Liputan Acara

‘Emas hitam’ bagi mitigasi iklim

Mengukur kekayaan stok karbon dalam lahan gambut.
Bagikan
0
Ilmuwan CIFOR Daniel Murdiyarso, kiri, berbicara pada diskusi panel “Emas hitam bagi mitigasi iklim? Penemuan kembali stok karbon di lahan basah dan lahan gambut tropis” pada acara Global Landscapes Forum: Peatlands Mattter, 18 Mei 2017 di Jakarta. CIFOR

Bacaan terkait

Indonesia - Alat baru dan temuan-temuan baru secara drastis mengubah pengetahuan kita mengenai lahan gambut. Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan sebuah wilayah luas lahan gambut di tengah Afrika dan Amerika Selatan yang tidak diketahui sebelumnya – dan dalam luas yang mengejutkan.

Sebuah peta baru yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) menunjukkan keberadaan gambut di wilayah tropis lebih dari estimasi sebelumnya – dengan total luas sekitar 1,7 juta kilometer persegi.

Penelitian tambahan yang dipublikasikan tahun ini mengungkap sebanyak 30 miliar ton karbon tersimpan dalam lahan gambut Cuvette Centrale yang terentang di Republik Kongo dan Republik Demokratik Kongo. Bandingkan dengan estimasi 10 miliar ton emisi karbon dunia tiap tahun.

Rawa gambut hanya menutupi sekitar empat persen Basin Kongo – namun menyimpan karbon dalam tanah rawa dan seluruh pepohonan di gabungan permukaan dua Basin Kongo tersebut. Kedua negara bisa memanfaatkan temuan baru ini sebagai peluang membantu memecahkan masalah iklim global.

Dengan angka terbaru ini, kedua negara perlu bergerak cepat melindungi stok karbon berharga tersebut. Demikian dikatakan para panelis Global Landscapes Forum: Peatlands Matter di Jakarta, 18 Mei lalu.

Forum  diskusi ilmiah, bertajuk Menemukan kembali stok karbon pada lahan basah dan lahan gambut tropis, diselenggarakan dan dimoderasi oleh CIFOR, menampilkan panelis dari Badan Restorasi Gambut serta UN Environment. Para panelis mendiskusikan alat terbaru dalam  mengidentifikasi dan melokalisir lahan basah dan lahan gambut, serta mengungkap bagaimana para ilmuwan memanfaatkannya untuk menilai ulang stok karbon.

BENCANA IKLIM?

Namun akankah temuan baru gambut di Basin Kongo menjadi anugerah atau beban bagi mitigasi perubahan iklim global? Jawabannya bergantung pada apa yang terjadi selanjutnya, kata panelis Lera Miles, Pejabat Senior Program Pusat Pemantauan Konservasi Dunia UN Environment.

“Kita perlu menjamin temuan ini bukan menjadi ancaman,” katanya. “Ini saatnya proaktif, dan berpikir mengenai apa yang bisa kita lakukan untuk menjamin pemanfaatan sumber daya ini berkelanjutan. Dari perspektif karbon, hal pertama yang akan dilakukan adalah menjaga agar tidak dikeringkan.”

Ketika lahan gambut dikeringkan dan mengering, materi organik yang tersimpan akan terekspos ke udara, dan sejumlah besar karbondioksida diemisikan ke atmosfer. Tanah gambut kering juga sangat rentan terhadap kebakaran.

Selain mengikuti Global Landscapes Forum: Peatlands Matter, Miles berada di Jakarta juga untuk pertemuan Inisiatif Lahan Gambut Global, bersama para pengambil kebijakan dari Republik Kongo dan Republik Demokratik Kongo. Rombongan tersebut juga melakukan kunjungan lapangan ke Riau, Sumatera, untuk melihat langsung upaya Indonesia membasahi kembali dan merestorasi lahan gambut yang telah rusak akibat deforestasi dan budi daya sawit.

“Restorasi jauh lebih intensif dan membutuhkan banyak sumber daya dibanding konservasi sedari awal,” kata Miles. “Kini kita tahu bahwa mengeringkan lahan gambut bertentangan dengan keberlanjutan, karena risiko kebakaran, masalah kesehatan regional, dan kerusakan tanah itu sendiri membuatnya nyaris tidak mungkin menumbuhkan apapun.”

“Dan jelas akan menjadi bencana bagi iklim global jika degradasi meluas di wilayah lahan gambut yang baru ditemukan di Afrika tengah.”

Hal ini berarti bahwa negara-negara tropis membutuhkan dukungan internasional dalam merencanakan dan mendanai kebijakan perlundungan serta menjamin wilayah ini dibangun secara lestari.

“Tidak adil sekadar berharap negara-negara itu menanggung bebannya sendiri,” katanya.

