Pidato

Sambutan Frances Seymour, Direktur Jenderal CIFOR, saat pidato kebijakan Presiden Indonesia

Tujuan-tujuan global tidak dapat tercapai tanpa melindungi hutan Indonesia.
Bagikan
0
Frances Seymour (kedua dari kanan), direktur jenderal Center for International Forestry Research, menyambut kedatangan Presiden Yudhoyono di kampus CIFOR, Bogor, Jawa Barat, Indonesia, di Rabu, 13 Juni, 2012.
Frances Seymour (kedua dari kanan), direktur jenderal Center for International Forestry Research, menyambut kedatangan Presiden Yudhoyono di kampus CIFOR, Bogor, Jawa Barat, Indonesia, di Rabu, 13 Juni, 2012.

Paling popular

Indonesia - BOGOR, Indonesia (14 Juni, 2012)_Menjadi suatu kebahagiaan bagi saya untuk menyambut Anda di kampus CIFOR.

Tidak ada kehormatan yang lebih besar bagi CIFOR daripada pemilihan lokasi ini oleh Presiden Indonesia untuk menyampaikan pidato kebijakan yang dapat menjadi arahan acara Rio+ 20 di Brasil minggu depan.

Saya mendapat kehormatan ganda, karena ini adalah kedua kalinya saya diundang untuk memperkenalkan Presiden:

Bulan September lalu, dalam peringatan Tahun Hutan Internasional, Presiden menginspirasi kami dengan pidatonya pada Konferensi Forests Indonesia yang diselenggarakan CIFOR di Jakarta, dan pada hari itulah untuk pertama kalinya beliau menyampaikan minat untuk berkunjung ke kampus CIFOR.

Kesempatan ini menandai tonggak-tonggak penting dalam tiga perjalanan yang telah kita lakukan sepanjang 20 tahun terakhir.

Indonesia dan pembangunan berkelanjutan

Tonggak sejarah pertama ialah perjalanan Indonesia dengan komunitas global menuju pembangunan berkelanjutan, dan khususnya, pemanfaatan hutan dunia yang lestari.

Pada minggu ini dua puluh tahun yang lalu, para kepala negara berkumpul di  Rio de Janeiro untuk KTT Bumi yang pertama, di mana mereka mencapai kesepakatan untuk bekerja sama dalam menstabilkan iklim global dan melestarikan keanekaragaman hayati.

Sekarang kita tahu bahwa tujuan-tujuan global tersebut tidak dapat tercapai tanpa melindungi hutan Indonesia, dengan kekayaan karbon baik di atas maupun di bawah permukaan tanah dan kekayaan spesies tanaman dan hewan yang tidak terbanding di dunia ini.

Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa KTT Rio yang pertama juga menghasilkan komitmen awal untuk meningkatkan apa yang kita sekarang sebut sebagai tata kelola lingkungan hidup.

Sekarang kita mengerti bahwa tata kelola yang lebih baik merupakan kunci untuk mencapai berbagai sasaran perlindungan iklim dan pelestarian keanekaragaman hayati.

Prinsip ke-10 dari Deklarasi Rio pada tahun 1992 meminta akses publik ke informasi mengenai lingkungan hidup dan partisipasi publik serta keadilan dalam pengambilan keputusan lingkungan.

Indonesia telah membuat kemajuan yang sangat pesat dalam mewujudkan tujuan-tujuan Prinsip ke-10 selama 20 tahun terakhir, termasuk yang berhubungan dengan pengelolaan hutannya yang sangat luas.

Pada bulan September 2001, Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan tingkat menteri untuk Penegakan Hukum dan Tata Kelola Kehutanan untuk menangani masalah pembalakan liar.

Belum lama berselang, Indonesia menjadi negara pertama di Asia yang menegosiasikan Voluntary Partnership Agreement (VPA), atau kesepakatan kemitraan sukarela, dengan Uni Eropa untuk memastikan bahwa kayu untuk ekspor berasal dari sumber-sumber legal.

Sekitar setahun yang lalu, instruksi Presiden yang menetapkan moratorium konsesi hutan baru menjadi katalis sebuah proses yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni membuat peta-peta moratorium dapat diakses publik.

Moratorium tersebut telah mendorong dialog lintas kementerian, sektor-sektor ekonomi, tingkat pemerintah dan berbagai kelompok pemangku kepentingan mengenai bagaimana menyeimbangkan berbagai tuntutan akan wilayah hutan yang masih tersisa.

