Liputan Khusus

Sisi positif dan negatif hasil perundingan Durban bagi REDD+, opini para ahli

Jika tidak ada kepastian syarat pengurangan emisi dan kerangka kerja internasional, tidak ada kepastian peluang pasar REDD.
Bagikan
0
Foto oleh Ainhoa Goma/Oxfam
Foto oleh Ainhoa Goma/Oxfam

Paling popular

South Africa - DURBAN, Afrika Selatan (14 Desember, 2011)_Hasil negosiasi perubahan iklim PBB di Durban mempunyai arti ganda untuk REDD+:  progress cara penetapan  tingkat emisi referensi, dan progress pendefinisian ukuran pengurangan emisi dari inisiatif kehutanan, di sisi lain juga ada keputusan lemah akan safeguard sosial lingkungan, serta kurangnya kemajuan mengenai sumber pendanaan jangka panjang, demikian dikatakan oleh seorang peneliti perubahan iklim utama CIFOR.

“Kendala teknis REDD bisa kita lihat mulai teratasi, dan keputusan – keputusan hasil perundingan yang mendukung REDD+ semakin kuat berkat bantuan hasil penelitian ilmiah beberapa tahun terakhir. Tetapi, kemajuan ‘politik dibalik uang’ belum terlihat, dan tanpa ini kita tidak bisa bicara lebih lanjut tentang REDD,” kata Louis Verchot, peneliti utama CIFOR.

Erik Solheim, Menteri Lingkungan dan Pembangunan Internasional Norwegia, negara pendonor global utama REDD+, menggambarkan skema konservasi hutan sebagai cerita sukses terbesar di dalam sejarah negosiasi perubahan iklim global, namun ia juga menghimbau negara-negara berusaha “lebih berani” memangkas emisi dan memperlambat perubahan iklim.

Perundingan iklim PBB di Durban kali ini tercatat yang terlama sejak 1995, ditenggarai terjadi karena adanya perselisihan tentang keputusan perpanjangan komitmen Protokol Kyoto. Sementara delegasi perwakilan 194 negara sepakat untuk periode komitmen kedua dimulai tahun 2012, kerangka hukum dan target penurunan emisi terbaru belum ada kata sepakat.

“Jika tidak ada kepastian akan syarat kebutuhan jangka panjang pengurangan emisi dan kerangka kerja internasional pelaksanaan offset, artinya tidak ada kepastian peluang pasar bagi REDD.”

Namun, karena tumbuhnya kepercayaan dalam verifikasi karbon offset, sektor swasta dapat meningkatkan dukungan keuangan mereka untuk program REDD+, ujar Mary Nichols dari California Air Resources Board. Kalifornia baru-baru ini mengesahkan program perlindungan dan perdagangan dimana perusahaan dapat membeli kredit karbon sebagai perimbangan bagian emisi dari luar Amerika mereka serta terbukanya kesempatan pengaliran dana di dalam skema REDD+ di awal 2015.

Di lain hal, terjadi peningkatan jumlah donor baru pendukung REDD+, kata Kenneth Andrasko dari Unit Pembiayaan Karbon (Carbon Finance Unit) Bank Dunia. “Telah terjadi peningkatan kontribusi donor multilateral untuk inisiatif REDD+ …dukungan akan konsep ini semakin luas.”

Fokus negosiasi REDD+ terletak pada empat topik utama: pembiayaan, safeguards, tingkat referensi, dan MRV (pemantauan, pelaporan dan verifikasi) emisi karbon dari kegiatan hutan. Dalam safeguards, kemajuan terjadi di tingkat referensi,  kemajuan MRV sudah tercapai sejak mula perundingan, sementara tentang pembiayaan REDD+ baru diputuskan setelah melewati perundingan alot.

Keputusan pembiayaan REDD+ “relatif biasa saja”

Rancangan teks REDD+ yang diajukan kepada para negosiator minggu lalu oleh satuan tugas ad-hoc UNFCCC untuk Long-term Cooperative Action (LCA), tidak menyebutkan cara pembiayaan, sebaliknya terjadi penundaan keputusan terkait aturan spesifik tentang tata kelola mekanisme, yang akan diputuskan di perundingan iklim berikutnya di Qatar (keputusan LCA tentang pembiayaan COP 17 bisa dibaca di sini).

“Akan ada pengumpulan input mewakili pandangan berbagai pihak, di dalam lokakarya para ahli, hasilnya berupa laporan teknis yang akan diterbitkan oleh Sekretariat UNFCCC, semua dokumen ini akan diserahkan sebelum COP (Konferensi Para Pihak) tahun depan sebagai draft keputusan. Artinya, menunggu satu tahun lagi tanpa kepastian jelas,” kata Verchot.

Sementara rancangan teks pembiayaan REDD+ sudah diterima sejak awal negosiasi, diskusi keputusan tahun depan mengenai dasar pembiayaan yaitu pasar, dana atau kombinasi kemungkinan-kemungkinan, justru akan memperpanjang negosiasi, tambahnya.

Menurut Verchot, akibat tertundanya keputusan tersebut, ia yakin, tahun ini perundingan kurang berupaya keras mengurangi ketidakpastian seputar pasar REDD+. Beberapa pengamat berharap pasar REDD+ akan muncul tahun 2020, katanya menambahkan.

“Percobaan pasar masih akan maju, tapi akan lama bagi kita untuk terus bereksperimen. Kita tahu akan ada semacam syarat pengurangan emisi, jadi diharapkan setidaknya hal ini dapat menyakinkan, namun tetap saja soal pembiayaan bukanlah (hasil) keputusan istimewa dari perundingan ini.”

