Analisis

Menyempitnya lahan pertanian = Meluasnya hutan = Mengurangi keanekaragaman hayati?

Berkurangnya kegiatan pengumpulan hasil hutan, mencerminkan penduduk desa lebih memilih barang-barang modern yang dibeli dari toko.
Bagikan
0
Ladang jagung di Meksiko. Foto oleh Ben Garland/flickr
Ladang jagung di Meksiko. Foto oleh Ben Garland/flickr

Paling popular

Mexico - Oleh Christine Padoch
Direktur Program, Forests and Livelihoods, Center for International Forestry Research

 

Jika pembukaan hutan tropis untuk lahan pertanian/perkebunan merupakan penyebab utama dari penurunan keanekaragaman hayati yang tengah terjadi secara besar-besaran, maka pemikiran konvensional akan meyakinkan kita bahwa mengurangi jumlah lahan pertanian dan mendorong peluasan hutan seharusnya akan membantu menghambat penurunan ini, setidaknya pada tingkat lokal. Namun demikian, artikel yang baru-baru ini ditulis oleh peneliti James P. Robson dan Fikret Berkes dari Universitas Manitoba mengemukakan kemungkinan asumsi ini tidak selalu benar. Artikel mereka yang dipublikasikan dalam jurnal Global Environmental Change berdasarkan  penelitian lapangan di negara bagian Oaxaca di Meksiko, sebuah daerah dengan keanekaragaman biologis maupun budaya yang sangat tinggi. Dua kelompok masyarakat pribumi yang mereka teliti secara mendalam telah kehilangan wilayah pertanian mereka dan memperoleh hutan karena para penghuninya telah meninggalkan lahan dan perkebunan mereka untuk pindah ke kota atau mencari sumber pendapatan di luar pertanian. Namun para penulis berpendapat bahwa kemungkinan wilayah komunitas tersebut mengalami pula berkurangnya keanekaragaman hayati.

Kunci dari paradoks yang muncul ini terletak pada jenis pengelolaan sumber daya yang sebelumnya menjadi tradisi di wilayah tersebut namun saat ini sudah menghilang. Robson dan Berkes mengemukakan bahwa pada masa lalu, pertanian pada dataran tinggi Oaxaca sangat menyebar, berpindah dengan intensitas yang rendah; lahannya sempit dan bersifat sementara, keragaman komoditas pertanian tinggi, dan pertanian dikaitkan dengan ekosistem alam dalam berbagai cara. Berbagai pola ini menyebabkan “adanya keragaman ruang pada struktur dan komposisi hutan, dan menciptakan suatu mosaik keanekaragaman hayati hutan – pertanian yang tinggi”.

Wawancara yang dilakukan para peneliti terhadap penduduk desa menunjukkan bahwa saat ini praktik-praktik tersebut telah berubah dengan cepat. Sekitar 60% lahan pertanian di kedua wilayah masyarakat tersebut telah diabaikan selama 30 – 40 tahun terakhir, mencerminkan penurunan yang sama dengan jumlah penduduk desa. Lahan yang masih digunakan untuk pertanian cenderung mengelompok di sekitar pemukiman, menyebar pada sejumlah kecil zona-zona berdasarkan ketinggian, dan memiliki susunan serta struktur hasil panen yang lebih sederhana. Pemanfaatan nonpertanian atas sumber daya setempat juga mulai menghilang. Berkurangnya kegiatan pengumpulan hasil hutan kayu maupun nonkayu di hutan setempat, mencerminkan semakin banyaknya penduduk desa yang kurang tertarik pada kegiatan fisik yang berat serta lebih memilih barang-barang modern yang dibeli dari toko.

Untuk dapat memahami kompleksitas dan konsekuensi atas perubahan yang saling terkait di Oaxaca – baik secara demografis, ekologis, budaya dan ekonomi – dibutuhkan penelitian yang berkelanjutan. Ketika mereka menghimpun data kualitatif dan kuantitatif yang cukup memadai serta memakai data lapangan mereka sendiri maupun penelitian-penelitian kuantitatif lainnya yang telah selesai dilakukan di daerah lain di bagian selatan Meksiko, Robson dan Berkes menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut perlu dilakukan. Sejauh ini, penelitian mereka tidak memungkinkan untuk melakukan lebih dari “spekulasi” tentang dampak dari pengabaian pertanian terhadap keanekaragaman hayati setempat, meski mereka berspekulasi dengan cara yang sangat informatif. Perpaduan antara data-data kualitatif maupun kuantitatif yang mereka sajikan menunjukkan bahwa “penurunan kegiatan tata guna lahan dapat menyebabkan hilangnya mosaik hutan-pertanian secara bertahap, yang menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati setempat, kendati (atau dikarenakan) meluasnya kembali lahan hutan”. Penurunan ini, yang awalnya nampak bertentangan dengan logika, menurut para penulis dapat disebabkan oleh teramatinya sejumlah perubahan dari pengabaian pertanian yang telah menimbulkan, salah satunya “perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam suksesi ekologi, dalam skala kecil dan dengan dampak akhir”, serta penurunan dalam sistem wanatani.

Sebelum menerapkan pemikiran provokatif ini sebagai suatu perubahan paradoksial yang terjadi di sejumlah pedesaan terpencil, penting diingat bahwa baik pemanfaatan sumber daya berintensitas rendah yang secara tradisional dipraktikkan masyarakat pada penelitian ini, maupun sebagian besar proses menuju pola tersebut, tidak terbatas hanya di dataran tinggi Oaxaca. Urbanisasi yang cepat, sistem pertanian yang disederhanakan dan pengabaian tradisi pemanfaatan sumber daya lokal terjadi di sepanjang daerah tropis berhutan. Oleh karena itu, artikel ini menawarkan sejumlah pembelajaran bagi para pembuat kebijakan tidak hanya di Meksiko. Para pembuat kebijakan konservasi dan pertanian cenderung berasumsi bahwa pertanian adalah musuh dari konservasi (dan sebaliknya). Meskipun terlihat jelas bahwa apapun yang menggusur pertanian dan mendorong meluasnya kembali hutan pasti baik untuk konservasi keanekaragaman hayati. Seperti yang telah dikemukakan oleh contoh ini, kecenderungan tersebut tidak akurat. Interaksi yang telah lama ada antara hutan dan masyarakat hutan yang mengelola mereka sebenarnya sederhana namun baru sedikit dipahami atau dihargai. Ketika interaksi tersebut menghilang, kita dapat memperkirakan bahwa hutan akan berubah dengan cara yang tidak diduga dan mungkin tidak diinginkan. Di sisi lain, penelusuran dan peningkatan pengelolaan berintensitas rendah, dapat menghasilkan keuntungan keanekaragaman hayati yang mengejutkan.

(Visited 452 times, 1 visits today)

Bacaan lebih lanjut

Robson, J.P. and F. Berkes. 2011. Exploring some of the myths of land use change: Can rural to urban migration drive declines in biodiversity? Global Environmental Change 21:844–854.

Topik :   Pertanian ramah hutan Bentang alam