Dialog juga sedang terjadi di antara kelompok-kelompok masyarakat adat, Kementerian Kehutanan, dan para pemangku kepentingan lainnnya mengenai bagaimana menyelesaikan konflik-konflik tenurial lahan hutan yang sudah berlangsung lama.

Jelas, Indonesia menunjukkan kepemimpinan dalam menangani masalah-masalah tata kelola hutan yang rumit menuju pembangunan berkelanjutan.

Kemarin kami mendengar mengenai berpulangnya Elinor Ostrom, seorang sahabat CIFOR yang memenangkan Hadiah Nobel dalam bidang Ekonomi pada tahun 2009 untuk penelitiannya mengenai tata kelola sumber daya alam.

Tepatlah bila kita berdiam diri sejenak pada kesempatan ini untuk mengenang jasanya.

CIFOR dan Indonesia

Perjalanan kedua yang menandai tonggak sejarah 20 tahun adalah dalam kemitraan CIFOR dengan negara tuan rumahnya, Indonesia.

Dua dekade yang lampau, sekelompok negara dan pihak yang bekerja di CGIAR menyimpulkan bahwa dunia memerlukan pusat keunggulan penelitian kehutanan berskala global.

Sekelompok individu yang bertekad sangat kuat di Indonesia memutuskan untuk berkompetisi untuk menjadi negara tuan rumah pusat tersebut, dan mereka berhasil.

Pada tahun 1993, almarhum Ali Alatas menandatangani kesepakatan internasional tentang pendirian Center for International Forestry Research dengan Indonesia sebagai kantor pusatnya.

Tahun depan akan menandai peringatan hari jadi CIFOR yang ke-20.

CIFOR telah berkembang dari sebuah kelompok kecil peneliti di Bogor menjadi hampir 200 orang staf yang bekerja dengan ratusan mitra hutan-hutan lembap dan kering di Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Walaupun mandat CIFOR bersifat global, Indonesia selalu menikmati bagian penelitian kami yang lebih dari yang lain.

Para peneliti CIFOR telah menghasilkan perpustakaan yang penuh dengan ilmu pengetahuan – pengetahuan mengenai berharganya barang dan jasa yang disediakan hutan Indonesia dan pentingnya hutan terhadap penghidupan perdesaan.

Sebagai contoh, CIFOR telah bekerja sama dengan Litbang Kehutanan dalam beberapa studi yang dirancang untuk meningkatkan hasil ekonomi produsen kayu dan mebel berskala kecil.

Para ilmuwan CIFOR juga bekerja dengan Litbang Kehutanan, LIPI, dan berbagai universitas Indonesia untuk mengukur stok karbon di ekosistem hutan lahan basah – termasuk lahan gambut dan mangrove.

Dan kami menemukan bahwa ekosistem-ekosistem ini bahkan lebih penting lagi dalam hal penyimpanan karbon daripada yang dipahami sebelumnya.

Penelitan CIFOR juga telah menunjukkan bagaimana kekayaan hutan Indonesia terkadang dimanfaatkan secara berlebihan, dan kami telah menganalisa penyebab mendasar deforestasi dan degradasi hutan.

Terkadang, temuan-temuan penelitian CIFOR dengan topik seperti pembalakan liar dan korupsi terasa janggal bagi pemerintah tuan rumah kita.

Tetapi kebebasan CIFOR tetap dihormati – sesuatu yang sangat kita hargai dari Indonesia – dan bahkan temuan-temuan penting sering ditanggapi pemerintah sebagai masukan yang membangun untuk perubahan ke arah yang lebih baik.

Kita juga telah berinvestasi dalam pembangunan kapasitas dan komunikasi.

Situs web berbahasa Indonesia mengenai REDD+ yang kami kelola bersama dengan Kementerian Kehutanan telah menghasilkan lebih dari 26,000 unduhan publikasi dalam Bahasa Indonesia dalam tahun pertama beroperasi.

Selain itu, kami telah berupaya untuk mendukung penyebaran temuan-temuan penelitian di Indonesia dengan negara-negara berhutan lainnya serta mengimpor berbagai pelajaran dari tempat lain untuk memperbaiki pengelolaan hutan di sini.

Salah satu contohnya, tahun lalu kami menjadi tuan rumah dari Pertukaran Selatan-Selatan mengenai pengelolaan dampak sosial dan ekonomi pengembangan kelapa sawit.