Sistem MRV yang kuat akan membantu REDD+ dipertimbangkan masuk dalam Mekanisme Pembangunan Bersih

Kemenangan utama REDD+ di Durban yaitu  keputusan kuat tentang referensi tingkat emisi, kata Verchot.

Hal ini dapat membantu REDD+ menjadi mirip dengan CDM, sebuah skema yang memungkinkan proyek-proyek di negara berkembang memperoleh kredit pengurangan emisi, yang dapat digunakan negara-negara industri memenuhi target pengurangan emisinya sesuai amanat Protokol Kyoto.

Meski telah ada kekhawatiran masuknya kredit kehutanan dalam skema perdagangan emisi bisa membanjiri pasar dan kecenderungan negara maju untuk membeli kredit ketimbang berusaha menurunkan emisi mereka, hal tersebut dapat berakibat tersedianya sumber dana kritis bagi para pengembang REDD+ guna membantu skema ini melangkah maju.

Konservasi hutan dan pencegahan deforestasi dari CDM belum tercakup di dalam periode komitmen pertama Kyoto, karena adanya kekhawatiran besar akan upaya pelaksanaan pemantauan. Namun, hal ini diharapkan dapat teratasi oleh pengembangan sistem MRV yang kuat, lanjut Verchot.

“Belum jelas kaitan antara REDD+ dengan Protokol Kyoto, REDD+ bukan bagian CDM; akan tetapi, sistem MRV yang kuat yang telah dicapai dapat membantu mendapatkan akses REDD+ masuk dalam CDM di masa mendatang,” katanya lagi.

Namun, kepastian berlangsungnya diskusi mengenai hal tersebut belum akan dimulai sebelum 2020, tambahnya, karena skema perdagangan emisi Uni Eropa (EU-ETS) – skema perdagangan emisi gas rumah kaca multi nasional dunia terbesar – “tidak akan mempertimbangkan apa-apa tentang REDD sampai tahun 2020”.

“Di tahun 2008 saat Uni Eropa mempertimbangkan perijinan REDD+ masuk ke dalam ETS, terjadi kekhawatiran akan perlunya diskusi-diskusi tentang keabadian pengurangan emisi dari REDD, dan bagaimana mengukur dan melaporkan pengurangan emisi yang dicapai dari sektor kehutanan.”

“Tercapainya keputusan MRV di perundingan Durban, berarti satu langkah maju membuat REDD+ kuat, bagian dari kesepakatan iklim yang lebih menyeluruh,” kata Verchot.

Kemajuan safeguards menunggu “pernyataan kuat”

Florence Daviet dari World Resources Institute (WRI) mengatakan, negosiasi safeguards kalah di dua arena: diskusi teknis tentang panduan pelaporan safeguards, dan di diskusi LCA tentang pembiayaan REDD+ (baca keputusan tentang safeguards dan MRV di sini)

Makna pernyataan tentang bagaimana negara-negara berkembang harus melaporkan pelaksanaan safeguards sosial, lingkungan dan tata kelola telah diperlemah, demikian dikatakan oleh Verchot, seraya menambahkan bahwa hal ini kemungkinan besar atas desakan negara-negara berkembang yang banyak diantaranya tidak punya kapasitas memenuhi persyaratan donor yang rumit dan mahal.

Namun, tidak adanya peraturan pelaporan safeguards yang tegas, justru dapat menjadi penghambat bagi investor yang ingin memastikan berjalannya pemantauan proyek-proyek secara benar dan tidak mengancam hak-hak masyarakat hutan ataupun merusak lingkungan.

“Ada resiko jelas di REDD+, yaitu tanpa kredibilitas sistem safeguards, tidak akan ada dana yang cukup, baik dari sumber publik maupun darii investor swasta,” ujar Nils Hermann Ranum, kepala divisi kebijakan dan kampanye Rainforest Foundation dalam laporan Reuters terbaru.

Sementara negosiasi berakibat minimnya tambahan panduan bagi negara-negara pelaksana safeguards, kaitan antara sumber dengan jenis pembiayaan dan persyaratan safeguards disebutkan dalam keputusan pembiayaan oleh LCA (lihat paragraf 63, 64, 66, dan 67).

“(Makna) bahasa samar-samar, namun pernyataan seperti ini justru menjadikan lebih dekat hubungan antara safeguards dan pembiayaan REDD+ …. (paling tidak) lebih jelas daripada pernyataan dalam perjanjian Cancun,” tambah Daviet.

Namun, pernyataan samar itu juga menawarkan banyak celah karena keputusan lemah tentang safeguards tersebut, Verchot memperingatkan.

“Semua orang pasti berharap akan pernyataan tegas menyangkut kinerja dan ukuran perbaikan bila kinerja tidak sesuai standar.”

Tantangan dan kesempatan REDD+ menuju COP 18

Tantangan terbesar yang akan tetap menghadang REDD+ masih menyangkut masalah pembiayaan, kata Verchot.

“Sampai kita mendapatkan kejelasan tentang bagaimana dana akan mengalir dan besaran pengurangan emisi yang kita ingin capai, akan sangat sulit mewujudkan pelaksanaan REDD+ dalam skala penuh. Ada beberapa negara yang telah siap menuju fase tiga dari pelaksanaan REDD+, sehingga kita perlu memastikan isu ini terus bergulir.”

Tony La Vina, fasilitator  negosiasi REDD+ di Konferensi Para Pihak (COP),  optimis akan masa depan REDD+: “Saat ini kita telah memiliki keputusan tentang safeguards dan MRV …sebuah keputusan yang sangat baik saya rasa, walaupun belum sempurna, namun akan membantu kita maju dalam pelaksanaan REDD di tingkat nasional,  arti sesungguhnya dari (keberhasilan) REDD.”

 

(Visited 233 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi