rilis WRI juga menceritakan pada kita bahwa sekitar separuh kehilangan tutupan hutan (9,9 juta hektare pada 2014) terjadi di wilayah tropis; sisanya terjadi di wilayah hangat dan boreal.

Ternyata pernyataan The Guardian mengenai deforestasi adalah jumlah perkalian dua dari sumber yang berjarak dua klik itu. Apalagi, data ini sejak awal bukan data deforestasi.

The Guardian tidak sendiri dalam hal ini. Saya menelusuri 15 artikel blog Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) mengenai kehutanan dan menemukan tiga angka berbeda yang digunakan untuk deforestasi global tahunan — 18, 15 dan 5,2 juta hektare. Tidak satu pun terkait dengan 7,6 juta yang dikutip dalam laporan Penilaian Sumber Daya Hutan Global (Global Forest Resources Assessments/FRA) terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Mengapa saat ini sulit sekali memberi laporan deforestasi global yang reliabel dan konsisten? Setidaknya ada lima kemungkinan alasan, dan seringkali saling memperkuat satu sama lain.

  1. Ketidaksepakatan dan perbedaan definisi

Selama beberapa dekade, banyak masyarakat sipil menyuarakan klaim bahwa tidak seluruh hutan adalah hutan. Hutan tanaman, khususnya, dikeluarkan dari perspektif ini. Ketidakmauan menerima hutan tanaman menjadi hambatan dalam pemahaman bersama isu ini, dan membuat negosiasi lebih rumit, misalnya dalam REDD+. Lebih jauh lagi, berbagai negara memiliki definisi sendiri yang perlu diselaraskan agar sesuai dengan pelaporan internasional. Yang terakhir, dan mungkin yang paling membuat frustasi, proses dan konvensi internasional mengadopsi beragam definisi pula. Tiap definisi dibela mati-matian oleh birokrasinya masing-masing. Isu terakhir ini telah diatasi melalui inisiatif CPF, namun kemajuannya lambat.

  1. Keterbatasan data dan pengukuran

Ketidakpastian dan diskrepansi juga berasal dari lemahnya pengukuran data. Pencitraan jarak jauh sering diasumsikan menjadi solusi universal kelemahan data, meski konten informasinya dangkal, ambigu dan seringkali tidak bisa dikomparasikan lintas wahana. Pengambilan sampel lapangan memberi kualitas data lebih baik, namun inventarisasi nasional membutuhkan investasi mahal dan lama, selain itu presisi menjadi korban ketika observasinya terbatas.

  1. Maksud politik untuk membesar-besarkan (atau menutupi) masalah

Deforestasi memiliki fokus berorientasi-masalah. Kecenderungan membesar-besarkan masalah, apakah dalam narasi atau dalam pengutipan fakta, tidak sama dan tidak lantas bermanfaat. Begitu pula dengan pemerintah yang bisa memperhalus laporan untuk alasan politis. Dalam FRA 2000, deforestasi di Afrika ditemukan malah dibesar-besarkan akibat satu atau dua faktor. Penyusunan tingkat rujukan hutan nasional untuk REDD+ menjadi proses menarik lain dalam konteks ini.

  1. Variasi metodologi ditambah dengan perbedaan model akademis atau kepemilikan politis

Sementara data UMD memberi data penginderaan jarak jauh  yang telah lama menjadi standar yang hilang, cara ini bukan alat universal dan masih terus berubah. Berbagai kelompok akademisi juga mengembangkan model berdasar data berbeda, sehingga kita pasti memiliki diskrepansi substansial.  Pada 2012, Winrock Internasional dan Pusat Penelitiah Woods Hole dilaporkan melaporkan angka-angka emisi global deforestasi tropis berbeda. Demi kepentingan stabilitas dalam negosiasi REDD+, hasil ini kemudian dikalibrasi — melalui perundingan tersendiri.

  1. Rendahnya kualitas kontrol sumber data dalam publikasi media

Terdapat potensi meningkatkan kualitas berita dan publikasi penelitian. Penelitan dan pelaporan yang lebih baik membantu menghindari jenis kesalahan yang disebutkan di atas.

Kita semua ingin, dan harus, mengurangi deforestasi. Namun ketidakpastian pada tingkat global mempersulit kita untuk mengetahui kemajuan yang telah dibuat, atau di mana letak keberhasilan kita. Akan sangat bermanfaat jika lembaga resmi, khususnya FAO dan mandatnya di bidang ini, menggalang seluruh pemangku kepentingan penilaian hutan untuk membangun konsensus lebih kuat.

Pada akhirnya, kita memiliki tujuan dan misi yang sama untuk membalikkan deforestasi dan mendukung bentang alam hutan yang lestari, menguntungkan dan berkeadilan. Dalam upaya itu, kita seharusnya melakukan upaya ekstra menghindari untuk mengkomunikasikan fakta-fakta berbeda.

*Edit: Sejak publikasi artikel ini, The Guardian telah memperbarui dokumen latar belakang mereka dan saat ini merujuk pada “tutupan pohon” bukan “hutan tropis”.

(Visited 54 times, 3 visits today)
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Deforestasi Perubahan Iklim
Lebih lanjut Deforestasi or Perubahan Iklim
Lihat semua