Berita

Mencontoh orangutan, promosi satwa langka menarik turis dan meningkatkan pendapatan

Prioritas konservasi tidak boleh kalah dari keinginan menarik pendapatan dari turis. Jangan terbalik.
Bagikan
0
Tarsius, monyet langka bermata besar termungil di dunia yang tinggal di Sulawesi. Foto oleh Billy Wirawan
Tarsius, monyet langka bermata besar termungil di dunia yang tinggal di Sulawesi. Foto oleh Billy Wirawan

Paling popular

Indonesia - BOGOR, Indonesia (29 Februari 2012) __Pemerintah daerah dapat mempromosikan satwa langka di wilayahnya untuk menarik wisawatan serta meningkatkan pendapatan dan kesadaran melindungi hutan, mencontoh keberhasilan beberapa propinsi di Kalimantan dan Sumatera yang telah menjadikan daerah konservasi orangutan sebagai tujuan wisata.

“Orangutan berhasil digambarkan sebagai salah satu satwa ‘icon’ Indonesia yang hampir punah,” kata Linda Yuliani, peneliti konservasi di Center for International Forestry Research (CIFOR). Sebenarnya selain orangutan, ekowisata khusus burung cendrawasih di Papua atau tarsius, monyet langka bermata besar termungil di dunia yang dapat memutar kepalanya 180 derajat, di Sulawesi patut mendapat perhatian untuk dikembangkan lebih jauh.

“Pemerintah jangan hanya mempromosikan potensi yang sudah terbukti laku dijual,” kata Linda, menambahkan perlunya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan membantu daerah untuk mengembangkan ekowisata.

Indonesia, pemilik hutan tropis terluas ketiga terbesar di dunia, termasuk dalam kelompok negara-negara yang memiliki keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Potensi ekowisata yang menonjolkan satwa langka, selain mendatangkan pendapatan bagi pengelola daerah konservasi dan masyarakat setempat, juga dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya hutan dan usaha-usaha melindunginya.

Tarian burung cendrawasih merah jantan yang memamerkan keelokan bulunya, sebagai bagian ritual untuk bersaing menarik perhatian burung betina, benar-benar istimewa, kata Yani Saloh, Asisten Staf Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim. “Pengalaman itu akan saya kenang seumur hidup,” tambah Yani, yang mendapat kesempatan menikmati keindahan satwa ini beberapa bulan lalu ketika mengunjungi Raja Ampat, gugus pulau lepas pantai wilayah Kepala Burung, Papua Barat.

Paradisaea rubra, nama ilmiah burung ini, hanya dapat ditemukan di pulau Waigeo, Batanta, Gemien dan Saomek di Raja Ampat. Populasi yang menurun di sebagian pulau-pulau ini membuat IUCN, organisasi yang membuat daftar spesies yang langka dan perlu dilindungi, mengkategorikan satwa ini “hampir terancam”.

Wisata orangutan

“Sejauh ini, wisata orangutan masih berhasil menarik perhatian dunia,” ujar Aldrianto Priadjati, Deputi Direktur Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) di sela-sela workshop “Linking Great Ape Conservation and Poverty Alleviation: Sharing Experience from Africa and Asia” yang diadakan di kampus CIFOR Januari lalu. Jumlah wisatawan yang datang ke Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah, salah satu tempat wisata orangutan yang paling terkenal di Indonesia, telah melonjak empat kali lipat ke 8.420 pengunjung tahun lalu dari 1.997 orang di tahun 2006, menurut data pengelola.

Wisatawan asing masih mendominasi dengan proporsi lebih dari 63 persen total kunjungan tahun lalu. “Turis luar negeri tidak merasa rugi jika tidak melihat orangutan di hutan, sementara kalau orang Indonesia biasanya kecewa,” kata Soewignyo, mantan kepala Balai Taman Nasional Danau Sentarum di Kalimantan Barat. Perbedaan sikap ini juga mungkin dapat menghambat pengembangan ekowisata yang melibatkan satwa liar, yang tidak bisa dipastikan akan ditemui wisatawan dalam kunjungan mereka.

Sebagian pihak telah mengusulkan ekowisata sebagai salah satu alternatif penghidupan masyarakat hutan dalam mekanisme REDD+, yaitu skema global di mana negara maju memberikan kompensasi finansial ke negara berkembang yang melindungi hutannya dari deforestasi dan degradasi. Proyek Hutan Lestari seluas 86.450 hektar di Kehje Sewen, Kalimantan Timur, adalah salah satu contoh proyek percontohan REDD+ di mana RHOI melakukan konservasi orangutan sejalan dengan Konsesi Restorasi Ekosistem hutan tersebut.

Selain memberikan penghasilan untuk komunitas lokal, tiket masuk turis juga dapat membantu menutup  biaya konservasi. Satu orangutan, misalnya, membutuhkan kira-kira 3 juta rupiah per bulan untuk proses rehabilitasi, menurut Borneo Orangutan Survival, yang melakukan kegiatan ini di Kalimantan Tengah.

Terlepas dari iming-iming tambahan pendapatan, perlu disadari bahwa kegiatan ekowisata hanyalah fungsi tambahan dari upaya konservasi. “Jangan terbalik. Prioritas konservasi tidak boleh kalah dari keinginan menarik pendapatan dari turis,” kata Linda, menggarisbawahi pentingnya menyeimbangkan kepentingan semua pihak dalam pelestarian alam.

__________________________________________________________________________________

Lokakarya ini merupakan bagian kedua dari rangkaian bertajuk “Great Apes and Poverty Linkages (Kaitan antara Kera Besar dan Kemiskinan)”, yang diselenggarakan International Institute for Environment and Development (IIED) dengan dukungan dana dari United States Agency for International Development (USAID), United States Fish and Wildlife Service, Great Ape Conservation Fund (USFWS), Arcus Foundation dan Great Apes Survival Partnership (GRASP). CIFOR dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Kementerian Kehutanan Indonesia menjadi tuan rumah acara tersebut.

Kunjungi laman lokakarya ini untuk menyaksikan video presentasi para ahli, membaca cerita-cerita blog dan melihat foto-foto terkait acara dan kunjungan lapangan ke Kalimantan Tengah, Indonesia.

Diedit oleh Leony Aurora

(Visited 161 times, 1 visits today)