Kami sangat berterima kasih atas dukungan pemerintah untuk CIFOR, tidak hanya untuk pembangunan kampus yang indah ini di bawah arahan mantan Menteri Kehutanan Djamaluddin Suryohadikusumo.

Kami telah bekerja keras untuk menjadi penjaga yang baik untuk fasilitas ini, yang kami gunakan bersama dengan World Agroforestry Centre.

Kami menantikan perayaan hari jadi CIFOR yang ke-20 dengan tuan rumah kita tahun depan –kita telah berjalan jauh bersama-sama.

Indonesia dan saya

Tonggak sejarah 20 tahun yang ketiga adalah perjalanan saya sendiri.

Dua puluh tahun lalu, saya menyelesaikan penugasan saya yang pertama di Indonesia. Saya datang waktu itu ke sini dengan Ford Foundation untuk mendukung sebuah program hibah yang berfokus pada “kehutanan sosial”.

Ketika saya tiba pada tahun 1987, hanya sedikit orang asing berada di ruangan-ruangan Manggala Wanabakti dan gagasan pengelolaan hutan bersama dengan komunitas lokal masih dianggap sangat baru.

Tetapi gagasan tersebut telah bergerak maju selama dua puluh lima tahun terakhir — dengan berbagai cara yang tidak terbayangkan pada saat itu — menuju pewujudan sebuah visi pengelolaan hutan Indonesia yang lebih lestari dan inklusif.

Banyak dari rekan-rekan berusia 20-an yang bekerja sama dengan saya pada saat itu telah naik menjadi penasihat Kepresidenan, pimpinan lembaga kehutanan, dan tokoh masyarakat yang terkemuka.

Selama masa kerja saya di CIFOR, saya mendapatkan kehormatan untuk dapat memperluas hubungan tersebut dengan mitra-mitra sepemikiran di sini dan di seluruh dunia yang sama seperti kami berkomitmen untuk pengelolaan hutan secara setara, meningkatkan kesejahteraan manusia, dan melestarikan lingkungan hidup.

Sekarang tiba saatnya bagi saya untuk pulang kampung.

Suami saya dan saya akan kembali ke Amerika Serikat bulan depan, dan Direktur Jenderal CIFOR yang baru akan menempati posisi ini pada bulan September.

Namun sebelum kami pulang, tidak ada kehormatan yang lebih besar dari kesempatan untuk, atas nama dewan dan staf CIFOR, menyambut Presiden Indonesia di kampus kami.

Presiden Yudhoyono,

Setiap orang yang hadir di sini sangat menghargai komitmen pribadi Anda untuk melindungi hutan Indonesia sebagai warisan bagi cucu-cucu Anda, bangsa Anda, dan planet kita.

Kami melihat bahwa Anda telah mengambil risiko politik dengan melangkah maju sebagai kepala negara pertama yang membuat komitmen sukarela untuk mengurangi emisi, dengan berbagai target ambisius yang hanya dapat dicapai dengan mengurangi deforestasi dan degradasi hutan.

Kami mengagumi keberanian Anda dalam menandatangani LoI mengenai REDD+ dengan Pemerintah Norwegia dan memberlakukan moratorium ijin pembukaan hutan baru.

Kami terinspirasi oleh pidato Anda dalam Konferensi Forests Indonesia bulan September yang lalu yang mendedikasikan masa kepresidenan Anda untuk mengamankan masa depan hutan Indonesia.

Kami menantikan untuk dapat mendengarkan pidato kebijakan Anda.

Klik di sini untuk naskah pidato Presiden

Klik di sini untuk foto-foto kunjungan Presiden di CIFOR.

Center for International Forestry Research (CIFOR) memajukan kesejahteraan manusia, konservasi lingkungan dan kesetaraan melalui penelitian yang berorientasi pada kebijakan dan praktik kehutanan di negara berkembang. CIFOR membantu memastikan bahwa pembuatan keputusan yang mempengaruhi hutan didasarkan pada sains yang kuat dan prinsip tata kelola yang baik serta mencerminkan perspektif negara berkembang dan masyarakat sekitar hutan. CIFOR merupakan salah satu di antara 15 pusat penelitian dalam Konsorsium CGIAR.

 

(Visited 168 times, 2 visits today)
Topik :   Deforestasi