Berkas Fakta

Di manakah letak gambut?

Potret global menunjukkan posisi lahan gambut yang terancam
Bagikan
0
Hutan gambut di desa Parupuk, Katingan, Kalimantan Tengah. Foto: Nanang Sujana/CIFOR

Paling popular

Congo Basin - Ambil material tanaman busuk, tambahkan air tersumbat dan ekstrak oksigen. Campurkan selama ribuan tahun, dalam pilihan kondisi suhu beku, moderat atau tropis. Hasilnya adalah lahan gambut yang akan tampak basah.

Lahan gambut menutupi sekitar 3-5% dari total permukaan lahan dunia dan sekitar separuh dari total lahan basah dunia. Lahan gambut terentang di berbagai jenis daratan di lebih dari 180 negara – dari wilayah pegunungan tinggi, hutan hujan tropis, hingga ke wilayah sub-artik.

Meski masih belum ada pemetaan lahan gambut global yang  konsisten dan berterima, sejumlah peta berbeda tersedia – termasuk peta dari Program Adaptasi dan Mitigasi Lahan Gambut Lestari dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan sejumlah peta dari penelitian akademis.

Lebih banyak di tempat dingin

Namun, tidak ada pertentangan dalam proporsi umum distribusi global.

“Kita tahu mayoritas lahan gambut dapat ditemukan di iklim lebih dingin, wilayah bersuhu sedang atau boreal,” papar Sufyan Kurnianto, peneliti Doktoral mitra CIFOR. “Penelitian menunjukkan bahwa wilayah non-tropis memiliki lebih dari 90% lahan gambut dunia.”

Di negara dan negara bagian seperti Alaska, Kanada dan Rusia, gambut dapat berada dalam kondisi lingkungan berbeda, termasuk wilayah beku dekat kutub – daratan yang telah membeku setidaknya dua tahun. Kanada sendiri diperkirakan memiliki sekitar sepertiga lahan gambut dunia, menutupi sekitar 14%  wilayah negara tersebut. Lahan gambut juga membentang di negara-negara seperti Irlandia dan Skotlandia di Eropa Barat.

Lahan gambut adalah zona yang umumnya dikenal sebagai rawa lumpur atau rawa biasa. Rawa lumpur adalah area gambut berlumpur yang sumber airnya bergantung dari hujan atau salju. Mereka biasanya terbentuk di atas lapisan batu dan memiliki kandungan nutrisi paling rendah dibanding lahan basah lain. Rawa biasa cenderung lebih cair, air masuk dari sungai atau danau, dan mampu menjadi rumah bagi lebih banyak flora dan fauna.

Lokasi tropis

Iklim tropis menjadi tempat bagi sekitar sepersepuluh lahan gambut dunia. Hutan rawa gambut yang menjadi rumah bagi sejumlah besar kehidupan binatang dan tanaman, dapat ditemukan di sebagian Afrika, Karibia dan Amerika Selatan. Namun, 68% dari total lahan gambut berlokasi di Asia Tenggara. Indonesia adalah negara yang memiliki rawa gambut tropis dan hutan mangrove terbesar di dunia – dengan sekitar 21 juta hektare hutan rawa gambut dan 3 juta hektare mangrove. Separuh dari seluruh hutan rawa gambut tropis dunia dan hampir seperempat hutan mangrove dunia. Meskipun begitu, baru-baru ini lahan gambut tropis terbesar dipetakan berada di Basin Kongo, antara Brazzaville Kongo dan Republik Demokratik Kongo.

“Cagar besar diduga berada di basin Kongo,” kata Kurnianto. “Kini rincian pastinya telah terkonfirmasi setelah bertahun-tahun analisis gambut dan data satelit.”

Lahan gambut dalam bahaya

Lahan gambut memiliki peran sangat penting bagi lingkungan hidp. Tidak hanya memberi penghidupan bagi masyarakat lokal dan melindungi binatang dan tanaman terancam, lahan gambut juga menyimpan sejumlah besar karbon. Lahan gambut menyimpan lebih dari 30% karbon tanah dunia, dua kali lebih banyak dari karbon yang ditemukan di hutan dan empat kali lebih banyak dari karbon atmosfer. Temuan lahan gambut terbaru di Basin Kongo saja diperkirakan menyimpan hampir 30% karbon lahan gambut tropis dunia.

Dengan tingginya kandungan karbon, maka ketika gambut dikeringkan atau dibakar, sejumlah besar karbon dioksida terlepas ke atmosfer. Tidak hanya memicu perubahan iklim, peristiwa seperti ini memicu masalah kesehatan serius pada masyarakat. Menurut Program Lingkungan PBB, kurang dari 0.4% permukaan bumi dibentuk dari pengeringan atau degradasi lahan gambut. Jumlah itu menyumbang 5% total emisi global dari aktivitas langsung manusia.

Pengeringan atau pembakaran gambut dilakukan untuk sejumlah alasan. Di dekat kutub, lapisan es mencair dan menyebabkan gambut mengering. Di Eropa barat 90% gambut sudah hilang akibat digunakan sebagai bahan bakar, dikeringkan untuk kehutanan, dan pembangunan kota.

Di wilayah lain dunia, gambut berada dalam bahaya lebih besar.

“Lahan gambut tropis menghadapi ancaman terbesar,” kata Kurnianto. “Lahan ini terletak di tanah datar yang dapat dengan mudah diakses manusia dan sangat rentan dibangun.”

Banyak lahan gambut, khususnya di Indonesia, dikeringkan, dibersihkan dan dibakar untuk mendirikan perkebunan penghasil minyak sawit dan bubur kertas. Lahan gambut di Malaysia, Sumatera dan Borneo sendiri, lebih dari separuhnya hilang antara 1990 dan 2010 – dari 77% menjadi 36%. Setelah kebakaran besar hutan di Indonesia pada 2015, para peneliti menemukan sebanyak 884 juta ton karbon dioksida terlepas di wilayah tersebut, dengan 97% di antaranya berasal dari Indonesia. Pemanasan global dan fenomena cuaca seperti El Nino juga memberi dampak kekeringan.

Sejumlah inisiatif global, nasional dan lokal dilakukan untuk menghentikan eksploitasi lahan gambut, memetakan eksistensi dan merestorasi lahan gambut sebisa mungkin, antara lain Inisiatif Lahan Gambut Dunia. Pada Mei, para pakar internasional akan berkumpul di Jakarta, Indonesia untuk Forum Bentang Alam Global khusus, bertema Masalah Lahan Gambut.

Seiring dengan berkurangnya wilayah dan jumlah gambut di dunia, tindakan cepat dan terkoordinasi diperlukan untuk menjaga masa depan bentang alam yang unik ini, di semua bentuk dan lokasinya.

(Visited 71 times, 2 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Sofyan Kurnianto di kurnians@oregonstate.edu.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Topik :   Gambut dan Mangrove
Lebih lanjut Gambut dan Mangrove
Lihat semua