PETA AJAIB

Namun, Christopher Martius, ilmuwan senior CIFOR yang menjadi moderator panel mengingatkan, kesadaran internasional mengenai pentingnya lahan gambut bagi perubahan iklim masih minim.

Martius menganalisis rencana berbagai negara untuk UNFCCC mengenai bagaimana mereka akan menurunkan emisi karbon. Dari 139 ‘Komitmen Kontribusi Nasional’ (NDC) yang telah didaftarkan, terdapat 68 yang menyebut ‘hutan’ dan 18 menyebut ‘mangrove’. Namun, tidak satupun menyebut ‘lahan gambut’.

“Ini berarti bahwa kita perlu lebih berupaya memajukan lahan gambut ke dalam kesadaran pengambil kebijakan,” kata Martius. “Lahan gambut cenderung implisit ketika berbagai negara membicarakan pemanfaatan lahan. Padahal penting sekali memberi perhatian lebih pada ekosistem tinggi karbon ini.”

Ilmuwan utama CIFOR, Daniel Murdiyarso menyatakan pada audiens, bahwa lahan basah dan lahan gambut seharusnya menjadi agenda pertemuan tahunan UNFCCC, dan negara-negara memasukkannya dalam NDC secara eksplisit.

“NDC adalah dokumen hidup, sejalan dengan peta baru yang kita hasilkan,” kata Murdiyarso.

Peta baru CIFOR, katanya, dapat menunjukkan sejumlah lahan gambut global yang dapat membantu proses ini. Peta ini tersedia gratis dan interaktif. Komunitas ilmiah dan kebijakan dapat membantu membuatnya lebih akurat.

“Ini bukan milik kami, peta ini milik Anda dan terbuka bagi publik,” kata Murdiyarso. “Kami membutuhkan pengetahuan Anda untuk menyempurnakan peta interaktif – yang akan membuat peta lebih meyakinkan bagi pemerintah, masyarakat dan praktisi.”

Para pengambil kebijakan, kata Murdiyarso sudah dapat memanfaatkan peta untuk melokalisir aset karbon, dan merencanakan bagaimana melindungi dan mengelola lahan basah dan lahan gambut secara bijak.

SAATNYA BERTINDAK

Pada panel, Miles menyatakan bahwa Inisiatif Lahan Gambut Global tengah melakukan penilaian respon cepat sumber daya gambut global untuk membantu meningkatkan perhatian global terhadap isu ini.

Informasi lebih, lanjut Miles, diperlukan untuk mengkonfirmasi luasan lahan gambut. Lebih dari itu, estimasi lebih akurat stok karbon diperlukan dalam menemukan seberapa dalam dan seberapa padat gambut tersebut. Namun, menentukan wilayah dan distribusi gambut, kata Miles, adalah prioritas utama.

“Jika mulai terdegradasi, apakah dengan kedalaman dua meter atau lima meter, Anda akan mendapat emisi emisi gas rumah kaca tahunan yang signifikan.”

Miles menegaskan, negara-negara perlu bertindak sekarang dalam melindungi wilayah gambut.

“Kita tidak harus menunggu informasi lebih dari lapangan sebelum mulai menempatkan isu ini secara serius.”

“Bahkan jika kita memerlukan informasi lebih presisi mengenai sebaran rawa gambut untuk tujuan rencana tata ruang, kita tidak perlu menunggu untuk mengidentifikasi bagaimana pengembangan wilayah ini dapat dicapai dengan tetap menjaga nilai ekosistem dan jasanya – bukan hanya stok karbonnya.”

To view the full map, click here
(Visited 42 times, 1 visits today)
Informasi lebih lanjut tentang topik ini hubungi Daniel Murdiyarso di d.murdiyarso@cgiar.org atau Christopher Martius di c.martius@cgiar.org..
Riset ini merupakan bagian dari penelitian CGIAR tentang Hutan, Pepohonan dan Agroforestri.
Kebijakan Hak Cipta:
Kami persilahkan Anda untuk berbagi konten dari Berita Hutan, berlaku dalam kebijakan Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0). Peraturan ini mengijinkan Anda mendistribusikan ulang materi dari Kabar Hutan untuk tujuan non-komersial. Sebaliknya, Anda diharuskan memberi kredit kepada Kabar Hutan sesuai dan link ke konten Kabar Hutan yang asli, memberitahu jika dilakukan perubahan, termasuk menyebarluaskan kontribusi Anda dengan lisensi Creative Commons yang sama. Anda harus memberi tahu Kabar Hutan jika Anda mengirim ulang, mencetak ulang atau menggunakan kembali materi kami dengan menghubungi forestsnews@cgiar.org
Topik :   Deforestasi Perubahan Iklim Kebakaran hutan & lahan Bentang alam Lahan Gambut
Lebih lanjut Deforestasi or Perubahan Iklim or Kebakaran hutan & lahan or Bentang alam or Lahan Gambut
Lihat semua