Bagikan
0

Apa kesamaan berang-berang berkumis, harimau Sumatera dan Tapir Melayu punggung putih? Mereka bukan hanya sama sebagai binatang terlangka di bumi,  tetapi juga sama-sama mengisi sebagian besar harinya menjelajah lahan gambut.

“Perbincangan mengenai perlindungan lahan gambut cenderung fokus pada simpanan karbon yang bisa terlepas ke atmosfer dan menyebabkan perubahan iklim”, kata Sofyan Kurnianto, a peneliti  partner dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

“Namun, lahan gambut juga merupakan lokasi penting keragaman hayati dan memberi jasa ekosistem yang sangat kita perlukan untuk melindungi binatang dan tanaman yang hidup di sana.”

Flora dan fauna yang hidup di gambut sangat beragam seperti lahan gambut itu sendiri. Sebagian besar bergantung pada keberadaan gambut, selain juga jumlah tutupan hutan dan faktor lain seperti nutrisi dalam ekosistem dan keberadaan kolam air.

Kerajaan binatang

Di lahan gambut non-tropis, di wilayah suhu sedang dan boreal ke arah kutub, binatang seperti rusa, beruang hitam, serigala dan rusa kutub menjelajah mencari makanan. Meski tidak ditemukan banyak jenis ikan di air lahan gambut negara seperti Canada, berbagai jenis burung, mulai dari unggas air, burung berkicau hingga burung predator melimpah, dan menjadi perhentian rute migrasi. Di tempat lain, binatang kecil seperti tikus dan tupai dapat ditemukan, selain juga beragam serangga seperti kupu-kupu, laba-laba, nyamuk, dan penghuni air lain seperti berang-berang, kadal air dan kodok.

Lahan gambut tropis sangat kaya ikan air tawar – termasuk ikan terkecil di dunia, peadocypris progenetica. Lahan ini juga menjadi rumah bagi berbagai spesies terancam punah seperti orangutan, badak, macan kumbang Sunda, harimau Sumatera, Tapir, biawak, bangau, bebek sayap putih dan kura-kura air tawar. Inventarisasi di hutan rawa gambut tropis menemukan sebanyak 45% mamalia dan 33% burung yang teridentifikasi termasuk dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN) dalam status terancam, rentan atau terancam punah.

Vegetasi inventif

Tanaman dipaksa beradaptasi.

“Lahan gambut umumnya ditandai dengan air dan tanah asam di lokasi lahan gambut yang kadar oksigennya rendah dan nutrisinya sedikit,” kata Kurnianto. “Memang tidak selalu menjadi lingkungan yang menarik.”

Lumut spagnum keras menjadi pemandangan umum di lahan gambut non-tropis – dengan tanaman rempah, pakis dan rerumputan tumbuh di rawa dan semak berair seperti pohon salam. Beberapa jenis tanaman memilih lebih berpetualang untuk bertahan hidup. Rhododendrons dan anggrek bersimbisosis dengan jamur – micorrhizae – pada akar mereka untuk mendapat nutrisi tambahan. Pilihan lain adalah gaya hidup karnivora. Tanaman kantung semar dan sundew menangkap serangga kecil untuk mengganti nutrisi tanah yang kurang.

Di tropis, sejumlah anggrek, tanaman obat dan penjebak serangga seperti tanaman kantung semar menemukan tempat di hutan gambut dan mangrove. Bahkan hutan rawa gambut menyimpan keragaman tanaman terkaya di antara seluruh lahan gambut dunia – dengan lebih dari sepersepuluh tanaman tercatat hanya hidup di habitat tersebut. Sebagian tanaman tersebut berbentuk pohon – termasuk varietas tropis raksasa seperti Meranti, Ramin dan Kayu Ulin.

Lahan gambut terancam

Sayangnya, seiring membesarnya tekanan dan ancaman terhadap lahan gambut di seluruh dunia, terancam pula keragaman hayatinya. Lahan gambut Utara dan wilayah beku mengalami perubahan seiring pemanasan global akibat perubahan iklim, sementara banyak negara di Eropa Barat melakukan eksploitasi berlebihan atas gambut  tersisa. Di wilayah tropis seperti Indonesia, sebagian lahan gambut hilang bersama dengan pengeringan, penebangan, pembakaran dan konversi menjadi perkebunan skala besar, seperti sawit.

“Rumah bagi spesies terancam punah telah dirusak,” kata Kurnianto. “Banyak binatang terbunuh ketika kebakaran, makanan mereka diambil, atau mereka diusir dengan asap untuk melakukan perjalanan berbahaya mencari habitat baru.

Akibat kerusakan hutan rawa gambut tropis, saat ini hanya tersisa 400 harimau Sumatera yang hidup liar. Jumlah orang utan Sumatera turun 80% dalam 75 taun terakhir. Sebagai binatang yang sangat aktif, orangutan membutuhkan wilayah hutan yang luas sebagai habitat. Saat kebakaran, betina, yang cenderung bertahan di sarangnya, menjadi korban. Begitu pula, demi rasa aman, orang utan berisiko ditembak oleh manusia yang menganggap mereka sebagai hama.

Proyek restorasi lahan gambut dan pencegahan terlepasnya karbon makin dituntut untuk melibatkan komponen keragaman hayati – yang fokus mengembalikan kehidupan tanaman dan binatang.

“Setiap proyek restorasi gambut tropis setidaknya harus memiliki dua elemen dasar: membasahi kembali lahan dan revegetasi spesies endemik,” kata Kurnianto. “Di Indonesia kami biasanya menanami kembali dengan sawit sagu atau jelutung.”

Beberapa proyek menunjukkan bahwa menanami vegetasi asli di lahan gambut terdegradasi menjadi cara mengembangkan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Upaya itu juga menjaga kesehatan lahan gambut, melindungi tanaman lokal dan menyediakan pangan dan habitat untuk binatang.

Bagaimanapun, menyeimbangkan konservasi lahan gambut dan pembangunan bukan hal yang mudah. Banyak masyarakat memberi nilai lebih pada manfaat ekonomi dengan membakar lahan gambut untuk kepentingan pertanian. Tarik menarik ini akan didiskusikan pada Forum Bentang Alam Global: Masalah Lahan Gambut pada Mei ini di Jakarta.

Ketika tutupan hutan menurun, ratusan ribu binatang dan tanaman di lahan gambut makin terancam, konsensus segera bisa menyelamatkan kehidupan.

(Visited 53 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Sofyan Kurnianto di kurnians@oregonstate.edu.
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Topik :   Lahan Gambut
Lebih lanjut Lahan Gambut
Lihat semua