Liputan Khusus

Pengembang proyek REDD+ enggan bicara tentang karbon dengan masyarakat lokal, kata para ahli

Tanpa pemahaman masyarakat lokal, kita hanya mendapatkan proyek REDD+ yang didorong oleh kepentingan luar.
Bagikan
0
Desa Pebekel dan Pejarakan. Foto: Aulia Erlangga (CIFOR)
Desa Pebekel dan Pejarakan. Foto: Aulia Erlangga (CIFOR)

Paling popular

South Africa - DURBAN, Afrika Selatan (2 Desember, 2001)_ Banyak pengembang proyek REDD+ merasa enggan memberitahu masyarakat lokal tentang skema karbon hutan global untuk menghindari timbulnya harapan-harapan yang tidak dapat dipenuhi jika pembiayaan jangka panjang ini gagal terwujud, ujar para ahli.

Kecenderungan para pengembang untuk menahan informasi karbon ini dapat dimengerti mengingat adanya ‘kegagapan’ keputusan apakah benar akan ada pembiayaan REDD+ di masa depan, kata Jim Stephenson,  Program Officer Center for People and Forests  (RECOFTC) di suatu kesempatan mata acara konferensi UN climate summit di Durban.

Namun, “bila anda tidak menyebutkan REDD+, lalu bagaimana anda dapat melaksanakan kegiatan FPIC secara penuh?” ujarnya merujuk pada free, prior, and informed consent dari masyarakat lokal.

Para ahli telah menjelaskan bahwa pengakuan terhadap FPIC adalah kunci jaminan sukses proyek-proyek dalam kerangka pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, dikenal sebagai REDD+, suatu skema yang memberikan insentif bagi negara-negara berkembang untuk tetap menjaga hutan mereka. Para negosiator dalam perundingan COP17 saat ini sedang berunding mengenai rincian safeguards guna memastikan hak masyarakat lokal diperhitungkan dalam keputusan-keputusan terkait hutan mereka.

Para pengembang mengatakan mereka berencana akan kembali ke desa-desa dan mendidik masyarakat begitu ada kepastian akan bentuk REDD+, kata Erin Sills, peneliti rekanan senior Center for International Forestry Research (CIFOR), yang tengah melakukan penelitian terkait Global Comparative Study (studi komparatif global) di enam negara.  Hal ini bisa jadi masalah; contohnya, bila proyek-proyek tersebut hampir selesai namun para pengembang kekurangan dana untuk proses konsultasi dan pembayaran karbon, ujarnya lebih lanjut.

Kemungkinan konsekuensi negatif lain yaitu tanpa pemahaman masyarakat lokal tentang REDD+ dan nilai karbon di pohon, mustahil memiliki proyek tapak yang dibangun oleh penduduk hutan, tambah Stephenson. “Anda hanya mendapatkan proyek-proyek REDD+ yang didorong oleh kepentingan luar.”

Sejak REDD+ mendapat perhatian di Konferensi Para Pihak (COP) ke 13 di Bali empat tahun lalu, ratusan proyek percontohan REDD+ telah muncul di seluruh dunia (lihat rujukan peta dengan detil proyek REDD di sini). Proyek-proyek ini merupakan alat pembelajaran dari REDD+ yang paling sukses dilaksanakan di negara-negara berkembang serta memastikan skema karbon hutan siap dilaksanakan secara penuh setelah masyarakat global sepakat tentang apa yang akan terjadi setelah Protokol Kyoto berakhir tahun depan.

Setidaknya dua tahun lalu, para pengembang proyek masih menjelaskan tentang kredit karbon kepada penduduk hutan, kata Stephenson. Namun, masyarakat menjadi tidak sabar menunggu tanpa kepastian akan aliran dana masuk,”Hal itu telah menurunkan antara masyarakat dan pengembang,” katanya lagi. Keengganan pengembang untuk mendidik masyarakat lokal mengenai karbon dan fungsi hutan dalam melawan perubahan iklim juga dapat berarti hilangnya kesempatan belajar tentang cara terbaik untuk menjelaskan istilah akan skema REDD+ yang kompleks dan sukar dipahami orang awam.

Untuk mendapatkan liputan-lipuran lain dari acara, silakan mengunduh dari situs organisasi –organisasi ini

The Center for People and Forests (RECOFTC)

(Visited 72 times, 1 visits today)